
Satu bulan berlalu, keadaan benar-benar terbalik. Danesh sungguh menepati ancamannya saat dirinya diinjak-injak dulu.
Kehidupan bagai neraka mereka berikan pada Papa Rey dan Fenny. Mansion yang tiga kali lipat lebih besar dari milik keluarga Wilson itu harus dibersihkan oleh dua manusia laknat yang meremehkan Danesh.
Semua perlakuan buruk keduanya dibalas sama bahkan lebih. Hinaan pun terlontar dari mulut keluarga Triple D. Bahkan Fenny pun dibalas pula diberikan obat pencahar sampai dirinya sempat dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi diare terus. Untung keluarga besar Dominique masih memiliki hati untuk memberikan pengobatan, meskipun mereka cuma memberikan perawatan biasa, bukan yang kelas VVIP.
“Heh! Miskin, bersihkan itu. Bisa-bisanya kerja tak becus!” seru Deavenny yang baru saja memasuki mansion dengan sepatu cats penuh lumpur hingga lantai kembali bernoda. Padahal baru saja dipel.
“Sialan! Kau yang mengotorinya!” sentak Fenny kesal. Dirinya lelah sekali membersihkan mansion itu.
__ADS_1
Deavenny berjalan angkuh mendekati Fenny. Ia melotot dan mendorong bahu wanita yang masih lemas naik turun mansion mengepel menggunakan kain saja. “Berani kau membalas ucapanku!”
Tangan Deavenny terulur untuk menarik rambut Fenny ke belakang hingga mengaduh. “Ketahui posisimu di sini. Makanya, jadi orang jangan sombong. Roda itu berputar, dan sekarang kau itu hanya pelayan rendahan di sini,” hinanya. Ia melepaskan jambakannya dengan kasar hingga tubuh Fenny terhuyung ke belakang.
“Bersihkan sepatuku juga! Jangan sampai ada noda yang tersisa di sana. Itu mahal! Kau tak akan mampu menggantinya,” titah Deavenny melemparkan sepatu catsnya yang penuh lumpur hingga mengenai pakaian lusuh Fenny.
Wanita dengan setelan baju casual itu melenggang memasuki kamarnya tanpa alas kaki. Ia tersenyum puas bisa membalaskan perlakuan Fenny yang merendahkan kakak kembarnya.
Sedangkan Papa Rey, dia kini berhadapan dengan Daddy Davis di taman belakang. Di mansion itu hanya ada Daddy Davis dan Deavenny saja, mereka yang lebih banyak membalaskan perbuatan dua manusia laknat itu. Sebab, Danesh, Dariush, dan Delavar sibuk bekerja, pulang pun badan sudah lelah dan menyerahkan semuanya pada Daddy serta si bungsu.
__ADS_1
Apa lagi Danesh, pria itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri serta kedua anaknya. Ia hanya menginginkan mertua serta adik iparnya memohon dan berlutut di hadapannya. Untuk masalah siksa menyiksa, ia serahkan pada yang lainnya saja. Memang ada untungnya memiliki keluarga yang kompak, bisa saling membantu dan melengkapi.
“Pijat kakiku!” perintah Daddy Davis dengan angkuhnya. Ia kini sedang duduk di kursi besi terbalut emas, sengaja ia membeli baru untuk memperlihatkan kepada besannya jika dirinya jauh lebih kaya. Agar menyesal sudah pernah menghina anggota keluarganya.
“Iya,” balas Papa Rey ketus. Ia duduk bersimpuh di bawah dan mulai menggerakkan tangannya dengan kesal. Pijatan tangannya pun ia berikan dengan tenaga penuh dan sengaja menancapkan kuku-kukunya di betis Daddy Davis. Huh! Sangat sebal sekali dengan posisinya saat ini.
“Heh! Kau mau melukaiku?” sentak Daddy Davis mendorong tubuh Papa Rey dengan kakinya hingga terjerembab.
“Siapa yang melukaimu? Memang seperti ini caraku memijat. Jika tak suka, panggil saja pelayan yang lain,” balas Papa Rey tak mau kalah.
__ADS_1
“Berani sekali kau denganku!” Daddy Davis berdiri dari duduknya. Ia mengeraskan rahangnya menatap tajam besannya sendiri.
Tangan Davis menarik paksa tangan Rey. Ia menginjak tangan Rey dengan kaki kursi besi itu, untung ujungnya tidak tajam karena ada penutupnya, namun tekanannya lebih besar daripada sebuah sepatu. “Ini adalah balasan karena kau dulu menginjak tangan anakku. Kau harus tahu, keluargaku memiliki sifat pendendam. Kita tak akan menyakiti jika tak disakiti. Kita tak jahat, hanya memberikan pelajaran agar orang lain tak semena-mena kepada kita,” ucapnya dengan matanya yang melotot. “Satu saja anggota keluargaku tersakiti, maka semua akan membalas,” imbuhnya seraya mengangkat kembali kursi itu dan dikembalikan ke posisi semula.