
Danesh menautkan kedua alisnya bingung dengan pertanyaan istrinya. Bahkan semalam istrinya tak melakukan apa pun padanya. “Maksudmu, puas apa?”
Felly merasa pertanyaannya kurang jelas. Tentu saja, apa yang jelas dari kalimat yang ia lontarkan. “A-anu, apakah semalam saat kita melakukan ini.” Ia menyatukan kedua telunjuknya dan digesek-gesekkan seolah tengah menirukan adegan yang ia mimpikan semalam. “Aku membuatmu puas?”
Danesh terkekeh dengan istrinya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Felly. Ia mengulas senyum jahilnya. “Apa yang kau pikirkan? Apa kau berpikir aku melakukan hubungan ranjang denganmu, semalam?” tanyanya.
Felly mengangguk lemah.
Danesh tersenyum hingga terlihat giginya yang rapi dan putih. Sungguh tampan makhluk ciptaan Tuhan satu ini. “Aku tak melakukan apa pun denganmu. Aku hanya membersihkan tubuhmu dan mengganti pakaianmu. Tak ada yang lebih,” jelasnya. Ia mengacak-acak rambut Felly gemas dan lucu dengan tingkah istrinya.
Felly menggigit bawahnya. Kali ini ia benar-benar malu. Kepalanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. “A-aku ke kamar mandi dulu, aku ingin mandi.” Tanpa menunggu jawaban Danesh, ia langsung berjalan secepat mungkin masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya terpisah dengan kamar tidur.
Senyum di wajah Danesh tak juga pudar. Rasanya ia gemas dan ingin menerkam istrinya.
Danesh teringat jika air panasnya belum ia campurkan. Pria itu menuju kompor untuk mengambilnya.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
Danesh mengetuk pintu kamar mandi. “Buka, air panasnya belum aku campur,” ujarnya.
Felly yang berada di dalam kamar mandi pun membuka pintunya. Wajahnya masih terus menunduk malu.
“Sudah, tak perlu malu. Aku memakluminya,” tutur Danesh dengan tersenyum dan kembali mengacak-acak rambut Felly. Ia lalu mendekati ember, menuangkan air panas di sana.
“Mandilah, setelah itu kita sarapan bersama.” Danesh keluar meninggalkan Felly.
...........
Dua nasi uduk telah tersaji di meja makan yang sangat kecil. Danesh sungguh menepati ucapannya yang akan memperlakukan Felly seperti ratu.
“Lalu, apa yang bisa kau makan?” tanya Danesh lembut.
“Roti saja dengan selai kacang,” jawab Felly.
“Kenyang?”
__ADS_1
Felly mengangguk mengiyakan. “Karena aku makan rotinya bisa menghabiskan satu set roti tawar sekali makan.” Ia menyengir saat mengatakannya. Merasa dirinya terlihat rakus.
Danesh belum menyentuh sama sekali makanannya, sebab Mommy dari anak-anaknya pun belum makan. Ia berpamitan untuk keluar sebentar dan meminta istrinya untuk menunggu.
Tak lama, Danesh pun kembali dengan membawa sekantung plastik berisi roti tawar yang sangat banyak dan selai kacang. Ia memberikan pada Felly. “Maaf, baru bisa membelikan makanan untukmu dan anak-anak dengan harga yang murah. Aku harus menghemat karena aku ingin membuka usaha kecil-kecilan untuk biaya selama kita hidup bersama.” Ia pun kembali duduk di hadapan Felly.
Felly menyengir. “Ini saja sudah cukup. Justru aku yang merasa bersalah karena membuatmu susah dan menambah beban hidupmu,” sesalnya dengan menunduk.
Danesh mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Felly. “Sudah sepantasnya seorang suami dan calon Daddy sepertiku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,” ucapnya menenangkan Felly agar tak merasa bersalah. “Sekarang, makanlah yang banyak. Kasian anak-anak kita, dari semalam belum makan.” Ia menyodorkan roti tawar yang sudah diberi selai.
“Terima kasih.” Senyum manis Felly berikan untuk Danesh. Dan dibalas senyuman juga oleh pria itu.
Keduanya pun sarapan bersama dengan tenang dan tanpa suara.
“Hari ini aku akan keluar untuk bertemu dengan seseorang yang akan menjual kedainya. Aku ingin bernegosiasi dengannya,” pamit Danesh saat ia menyelesaikan makannya.
Pagi tadi Danesh sudah mencaritahu menggunakan ponselnya tentang ruko dikontrakkan dengan harga murah atau kedai yang sedang dijual. Dan ia menemukan harga yang miring, meskipun uangnya kurang. Karena ia tertarik, maka ia berniat bernegosiasi masalah harga.
__ADS_1
“Ikut,” rengek Felly.
“Jangan, kau di rumah saja istirahat. Aku tak ingin kau kelelahan seperti kemarin,” tolaknya. Dan Felly tak bisa membantah.