
“Argh ... sakit sekali ... tolong ....” Fenny merintih seraya tangannya terus memegangi perutnya yang tak kuat lagi ia tahan rasanya.
“Nona, paha anda.” Stefany menunjuk bagian tubuh yang dimaksud. “Ada darah,” imbuhnya.
Dengan tenaga yang lemah, Fenny melihat ke bawah. Ia langsung tak sadarkan diri setelah melihatnya.
Stefany yang melihat hal itu langsung meminta pertolongan kepada pekerja di proyek yang sedang ditinjau. “Tolong bantu aku membawa Nona Fenny ke mobil,” pintanya.
Satu pekerja yang pakaiannya kotor terkena semen pun membantu dengan menggendong Nona Fenny dan memasukkan langsung ke dalam mobil diikuti oleh Stefany yang duduk dengan pahanya sebagai bantalan Nona Fenny.
“Pak, kita ke rumah sakit excelent sekarang, tolong cepat ya. Nona Fenny mengeluarkan darah,” titah Stefany pada supir pribadi Nona Fenny. Ia sangat cemas saat ini dengan kondisi bos barunya itu. Meskipun Nona Fenny selalu membuatnya sebal karena bermalas-malasan terus saat bekerja dan semena-mena dengan bawahan, namun jiwa kemanusiaannya tetap saja keluar disaat seperti ini.
__ADS_1
Perawat langsung sigap membantu memindahkan Nona Fenny ke atas brankar. Tubuh tak berdaya itu langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat untuk ditangani oleh dokter.
Sementara itu, Stefany yang ada di luar ruangan tengah gelisah. Ia mondar mandir dengan jari-jarinya yang terus ia gigit.
“Siapa yang harus aku hubungi? Tuan Erland? Aku tak punya nomornya. Tuan Besar Rey?” Stefany berpikir sejenak. “Tidak, bisa-bisa aku yang disalahkan oleh Tuan Besar Rey karena tak becus bekerja dan menjaga Nona Fenny. Aku masih butuh pekerjaan ini,” gumamnya.
Stefany sangat bingung, sebab ia mengetahui kenapa Nona Felly tak lagi bekerja dan digantikan oleh kembarannya. Mulut Fenny yang tak bisa direm itu sudah menceritakan semuanya pada Stefany.
“Ah tak apalah, aku hubungi Nona Felly saja. Namanya saudara pasti dalam kondisi bertengkar pun tak akan tega jika kondisinya sedang seperti ini,” finalnya. Stefany pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan segera menghubungi mantan majikannya.
“Halo, ada apa Stef?” tanya Felly. Tangannya memijat lembut kakinya yang pegal.
__ADS_1
“Nona, bisakah ke rumah sakit excelent? Nona Fenny terpeleset dan mengeluarkan darah, saat ini sedang diperiksa oleh dokter,” jelas Stefany.
“Apa?” Felly membulatkan matanya. “Bagaimana keadaan janinnya? Dia sedang hamil.”
“Belum tahu, Nona. Dokter masih di dalan ruangan dan belum keluar,” jawab Stefany.
“Oke, aku akan ke sana. Tunggu sebentar.” Felly pun memutuskan panggilan itu. Dia berencana untuk meminta izin pada suaminya.
Wanita yang tengah berbadan tiga itu mendekati Danesh yang menggantikannya bertugas di kasir. Karena coffee shop milik Danesh menggunakan sistem self service sehingga mereka tak membutuhkan karyawan banyak untuk mengantar pesanan. Dan saat ini Danesh juga sudah memiliki satu karyawan untuk membantu bersih-bersih di coffee shopnya.
“Danesh,” panggil Felly.
__ADS_1
Danesh yang sudah tak melayani pelanggan pun berbalik menatap istrinya dengan tatapan teduh. “Apa?” Tangannya memberikan sentuhan sekilas pada rambut Felly dan berakhir menyingkirkan anak-anak rambut.
“Bolehkah aku ke rumah sakit excelent? Fenny mengalami suatu insiden dan dilarikan ke sana,” izin Felly.