Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 177


__ADS_3

Danesh mendesah frustasi saat kedua anaknya menangis. Annora dan Agathias benar-benar menggangu aktivitasnya mengganti pelumas. Sedang enak-enaknya dengan sang istri tercinta harus disudahi gara-gara dua bayi mungil itu kehausan. Itu lebih sakit daripada ditinggal saat sayang-sayangnya.


Mau tak mau, suka tak suka, cacing besar alaska milik Danesh pun harus kembali ke bentuk semula dan kembali menutupi tubuh polos keduanya dengan pakaian yang sudah berserakan di lantai.


Pria itu menggendong Annora agar berhenti menangis dan menunggu giliran setelah Agathias selesai meminum ASI.


“Untung mereka anakku. Coba kalau tidak, sudah ku buang mereka ke mansion Dominique agar dirawat oleh Mommy, Daddy, dan kembaranku,” keluh Danesh setelah dua bayi itu kembali tidur. Kini ia berdiri di dekat istrinya yang masih duduk di tepi ranjang seraya mengelus kepala dua bayi mungil itu.


Felly terkekeh dengan suaminya yang kesal. “Mereka tahu jika Mommynya sedang ditindas oleh dirimu. Minta dicium malah meminta lebih,” kelakarnya dengan suara lirih, takut membangunkan anak-anaknya lagi.


“Anggap saja aku sedang meminta diskon,” seloroh Danesh membalas istrinya.

__ADS_1


Felly menyelimuti anak-anaknya, bangkit dari duduknya hingga berhadapan dengan Danesh, dan mencubit perut berotot suaminya. “Lain kali saja kalau anak-anak sudah besar. Sekarang solo karir dulu, daripada ditinggal saat enak-enaknya lagi.”


“Ha? Bermain solo?” Danesh meraih tangan istrinya dan memperlihatkan ke wajah Felly. “Untuk apa ada tanganmu jika aku bermain sendiri,” kelakarnya. Kemudian mendapatkan timpukan dari sang istri di lengan kekarnya.


Danesh pun menarik Felly untuk duduk di sofa. Keduanya menghempaskan tubuh di sana.


Felly langsung mendaratkan kepalanya di pundak sang suami. Matanya terus menatap dua anaknya dan bibirnya tersenyum bahagia dengan anugerah yang diberikan untuknya.


Danesh mengelus kepala istrinya dan menciumi berkali-kali. Matanya juga melihat ke arah anak-anaknya. Merasakan perasaan yang selalu membuat hatinya berdesir.


Felly mengangkat kepalanya, dan menatap suaminya dengan wajahnya yang berubah sendu. “Ayo kita ke sana. Aku ingin menjenguknya,” pintanya.

__ADS_1


Danesh meraih tangan istrinya, mengusapnya dan mengecupnya memberikan kekuatan. “Iya, tapi kita bertemu Violet dengan membawa kejujuran. Kasian dia jika harus hidup dalam sebuah harapan dibalik kebohongan.”


“Tapi—” Felly ingin melayangkan protes jika dirinya belum siap melihat Violet terluka hatinya. Namun diurungkan saat mata suaminya sudah melotot.


“Lebih sakit lagi jika kita memberikan Violet harapan semu. Kau akan menyesali semua tindakanmu jika Violet pergi dari dunia ini dengan kebohongan kita,” tutur Danesh sangat lembut. Ia mencoba memberitahu istrinya agar mau mengatakan kebenarannya sekarang, sebelum semuanya terlambat.


Felly menghirup oksigen dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan dari mulut seraya matanya terpejam. “Oke. Tapi biarkan aku yang menjelaskan padanya. Karena kebohongan ini juga berawal dari permintaanku,” ucapnya menyetujui.


Danesh mengulas senyumnya, memberikan elusan di puncak kepala istrinya. “Kita ajak anak-anak, kenalkan mereka pada Violet agar dia tahu semuanya,” imbuhnya.


Felly mengangguk menyetujui. “Semoga Violet bisa menerima semua ini,” harapnya.

__ADS_1


Danesh menarik istrinya ke dalam dekapannya. “Itu pasti, sifat Violet tak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya.”


“Sifat manusia kan berbeda-beda, Sayang. Orang tuanya berlapang dada, anaknya belum tentu,” timpal Felly yang merasa dirinya takut disalahkan dan disangka merebut pria yang dicintai temannya sendiri. Tangannya semakin erat memeluk dan mencengkeram pakaian suaminya.


__ADS_2