
“Aku akan mengurus dokumen pemindahanmu dan anak-anak secepatnya. Mau tak mau, suka tak suka, kau dan kedua bayi kita harus ikut bersamaku tinggal di Finlandia,” tegas Danesh sebelum Felly mengucapkan sepatah kata pun.
“Mulai detik ini, aku tak akan menuruti semua permintaanmu. Aku hanya melakukan yang ku rasa masuk akal.”
“Jika kau ingin bermain egois, maka aku bisa lebih egois daripada dirimu.”
“Jika kau tetap tak ingin ke Finlandia hanya karena memikirkan hati Violet yang nantinya akan terluka menerima kenyataan ini, maka aku bisa membuatnya bertemu sang pencipta secepatnya.”
“Jangan salahkan aku jika berbuat jahat, itu juga karena dirimu yang terlalu egois.”
“Danesh ...,” tegur Felly. Ia ingin bicara namun tak diberikan celah. Suaminya menyerocos terus.
“Apa? Diam saja. Aku sudah tahu maksudmu, aku tahu apa yang akan kau katakan padaku.” Danesh bangkit dari duduknya. Matanya menatap tajam Felly.
“Kau pasti menginginkan aku kembali dengan Violet, kan? Kau ingin aku memenuhi permintaannya untuk menjadi suaminya, kan?”
__ADS_1
“Bermimpi saja, sampai kapanpun itu tak akan mungkin. Mau kau memintaku untuk menceraikanmu atau beristri lebih dari satu pun aku tak akan mau!”
“Ku kira kau itu malaikat, ternyata kau jauh lebih kejam daripada iblis! Tega sekali kau berpikiran ingin memisahkan kedua anakku dari Daddynya! Mereka butuh kasih sayangku.”
“Cukup sampai di sini aku menuruti permintaanmu. Aku lelah dengan keegoisanmu. Saatnya aku yang egois.”
“Dan satu lagi. Terkadang kita memang harus dihadapkan oleh sebuah kekecewaan. Sekeras apa pun kita berdoa, sekeras apa pun kita berusaha, Tuhan tak akan selalu mengabulkannya. Kenapa? Karena manusia itu memiliki sifat serakah, sekali dia meminta dan diberikan, maka dia akan menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih lagi hingga berujung pada ketamakan.”
“Begitupun dengan dirimu, Violet, dan aku. Kita juga memiliki sisi manusia itu, hanya saja kadarnya berbeda.”
“Kau paham?” tanya Danesh. Namun ia tak memberikan waktu pada Felly untuk berbicara. Sebab dirinya melanjutkan ucapannya yang seperti kereta itu. Tak ada hentinya dia mengomeli istrinya.
“Huh! Aku tak peduli kau paham atau tidak. Yang jelas, berhenti memikirkan perasaan orang lain! Bersifat manusiawi tak harus mengorbankan perasaan diri sendiri.”
Danesh mengelus kepala Felly. “Istirahatlah. Aku akan menjenguk anak-anak. Kau terlalu lelah setelah melahirkan,” tutupnya. Ia melenggangkan kaki menjauhi istrinya menuju pintu.
__ADS_1
“Danesh ... aku belum selesai bicara,” tegur Felly berharap bisa menghentikan suaminya.
Danesh tak berbalik. Ia mengangkat tangan kanannya hingga sejajar dengan kepalanya, kelima jarinya menghadap ke langit-langit memberikan isyarat stop. “Aku sedang tak ingin berbicara denganmu. Tidurlah.”
Pria itu sudah tak terlihat lagi, menyisakan Felly seorang diri di kamar yang luas.
Hembusan napas keluar dari bibir Felly. “Kenapa dia sudah berprasangka buruk dulu denganku? Padahal aku belum mengutarakan maksudku. Aku ingin mendiskusikan bagaimana baiknya kita mengungkap hubungan ini tanpa melukai hati Violet, aku juga tak mau berpisah dengannya,” gumamnya menatap pintu.
Sedangkan Danesh, emosinya yang sempat memuncak pun teredam setelah melihat wajah kedua malaikat kecilnya. “Hello My Girl and My Boy,” sapanya dari balik kaca yang tak bisa ia lewati tanpa izin petugas.
“Jika kalian besar nanti, jangan seperti Mommymu, ya? Daddy tidak suka.” Belum juga genap satu hari anaknya, sudah diberikan wejangan saja.
...........
...Bang Danesh, tolong kalo ngomong dikasih jeda, capek tau bacanya. Wkwkwk. Tanggung jawab, kirimin aku kopi sama bunga bang. Capek bang, engos-engosan bacanya....
__ADS_1