
Ketiga kembaran Danesh menepuk jidat mereka bersamaan. “Kacau ... kacau ... kacau,” decak mereka bersamaan.
“Dua wanita saat ini sedang mengandung anakku. Aku tak ingin menyakiti hati salah satunya. Aku juga tak ingin melepaskan istriku. Apakah aku terlalu egois ingin bertanggung jawab pada dua Mommy dari anak-anakku?” tanya Danesh. Meskipun bingung, ia tetap saja datar dan tenang.
Daddy Davis kian mendekati Danesh. Ia melingkarkan tangannya di bahu putranya dan memberikan tepukan dengan sedikit bertenaga.
“Semua sudah terjadi. Tak bisa diulang lagi untuk diperbaiki. Jika kau ingin bertanggung jawab dengan wanita masa lalumu, maka kau bisa melakukannya dengan cara lain tanpa harus menikahinya. Daddy tak setuju jika kau menikah lebih dari satu wanita. Daddy juga tak setuju dengan perceraian, kita memiliki kepercayaan. Dan aku tak membenarkan kedua hal itu,” tutur Daddy Davis.
Danesh menengok menatap Daddynya. “Lalu, apa yang harus aku lakukan? Istriku bahkan sudah mengetahui semuanya. Aku takut dia meninggalkanku.”
Daddy Davis kembali menepuk pundak Danesh untuk menguatkan putranya. “Tanggung jawab bukan dinilai dari kau menikahinya saja. Kau bisa melakukannya dengan tetap merawat mantanmu dan juga anakmu. Kau memberikan mereka kehidupan yang layak dan tentunya perhatian pada anakmu yang paling utama. Ingat, jangan membedakan setiap anak dari kedua wanita itu. Dan jangan melukai hati kedua wanita yang sudah kau rusak,” nasihatnya.
“Tapi, bagaimana dengan Felly, Dad? Aku takut dia meninggalkanku.”
Daddy Davis mengedikkan bahunya. “Masalah istrimu, kau pikirkan sendiri caranya. Kau yakinkan dia agar tak meninggalkanmu. Namun, jika dia tetap memilih pergi, itu tugasmu untuk mempertahankannya.”
Ketiga kembaran Danesh saling memeluk tubuh anak paling tua itu. Mereka saling menguatkan dan meyakinkan bahwa Danesh bisa menghadapi masalah tersebut.
Mata Daddy Davis beralih menatap ketiga anaknya yang tak seliar anak pertamanya. “Kalian bertiga,” tunjuknya menggunakan jari telunjuk. “Jadikan masalah Danesh sebagai pelajaran agar kalian tak melakukan hubungan intim bersama lawan jenis sebelum menikah. Kalian lihat dia. Pusing sendiri menghadapi masalahnya. Daddy tak pernah membenarkan perbuatan tercela itu, jika kalian sudah ingin melakukannya, maka carilah pasangan yang tepat dan menikahlah. Daddy pasti akan merestui kalian.”
Selepas melakukan perbincangan yang lumayan panjang, kelimanya kembali ke ruangan. Danesh sendiri yang terpisah. Dia ke ruangan di mana istrinya berada. Pria itu langsung merengkuh tubuh Felly seolah tak ingin kehilangan wanita yang ia cintai itu.
__ADS_1
...........
Felly terbangun terlebih dahulu. Ia menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Namun hal itu membuat Danesh ikut membuka mata.
“Kau sudah bangun?” tanya Danesh lembut. Ia mengecup seluruh bagian wajah istrinya. “Pagi, istriku tersayang.”
Felly membalas dengan senyuman. “Pagi.”
Danesh melihat jam yang tertempel di dinding. Sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia ingat harus menemani Violet melahirkan anaknya.
“Felly.”
“Danesh.”
“Kau dulu,” ujar Felly.
Danesh mengelus lembut kepala istrinya. “Bolehkah aku izin denganmu untuk menemani Violet melahirkan?”
“Tentu, itulah yang akan aku sampaikan. Temanilah dia dan berikan dukungan padanya. Dia sangat menginginkan proses bersalinnya ditemani olehmu,” balas Felly tulus.
Danesh memeluk tubuh Felly dan menciumi puncak kepala istrinya. “Terima kasih. Aku sangat mencintaimu.”
__ADS_1
Felly tak membalas pelukan suaminya. Ia diam mematung dan sedikit meneteskan air matanya, namun buru-buru ia menghapusnya sebelum Danesh melihat.
...........
Danesh dan Violet sudah berasa di dalam ruang bersalin. Di luar ruangan itu ada Felly serta Tuan dan Nyonya Dwarts yang menunggu.
Di dalam ruangan itu, Violet terlihat gugup dan takut. “Apakah aku bisa melewatinya?” gumamnya.
Danesh mengelus kening Violet, matanya menatap wanita masa lalunya itu. “Kau wanita yang kuat, kau bisa melewati masa kehamilanmu selama ini sendirian. Kau pasti bisa melewati masa persalinanmu juga.”
Tangan Danesh meraih tangan Violet, menggenggamnya dan mengecup menyalurkan kekuatan. “Aku akan terus berada di sini, menunggumu dan menyemangatimu,” ujarnya, lalu mengecup kening Violet.
Violet mulai berkaca-kaca matanya. Ada perasaan senang ketika doa yang selalu ia panjatkan terkabul. “Terima kasih, Danesh. Aku mencintaimu,” ujarnya.
Namun Danesh tak menjawab dengan ucapan. Ia hanya mengulas senyumnya.
Violet dan Danesh pun menganggukkan kepala memberikan isyarat pada dokter untuk melakukan tugas.
Dokter mulai menyuntikkan bius, dan pilihannya adalah bius total sehingga Violet langsung tak sadarkan diri.
Tangan-tangan lihai itu mulai membedah perut Violet dengan hati-hati agar tak terjadi pendarahan dan mengakibatkan hal buruk pada pasiennya.
__ADS_1
Hingga bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu mulai keluar dari perut Violet. Namun ada yang aneh. Bayi itu tak menangis. Dokter mencoba mengecek detak jantung dan mencoba melakukan segala cara untuk membuat bayi itu menangis yang menandakan bahwa sudah beradaptasi dengan dunia luar dan menghirup udara untuk pertama kalinya.
“Apa yang terjadi dengan bayiku?” tanya Danesh panik.