
Felly dan Danesh akhirnya sampai juga di apartemen sederhana milih pria bule yang tampannya hingga memporak porandakan hati Felly itu.
Danesh meletakkan sushi yang dipegang di tangan kanannya ke atas meja makan. Lalu ia melangkahkan kakinya memasuki kamar dengan membawa barang bawaan Felly. Ada Felly yang sedang merebahkan tubuh di atas kasur.
Danesh meletakkan koper kecil Felly ke atas kasur yang sisinya kosong. “Berapa kodenya?” tanyanya.
Felly meletakkan tangannya di atas bantal dan ditimpa oleh kepalanya. Matanya menatap Danesh. “080808,” ujarnya memberitahu.
Danesh memasukkan kode yang disebutkan, dan akhirnya terbuka. “Ini semua pakaian kotor? Atau sudah bersih?” tanyanya lagi saat melihat tumpukan kain yang dilipat rapi tertata di dalam koper itu.
“Kotor, aku tak sempat memasukkan pakaianku ke laundry saat di Jepang. Waktuku di sana sangat singkat, hanya tiga hari,” jelasnya.
Danesh tak bersuara lagi, ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kedua tangan Danesh langsung mengambil seluruh pakaian di dalam koper itu.
“Eh ... mau dibawa ke mana?” tanya Felly. Ia merubah posisinya menjadi duduk saat melihat tubuh suaminya berbalik dan hendak melangkah keluar.
Danesh memutar tubuhnya sebentar menatap istrinya. “Mau ku cuci,” jawabnya datar dan tanpa beban.
__ADS_1
Felly menurunkan kakinya dan berdiri. “Tak usah, biar aku sendiri yang mencuci. Kau bukan pelayanku, untuk apa kau selalu menempatkan diri seperti itu,” tolaknya.
Felly pun mendekati Danesh dan ingin merebut pakaian kotornya. Namun suaminya itu memalingkan tubuhnya hingga Felly tak dapat meraih.
“Aku tak pernah merasa menjadi pelayanmu. Sedari awal aku sudah mengatakan padamu, aku akan memperlakukanmu selayaknya ratu. Kau itu mommy dari anak-anakku, jadi sudah sepantasnya aku merawat kalian dengan baik dan penuh kasih,” ucap Danesh panjang lebar.
“Dan, jangan lihat yang aku lakukan ini seperti pelayan. Karena aku tak merasa seperti itu. Sebab, aku adalah suami yang tak ingin melihat istrinya kesusahan,” imbuh Danesh dengan memberikan senyumannya. Ia ingin memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja melakukan semua itu.
Danesh pun melangkahkan kakinya lagi, keluar dari kamar. Diikuti oleh Felly yang mengekorinya.
Danesh berhenti tepat di ruang santai dan kembali menatap istrinya. Ia pun terkekeh. “Memangnya siapa yang bilang aku akan mencuci menggunakan tangan?”
“Tak ada, tapi kan biasanya juga seperti itu.”
“Lihatlah.” Danesh menunjuk sisi di depan kamar mandi dengan dagunya.
Felly mengikuti arah yang ditunjuk oleh suaminya. Ia tersenyum malu setelah melihat ada sesuatu di sana.
__ADS_1
“Aku sudah membeli mesin cuci baru untuk memudahkan kita membersihkan pakaian. Lama-lama aku semakin berotot jika mencuci pakai tangan terus,” jelas Danesh.
Felly pun membiarkan suaminya untuk mencuci pakaian dengan mesin cuci baru, bahkan stiker garansinya pun masih menempel di sana.
Selesai memasukkan semua kain-kain kotor itu, mengaliri air, dan memberikan sabun detergen, Danesh mendekati Felly yang sedari tadi memperhatikannya. “Ayo kita makan,” ajaknya.
Felly menjawab dengan senyuman dan anggukan. Keduanya pun sudah duduk di meja makan dan saling berhadapan.
Felly jadi mengingat sesuatu yang tadi saat di jalan ia lupa ingin menanyakan karena lampu sudah hijau. Ia berdehem sejenak. “Suami buleku,” panggilnya.
Danesh yang tengah membuka sushi dan memindahkan ke piring pun mengalihkan pandangannya hingga kornea matanya terisi oleh wanita yang selalu mengisi hari-harinya. “Apa?”
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya hati-hati.
Danesh mengangguk. “Apa?”
“Apa kau tak ada rencana untuk melupakan dan berhenti menunggu Violet, mantanmu itu?” Felly pun akhirnya melontarkan pertanyaan yang membuatnya sangat penasaran. Meskipun hatinya saat ini sedang merasa takut akan kenyataan yang akan dia dengar. Namun setidaknya hubungannya akan jelas kedepannya, ada harapan atau tak ada harapan satu persen pun.
__ADS_1