Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 162


__ADS_3

Danesh sudah mengemasi seluruh barang-barang milik dirinya, istrinya, dan anak-anaknya. Ia hanya membawa seperlunya saja, toh di Finlandia sudah disiapkan semuanya oleh keluarganya. Dan akan ada kejutan yang sudah dipersiapkan olehnya untuk istri dan anak-anaknya.


Dengan diantar oleh supir Felly, mereka berempat datang ke rumah besar keluarga Wilson untuk berpamitan. Hari ini adalah kepulangan mereka ke Finlandia.


“Cucu-cucuku. Sini oma gendong.” Mama Kyara langsung menyambut hangat dua bayi mungil itu. Karena tangannya hanya dua dan bisanya menggendong satu bayi saja, ia pun mengambil alih Agathias yang ada di gendongan Felly.


“Papa di mana, Ma?” tanya Felly setelah tangannya kosong tak menggendong anaknya lagi.


“Di ruang kerja, sedang mengomeli Fenny akibat tak teliti dalam mengecek data,” tutur Mama Kyara. Ia asik sendiri dengan cucu laki-lakinya.


Setelah melahirkan, Felly tak pernah diberikan izin untuk bekerja oleh suaminya. Tentu saja dirinya menurut.


“Oke, aku bertemu Papa dulu, Ma. Aku mau berpamitan dengannya. Hari ini aku akan ikut suamiku pulang ke negaranya,” tutur Felly memberikan usapan pada lengan Mama Kyara.


Felly mengajak Danesh dan Annora yang ada digendongan suaminya untuk mengikuti langkah kakinya, setelah Mama Kyara memberikan jawaban anggukan kepala.

__ADS_1


Tak lupa mengetuk pintu dahulu, kemudian masuk setelah mendapatkan izin dari sang pemilik ruangan.


“Pa,” sapa Felly.


“Hm?” balas Papa Rey. Matanya beralih dari Fenny yang baru saja ia omeli ke bayi mungil di gendongan Danesh. Sejujurnya ia ingin menggendong cucunya itu, namun gengsi dengan menantunya.


Felly mengangkat dua sudut bibirnya. Ia seperti tahu apa keinginan Papanya. Tangannya beralih hendak menggendong Annora. “Berikan Nora padaku,” pintanya pada Danesh.


Dengan hati-hati, Danesh memindahkan putrinya ke gendongan sang istri. “Jangan menangis, Sayang,” ucapnya pada Annora yang sudah terlihat berkaca-kaca dan wajah mungil itu cemberut.


Felly mengayunkan kakinya mendekati Papa Rey. “Pa, titip Annora sebentar,” ucapnya.


“Ha?” Papa Rey melongo saat tiba-tiba bayi mungil itu sudah berada di gendongannya.


Sudut bibir pria paruh baya itu sedikit terangkat saat Annora mengoceh tak jelas. Dan Papa Rey menempatkan telunjuknya untuk dijadikan mainan cucu perempuannya.

__ADS_1


Felly kembali berdiri di samping suaminya dengan perasaan sedikit lega. Ternyata yang dilontarkan Papanya jika tak menerima anaknya bersama Danesh hanya bualan belaka. Nyatanya, kini Papa Rey asik sendiri dengan Annora. Ia menyenggol lengan suaminya untuk berpamitan dengan Papa Rey.


“Ehem!”


Deheman dari bibir Danesh itu membuat Papa Rey mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangan dari Annora ke Amoeba, yaitu menantu dengan asal usul tak jelas itu.


“Tujuanku datang ke sini untuk berpamitan. Hari ini aku akan membawa istri dan anak-anakku pindah ke negaraku,” tutur Danesh datar. Ia tak berekspresi menatap Papa mertuanya.


“What?!” Papa Rey terkejut. “Apa maksudmu membawa anak dan cucu-cucuku pergi dari sini? Jika Felly pergi, lalu siapa yang akan mengurus perusahaan keluargaku?” protesnya.


“Kan ada aku, Pa. Biarkan saja Felly ikut suaminya,” sahut Fenny yang masih duduk di depan meja kerja Papa Rey.


Danesh tersenyum tipis namun sangat sinis, ada maksud terselubung dari bibir yang sedikit terangkat itu. “Tenang saja. Selepas kami pergi, kau tak perlu pusing memikirkan siapa yang akan meneruskan bisnis keluarga Wilson,” ungkapnya.


“Apa maksudmu?” tanya Papa Rey yang tak paham.

__ADS_1


Danesh mengedikkan bahunya. “Nanti kau juga akan tahu sendiri,” jawabnya cuek.


__ADS_2