Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 164


__ADS_3

“Apa maksudmu?” tanya Mommy Diora yang tak paham.


“Ini, calonku masih bayi,” seloroh Dariush memperkenalkan baby Annora.


Kepala itu kembali mendapatkan geplakan. Kali ini bukan hanya tiga, namun lima sekaligus. Mommy dan Daddy mereka pun ikutan.


“Jangan macam-macam kau!” tegur Daddy Davis dengan suara tegasnya.


“Ck! Kalian ini. Aku kan hanya bercanda, otakku bisa berkurang seperti Deavenny jika mendapatkan timpukan terus,” keluh Dariush.


“Bercandamu tak lucu!” sentak kelima anggota keluarga Triple D itu.


Membuat dua bayi itu menangis. Dan berakhirlah mereka menenangkan bersama. Seharian penuh baby Annora dan Agathias diambil alih oleh keluarga besar Triple D. Hanya sesekali diberikan kepada Felly jika haus.


Danesh memeluk tubuh Felly yang duduk di sofa. Keduanya hanya memandangi kelima orang yang saling bergantian ingin menggendong. “Apa kita membuat lagi saja? Kita buat lima lagi agar semuanya terbagi rata bisa menggendong satu-satu,” celetuknya.


“Sembarangan. Dua saja sudah cukup. Jangan banyak-banyak,” tolak Felly memberikan elusan pada rangan suaminya.


“Tapi produksi terus tetap boleh, kan?”

__ADS_1


“Pikiranmu ... sudah punya dua anak masih saja ke bawah pusar.” Sentilan yang tak terlalu kencang Felly layangkan ke kening suaminya.


Danesh terkekeh dengan istrinya. “Kebutuhan seorang pria, Sayang.” Ia pun memberikan ciuman di tengkuk istrinya, namun tak lebih. Sebab, masih belum diperbolehkan.


“Kau sudah melihat mansion ini, kan?” ujar Danesh setelah puas memberikan tanda kemerahan di tengkuk istrinya.


“Hm.” Felly menjawab dengan anggukan.


“Ini untukmu dan anak-anak. Aku membelinya khusus untuk kalian. Sebagai rumah masa depan kita,” tutur Danesh kemudian.


“Ha? Serius? Sebesar ini?” Felly melongo tak percaya.


“Terima kasih. Ternyata kau sangat kaya, dan aku mendapatkan jackpot Hidden Rich Man sebagai suamiku,” balas Felly menatap penuh cinta pada Danesh.


“Ini buah dari kesabaranmu yang mau menemaniku dari nol.” Danesh mendaratkan kecupan di bibir Felly.


Kehadiran dua malaikat kecil itu membawa kebahagiaan untuk keluarga Dominique. Tak ada yang terlihat bersedih satu pun, ulasan senyum semua tercetak di wajah tua maupun muda itu.


...........

__ADS_1


Satu minggu telah berlalu. Danesh sedang mengurus pemindahan kewarganegaraan istrinya. Tinggal menunggu saja, yang banyak direpotkan untuk urusan ini yaitu Glen—sekretarisnya.


“Bolehkah aku menjenguk Violet? Sepertinya kita tak pernah menjenguk dia semenjak di Finlandia,” izin Felly setelah menyambut kepulangan suaminya dari kantor. Ia langsung mengambil tas kerja dan melepaskan jas yang melekat di tubuh Danesh.


Danesh mendaratkan kecupan di bibir Felly. “Sekarang?”


Felly mengangguk. “Iya, selagi anak-anak masih tidur. Kita titipkan mereka pada Mommy, Daddy, dan kembaranmu.”


Kelima anggota Triple D itu sungguh merepotkan, mereka memiliki mansion keluarga Dominique sendiri tapi selama ada baby tak pernah mau pulang. Tapi ada untungnya juga jika Danesh dan Felly hendak pergi, bisa menjadi babysitter mereka.


“Boleh, ayo.”


Kedua tangan itu saling bergandengan. Mereka berpamitan terlebih dahulu agar tak membuat Triple D family kalang kabut mencari. Felly juga mengatakan jika menyetok ASI di kulkas sehingga tak perlu bingung lagi saat dua bayi itu menangis karena haus.


Dengan mengendarai mobil, Danesh dan Felly sampai di mansion yang jauh berbeda dari pemberian Danesh ke Felly. Ini jauh lebih kecil, namun tetap terlihat mewah. Masih mewah milik Felly.


Pelayan sudah menyambut keduanya dengan hormat dan sopan.


“Tuan dan Nyonya Dwarts ke mana?” tanya Danesh pada salah satu pelayan.

__ADS_1


“Ada di kamar Nona Violet, Tuan. Sedang menemani di sana.”


__ADS_2