
“Kau mau Daddy apakan kedua orang itu?” tanya Daddy Davis dengan amarahnya yang menggebu. Ia ingin membalas perbuatan orang-orang yang menghina putranya dan hampir menghilangkan nyawa Danesh.
“Mau Daddy buat mereka sebagai umpan hiu? Atau yang lainnya? Katakan saja,” tawar Daddy Davis.
“Tidak, Dad. Masalah itu biar aku saja yang membalasnya. Aku sudah memikirkan balasannya dan menunggu waktu yang tepat,” balas Danesh.
“Ck! Kau itu mau main sendiri,” cibir Dariush dengan berdecak.
“Ajak kami, lah, enak sekali mereka menghinamu dan kami diam saja,” sahut Delavar dengan wajahnya yang juga ingin membalaskan dendam.
Deavenny mengibaskan rambutnya. “Jangan lupakan aku. Meskipun otakku minim, tapi masalah membalas seperti itu aku juga bisa,” imbuhnya percaya diri.
Daddy Davis mengangkat sudut bibirnya. Ia senang melihat anak-anaknya saling membantu dan melindungi satu sama lain. “Kita balas mereka sama-sama.”
“Oke, setuju,” ucap Dariush, Delavar, dan Deavenny bersamaan.
“Ck! Kalian ini, aku yang memiliki masalah tapi kalian yang lebih bersemangat,” cibir Danesh. Namun ia tak memberikan penolakan ketika keluarganya hendak membantunya. Percuma juga melarang mereka jika sedang seperti ini, tak akan mempan.
__ADS_1
“Aku akan beritahu jika waktunya untuk membalas sudah tepat. Untuk saat ini jangan. Istriku sedang hamil, aku tak ingin dia terlalu banyak berpikir hal-hal yang berat, apa lagi mengetahui anggota keluarganya kita siksa,” tambah Danesh. Dijawab anggukan kepala oleh keempat orang yang tengah bersamanya.
“Diskusi selesai, ayo kita kembali,” ajak Daddy Davis. Ia sudah memutar tubuh untuk melangkah meninggalkan rooftop.
Danesh menghembuskan napasnya kasar. Ia bingung dengan permasalahannya saat ini. Dan sangat membutuhkan masukan dari Daddynya. Mungkin Daddy Davis bisa membantu meringankan beban pikirannya untuk mencari solusi yang adil tanpa menyakiti hati siapa pun.
“Dad,” panggil Danesh menghentikan niatan pria paruh baya itu untuk pergi.
Daddy Davis kembali memutar tubuh dan menatap putranya. “Apa?”
“Aku memiliki masalah baru,” adu Danesh.
“Kenapa kau itu selalu membuat masalah, Danesh ...!” omel Dariush.
Kemudian ketiganya menggeplak kepala Danesh karena kesal. Tak henti-hentinya saudara kembar mereka itu membuat masalah. Entah apa lagi yg dilakukan oleh Danesh.
Danesh hanya berdecak dan mengelus kepalanya yang sakit akibat salam dari telapak tangan kembarannya.
__ADS_1
“Sttt ... kalian bisa diam, tidak? Biarkan Danesh mengatakan masalahnya.” Daddy Davis mengomeli ketiga anaknya. “Katakan,” titahnya pada Danesh.
“Kalian tahu Violet, kan?”
Semua menjawab dengan anggukan. “Mantanmu yang membuatmu menjadi gila.”
“Kalian juga tahu apa yang aku perbuat dengannya di malam terakhir kami berpisah, kan?”
Mereka mengangguk lagi. “Kau mantap-mantap dengannya.”
“Kalian juga tahu betapa sulitnya mencari informasi tentangnya, kan?”
“Banyak tanya sekali kau itu. Cepat katakan pada intinya!” kesal Dariush yang sudah penasaran dengan masalah kakak kembarnya.
“Oke. Aku sudah menemukan Violet. Ternyata selama ini dia di Jepang, dia mengidap penyakit yang tak bisa disembuhkan lagi, umurnya juga tak tahu sampai kapan, sewaktu-waktu Tuhan bisa mengambilnya. Aku tadi bertemu dengannya di rumah sakit ini. Dia di rawat di sini,” cerita Danesh.
“Lalu, masalahnya di sebelah mana? Bukankah kami sudah menasehatimu saat di Indonesia? Kau sudah memiliki istri, lupakan saja masa lalumu itu,” ucap Delavar.
__ADS_1
“Masalahnya adalah, hubunganku dimasa lalu dengannya membuahkan hasil. Sekarang dia hamil anakku. Besok jadwal operasinya.”