
Setelah mendapatkan resep obat, Felly izin pada suaminya untuk pergi ke apotek. Dengan diantarkan oleh Pak Maman, ia menuju apotek yang paling dekat dari rumahnya.
“Maaf, Nona, obat yang tertera di sini sedang kosong,” tutur petugas apotek itu, kertas yang tadi diserahkan oleh Felly dikembalikan lagi.
“Di mana kira-kira aku bisa mendapatkannya?” tanya Felly dengan wajah cemasnya.
“Coba ke apotek yang ada di rumah sakit saja, Nona. Biasanya lebih lengkap.”
Felly keluar dari apotek itu dan memberikan perintah pada Pak Maman untuk menuju rumah sakit Excelent yang berada di bawah naungan perusahaannya.
Ia sungguh tak kepikiran untuk memfotokan resep obatnya dan dikirimkan pada sekretarisnya untuk menghubungi pihak rumah sakit agar mengirimkan obat-obatan itu. Felly terlalu khawatir dengan kondisi suaminya hingga pikirannya tak sampai ke sana.
Beruntungnya ia tak perlu mengantri karena menggunakan hak istimewa sebagai pemilik tempat itu. Felly buru-buru kembali lagi ke rumah setelah mendapatkan apa yang ia cari.
Saat Felly hendak memasuki rumahnya, bertepatan dengan anggota keluarganya yang lain sampai juga. Ia melayangkan tatapan tak suka pada Fenny yang menenteng papper bag dan tengah menyerahkannya pada pelayan.
“Fen, aku mau bicara denganmu,” ajak Felly setelah orang tuanya masuk ke dalam kamar dan menyisakan sepasang saudara kembar itu.
__ADS_1
“Bicara saja, untuk apa meminta izinku, yang berucap kan mulutmu bukan mulutku. Tapi aku tak menjamin akan mendengarnya jika kau mengoceh tak penting,” ujar Fenny dengan wajah sombongnya.
Felly berdecak. “Temui aku di taman belakang, aku akan ke kamarku dulu memberikan obat untuk suamiku,” pintanya. Ia mengayunkan kakinya menuju lantai dua.
“Dih! Nyuruh.” Fenny mencibir saudaranya, tapi kakinya tetap menuju tampat yang disebutkan oleh Felly.
...........
Felly langsung ke taman belakang setelah menyerahkan obat dan air minum pada Danesh.
Sudah ada Fenny yang duduk dengan angkuh, tangannya terlipat di dada. “Cepat katakan, aku sedang memanggil petugas nail art untuk merubah warna kukuku.” Ia mememamerkan jemarinya ke Felly.
Fenny memutar bola matanya malas. “Dih, pria miskin itu mengadu padamu agar dibela?” cibirnya. “Menjijikkan meminta bantuan orang lain.” Ia mencebikkan bibirnya.
“Tak usah basa-basi, katakan kenapa kau melakukannya?”
Fenny berdiri dari duduknya. Kini ia berhadapan langsung dengan saudara kembarnya. Ia tak mau kalah garang dengan wajah Felly yang tengah bergejolak amarahnya.
__ADS_1
“Karena dia pantas mendapatkannya. Orang miskin banyak gaya seperti suamimu itu memang harus diberi pelajaran agar tahu posisinya,” jelas Fenny tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mendengar penjelasan Fenny membuat wajah Felly semakin merah padam karena emosi. Biasanya ia selalu mengalah dan memilih diam jika sedang berseteru dengan kembarannya. Tapi tidak untuk kali ini, Fenny sudah sangat keterlaluan. Pria sebaik Danesh ditambah pria itu adalah suaminya disiksa secara perlahan, membuat Felly mengesampingkan tugasnya sebagai seorang kakak yang selalu melindungi adiknya.
Felly mendorong dada adiknya dengan kasar. “Kau masih makan dan berfoya-foya dengan hasil kerjaku selama ini, berani-beraninya mengerjai suamiku hingga dia dehidrasi. Apa kau itu tak berpikir dulu jika akan melakukan sesuatu? Yang kau lakukan itu bisa membahayakan kesehatannya,” bentaknya.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
__ADS_1
5. Follow instagram aku: heynukha