
“Aku seperti menyembunyikan simpananku dari istriku. Padahal kau adalah istriku,” celetuk Danesh tiba-tiba. Posisinya masih sama seperti tadi.
“Kenapa begitu?”
“Karena aku harus menemuimu secara diam-diam. Ini sungguh menyakitkan untukku dan untukmu. Kita ini sudah seperti orang berselingkuh saja,” kelakar Danesh mengutarakan apa yang ia rasakan.
Felly terkekeh, tangannya ia mainkan di atas lutut suaminya dengan menggambar bulatan-bulatan. “Tidak akan lama, kita harus bersabar seperti ini. Hanya sampai batas waktu Violet habis,” timpalnya.
“Bagimana jika batas waktunya masih lama? Apa kita akan seperti ini terus? Ku rasa aku tak akan kuat melakukan ini dengan kurun waktu yang lama. Aku tetap akan memilih dirimu pada akhirnya.”
“Bagus jika Tuhan masih memberikannya kesempatan.”
“Bagus? Maksudmu? Kau suka kita bersembunyi seperti ini terus? Kau gila, ya? Kita ini suami istri di mata hukum dan kepercayaan kita. Bisa-bisanya seperti seorang selingkuhan,” decak Danesh kesal.
__ADS_1
“Jangan marah-marah, Sayang. Nanti cepat tua, tapi aku tetap cinta,” gombal Felly. “Kita sedang melakukan kebaikan dengan membuat orang lain bahagia. Bersabarlah.”
“Iya, tapi kita melukai diri sendiri. Aku akan melakukan permintaanmu ini selama enam bulan, lebih dari itu aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Violet. Mau tak mau, suka tak suka, kau harus menerima keputusanku,” tegas Danesh dengan dadanya yang sedikit naik turun.
Felly menghembuskan napasnya, ia tak memprotes sedikit pun pada suaminya yang sepertinya mulai emosi. Kepalanya ia dongakkan untuk menatap Danesh dan memberikan sentuhan di rahang tegas itu menggunakan kulit halusnya. Ia bisa melihat lubang hidung suaminya sendiri, untung tak melihat upil yang tersembunyi di dalam sana. “Mari bercinta,” ajaknya untuk menurunkan amarah yang perlahan naik itu.
Berhasil, ajakan itu mampu membawa Danesh kembali ke mode suami biasa. Tubuh Felly terasa melayang saat badan kekar sang suami menggendongnya dan merebahkan di atas ranjang.
...........
Kicauan dari burung-burung di luar tak mengganggu tidur keduanya yang masih polos dan tersembunyi di balik selimut. Setelah menghabiskan satu ronde yang lumayan lama, Danesh dan Felly tertidur pulas tanpa membersihkan tubuh mereka dari peluh.
Justru getaran dari atas nakaslah yang membuat Felly membuka matanya. Ia yang tidur di dekat meja kecil itu pun mengulurkan tangan untuk meraih benda pipih miliknya.
__ADS_1
Felly mengernyitkan keningnya saat melihat nama Violet melakukan video call dengannya. Ia melihat jam sebelum mengangkatnya, ternyata sudah jam dua belas siang. Lama juga tidurnya.
Jempol kanan Felly pun menggeser tombol hijau. “Halo, Violet. Bagaimana kabarmu?” sapanya dengan menanyakan kondisi temannya itu. Ia mengarahkan ponselnya agar terpenuhi dengan wajahnya semua.
“Ya ... begini-begini saja, tak ada perkembangan. Kau baru bangun tidur?” balas Violet bertanya balik. Terlihat wanita dengan pipi yang mengembang itu tengah bersandar di headboard.
Felly mengulas senyumnya. Ia tak ingin berkomentar tentang penyakit Violet, takut melukai hati. “Iya, tidurku terlalu nyenyak karena suamiku pulang,” balasnya.
“Kau sedang bersama suamimu?”
Felly mengangguk. “Iya.” Tangan yang tak memegang ponsel itu mengelus tangan Danesh yang melingkar di perutnya.
Danesh saat ini masih terbang ke alam mimpi dengan memeluk istrinya dari belakang dan menyembunyikan wajah di balik punggung Felly yang sering mendapatkan gigitan kecil jika sang suami sedang gemas.
__ADS_1