Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 50


__ADS_3

Tatapan Felly tajam dan menusuk pada Fenny. Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak dengan adiknya itu. “Awas saja jika kau berbohong,” ancamnya dengan penuh penekanan.


Fenny memutar bola matanya malas, lalu ia berdecak. “Kau menuduhku hanya demi pria yang baru saja kau kenal? Kau tak mempercayaiku? Kembaranmu yang bersama denganmu sedari dalam perut?” Dia tak bertanya, tapi memberikan pernyataan.


“Justru aku sangat mengenalmu dan tahu sifatmu,” timpal Felly. Ia menggandeng lengan suaminya agar duduk di sofa.


“Keterlaluan, kau benar-benar memberikan pengaruh buruk pada kembaranku hingga ia tak mempercayaiku,” tudingnya pada Danesh.


Felly menepis tangan adiknya yang menunjuk suaminya. “Apa kurang peringatanku yang terakhir kali untukmu itu? Akan ku bekukan semua dana yang mengalir untukmu,” tegasnya.


“Jangan! Kakak macam apa kau itu, seharusnya kau membela orang yang sedari kecil bersamamu, bukannya memihak pria yang baru kau kenal dengan asal usul yang tak jelas itu,” kesal Fenny. Ia menghentakkan kakinya dan berlalu pergi meninggalkan sepasang suami istri itu untuk ke kamarnya.


Fenny tak menyukai sifat kembarannya itu. Setelah berkenalan dengan Danesh, Felly menjadi pribadi yang berbeda. Felly menjadi lebih tegas padanya. Itu tak bisa dibiarkan. Danesh benar-benar berpengaruh untuk emosional Felly. Fenny harus melenyapkannya. Ia akan bersekongkol dengan Papanya yang terlihat tak suka juga dengan Danesh.


Selepas kepergian Fenny, Felly melihat seluruh bagian tubuh suaminya. Ia mengecek apakah ada yang terluka atau tidak. Ternyata suaminya baik-baik saja.

__ADS_1


“Dia tak mengerjaimu lagi, kan?” tanya Felly.


“Tidak,” bohong Danesh demi calon anaknya. “Kau kenapa sudah pulang? Ini masih jam kerja,” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Bukankah aku sudah mengatakan akan mengecek kandunganku? Aku menjemputmu. Urusanku di kantor sudah selesai, jadi aku pulang saja,” jawab Felly. Ia berdiri dari duduknya. “Ayo, kau ganti pakaianmu itu,” ajaknya.


Danesh dan Felly pun mengayunkan kaki bersama menuju kamar mereka.


Setelah selesai bersiap, Felly dan Danesh langsung berangkat menuju rumah sakit excelent. Mereka tak mengantri, sebab sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter kandungannya.


“Selamat siang, Nona,” sapa ramah Dokter bernama Selly itu.


Dokter Selly sudah mengetahui maksud kedatangan sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu. Ia memberikan arahan pada Nona Felly untuk tiduran di brankar.


Sedangkan Danesh duduk di samping istrinya dan siap melihat ke layar monitor yang tak seberapa besar itu.

__ADS_1


“Kita cek kandungan menggunakan USG dulu, ya, Tuan dan Nona. Untuk melihat perkembangan buah hati,” tutur Dokter Selly.


Felly mengangguk mengizinkan.


Dokter Selly mulai mengoleskan gel di perut Nona Felly, lalu ia mengarahkan transduser yang sudah ia pegang untuk menyentuh permukaan kulit pada perut Nona Felly.


Ketiganya sama-sama melihat janin yang ada di dalam perut Felly. “Wah ... sepertinya gen kembar Nona Felly sangat kuat, ya. Selamat, Nona akan segera memiliki anak kembar juga,” jelasnya.


Mata Felly dan Danesh berkaca-kaca. Keduanya haru melihat anak mereka.


“Kembar berapa, dok?” tanya Danesh penasaran.


“Untuk saat ini yang terlihat dua, Tuan.”


“Apa masih ada kemungkinan bisa bertambah?”

__ADS_1


“Bisa jadi, sebab ada beberapa kasus ketika di USG menunjukkan dua bayi. Namun waktu melahirkan ada tiga. Ternyata yang satunya malu-malu untuk terlihat,” jelas Dokter Selly.


Danesh menghembuskan napasnya. Ia berharap cukup kembar dua saja. Ia sudah merasakan menjadi kembar empat, terlalu banyak menurutnya.


__ADS_2