
“Aku tahu, aku sudah memikirkan konsekuensi apa yang akan aku dapatkan jika mengambil keputusan itu,” balas Felly. Air matanya mengalir tanpa izin, menandakan hatinya yang sakit. Namun itulah pilihannya.
Danesh tak tega melihat istrinya yang menangis. Lemah sekali dia melihat wanita yang ia cintai bersedih seperti itu. Kaki dengan betis berbulu kasar yang terekspose itu mengayun satu langkah. Ia langsung memeluk Felly ke dalam dekapan hangatnya.
“Kenapa kau egois sekali? Kau memikirkan perasaan orang lain tapi tak memikirkan perasaanmu sendiri. Aku benci kau yang seperti ini, selalu mengalah demi kebahagiaan orang lain,” ujar Danesh dengan maksud mengomeli. Ia memberikan sentuhan lembut di punggung istrinya.
Felly membalas pelukan suaminya. Ia semakin deras mengeluarkan air mata, bahkan tak segan-segan ingus cair keluar dari hidungnya. “Jangan membenciku, karena aku sangat mencintaimu. Namun aku bukan orang yang egois memikirkan perasaanku sendiri untuk hidup penuh kebahagiaan di atas penderitaan orang lain yang juga membutuhkanmu untuk berada di sisinya. Ku mohon, mengertilah posisiku.”
Danesh menghembuskan napasnya kasar. “Hm,” jawabnya singkat.
“Apa kau mau menuruti permintaanku itu?” tanya Felly sekali lagi untuk memastikan.
“Iya,” jawab Danesh singkat dan tak bersemangat.
__ADS_1
“Terima kasih, Suamiku,” balas Felly dengan perasaan yang entahlah, sangat sulit diartikan lagi. Senang dan sedih bercampur menjadi satu. Tak tahu lagi mana yang lebih dominan saat ini.
Danesh melepaskan pelukannya. “Istirahatlah, aku ingin keluar sebentar,” pintanya.
Felly menggeleng. “Aku ingin ke ruangan Mommy.”
Anggukan kepala Danesh berikan sebagai jawaban mengizinkan. “Ayo, aku antar,” ajaknya.
“Kau tahu kenapa aku memintamu untuk berada di sisi Violet?” tanya Felly. Ia menyempatkan membuka pembicaraan saat berjalan menuju ruang rawat Mommy Diora.
Danesh tak menjawab. Ia diam saja dan matanya terus lurus ke depan.
Felly menengok ke kanan, melihat ekspresi suaminya, lalu kembali menatap ke depan. “Violet pernah bercerita padaku, ia sangat menyesal sudah memutuskan pergi meninggalkanmu.”
__ADS_1
Danesh terus membungkam mulutnya, enggan mengeluarkan suara. Namun Felly tetap meneruskan ucapannya.
“Dia selalu berharap jika suatu saat bertemu denganmu lagi, ia ingin memperbaiki semuanya. Ia ingin hidup bahagia sebelum ajal menjemput. Itu juga salah satu nasihatku padanya saat itu, saat aku tak tahu jika teman baruku itu adalah mantan kekasihmu.”
“Disaat secercah cahaya kebahagiaan Violet datang karena salah satu permohonannya pada Tuhan yang ingin melakukan proses persalinannya ditemani olehmu dikabulkan. Sebuah kesedihan kembali hadir dalam hidupnya dengan tiadanya anak kalian berdua.”
“Aku tahu perjuangan Violet untuk mempertahankan janinnya seperti apa. Aku juga seorang wanita, aku memikirkan perasaan Violet yang merasa dirinya tak pantas mendapatkan kebahagiaan karena masa lalunya yang memilih meninggalkanmu.”
“Dari ceritaku itu, setidaknya kau tahu kenapa aku ingin kita berpisah untuk sementara waktu dan ingin kau memberikan kebahagiaan kepada Violet sebagaimana dulu kalian saling mencintai.”
“Stop. Jangan ucapkan sepatah kata lagi. Apa yang dia dapatkan adalah dampak dari keputusannya sendiri. Jika dia memilih jujur dan bertahan denganku, pasti tak akan terjadi hal seperti ini.” Danesh memotong ucapan istrinya. Telinganya terasa berdengung mendengar ocehan Felly. Bukannya ia tak suka istrinya banyak bicara. Namun pembicaraannya tak menarik baginya.
“Danesh ... jangan seperti itu. Kau pun salah karena sudah merusak Violet. Anggaplah ini sebagai salah satu penebus dosamu pada mantan kekasihmu itu,” tegur Felly.
__ADS_1