Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 171


__ADS_3

Danesh tertawa paling keras dan puas. “Apa segini nyali kalian? Bagaimana perasaannya di posisi terpojokkan? Enak?” Ia berjongkok di hadapan mertua dan adik iparnya. “Aku sudah pernah memberikan peringatan, suatu saat nanti keadaan akan berbalik. Kalian malah meremehkanku.”


“Danesh ...,” panggil Daddy Davis dengan suara tegasnya.


Pria yang merasa terpanggil itu memutar kepalanya menatap Daddynya. Ia tak mengeluarkan suara, hanya memberikan isyarat dengan kapalanya yang sedikit disentakkan ke atas.


Daddy Davis mengibaskan tangannya, ia menunjuk kursi di mana Danesh tadi duduk. “Minggir, ini giliranku.”


Danesh menaikkan kedua alisnya sebagai isyarat mengerti. Namun ia terlebih dahulu kembali menatap mertua serta adik iparnya. Tangannya ia letakkan di atas lututnya. “Aku ingin membantu kalian, tapi sayangnya tak ada yang berani membantah Daddyku. Jadi, bersenang-senanglah.” Seringai licik tercetak jelas di wajah tampan itu. Ia memberikan tepukan sekilas di bahu Papa Rey, lalu kembali duduk di kursinya.


“Lex, Ril,” panggil Daddy Davis pada kedua anak buahnya. “Bawa mereka ke ujung kapal,” titahnya.


“Siap, Tuan.” Dua pria berbadan kekar bernama Alex dan Beril itu menjalankan tugasnya. Keduanya mendorong paksa Papa Rey dan Fenny yang terus melawan meronta-ronta serta berteriak meminta dilepaskan namun Daddy Davis tak peduli.

__ADS_1


Dua buah kayu yang memiliki lebar delapan puluh centi meter dan panjang tiga meter itu sudah siap di ujung kapal. Posisinya menggantung, jika terpeleset atau jatuh ke bawah langsung disambut oleh dinginnya air laut.


Anak buah Daddy Davis masing-masing memegangi tali yang sengaja di sisakan untuk berjaga-jaga jika Papa Rey dan Fenny mendadak pingsan atau tergelincir atau pun tertiup angin bisa mereka tarik ke atas lagi.


Kelima anggota keluarga Triple D ikut ke ujung kapal. Mereka berdiri berjejeran menatap wajah ketakutan Papa Rey dan Fenny.


“Tak punya hati sekali keluarga kalian!” sentak Papa Rey dengan jantungnya yang berdebar. Di masa muda, dirinya sangat kuat dan pemberani. Ternyata ada yang bisa melebihi dirinya, besannya sendiri.


“Sebelum kau berhasil memberitahu pada istriku, sudah ku lemparkan kau ke laut. Maka, diamlah dan simpan rapat-rapat rahasia ini jika kau masih ingin hidup,” balas Danesh balik mengancam.


Daddy Davis mengedikkan bahunya tak peduli dengan ocehan tawanannya. “Siram darah hewan segar yang aku minta ke laut,” titah Daddy Davis.


Anak buah Daddy Davis yang lainnya melakukan tugasnya. Ia mengambil ember berisi darah hewan dan membuang cairan merah yang sedikit sudah menggumpal itu ke lautan.

__ADS_1


Darah itu sengaja Daddy Davis persiapkan untuk mengundang hiunya muncul ke permukaan.


Dua sirip punggung ikan predator itu perlahan terlihat dari kejauhan menuju kapal pesiar milik Triple D.


“Keluarga psikopat! Kalian ingin membunuhku sebagai pakan hiu?!” raung Papa Rey menatap tajam besannya.


Daddy Davis, Danesh, Dariush, Delavar, dan Deavenny duduk di kursi yang baru saja disiapkan oleh pelayan kapal.


“Tergantung, kau bisa belajar dari kesalahanmu atau tidak,” jawab Daddy Davis santai.


“Tentu saja sekarang aku sudah belajar dari kesalahan masa laluku setelah aku mendapatkan balasan,” timpal Papa Rey. Ia tahu betul jawaban apa yang baik untuk dilontarkan.


“Oke, jika kau sudah belajar, maka saatnya kita ujian,” ucap Daddy Davis dengan seringai licik di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2