
“Bagaimana kondisinya?” tanya Erland yang napasnya masih terengah-engah karena ia buru-buru datang ke rumah sakit. Ia mengkhawatirkan anak dalam kandungan Fenny.
Felly mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang ia kenal. Ia tak langsung menjawab, namun ia beralih menatap Danesh. “Aku ingin berbicara dengan Erland, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya terkait Fenny. Apa kau mengizinkan?” tanyanya pada suaminya.
Danesh mengangguk. “Tentu saja, selama itu tak membahayakan anakku maka aku akan memberimu izin,” balasnya.
Felly tersenyum getir, lagi-lagi anaknya yang menjadi prioritas. Meskipun ia tahu betul alasan Danesh mau menikah dengannya, tapi entahlah, rasanya tetap sakit saat mendengar alasan Danesh perhatian dengannya bukanlah karena dirinya.
“Aku pergi dulu.”
Danesh mengelus sejenak puncak kepala Felly. “Hati-hati, jangan terlalu lama,” peringatnya.
Felly mengangguk dan berdiri berhadapan dengan Erland. “Ayo, aku akan jelaskan kondisi Fenny padamu. Tapi tidak di sini. Ikut aku,” ajaknya.
Erland menurut, ia mengikuti langkah kaki Felly hingga berhenti di taman rumah sakit. Ia ikut duduk saat wanita pengisi hatinya itu juga mendaratkan pantatnya di kursi berbahan besi.
__ADS_1
Felly menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya melalui mulut secara perlahan. Ia memiringkan duduknya ke kanan agar berhadapan dengan Erland.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Erland. Ada rasa rindu yang perlahan terbalaskan hanya dengan melihat wanita pengisi hatinya itu.
“Berjanjilah padaku dulu, satu hal saja,” pinta Felly dengan matanya yang terlihat memohon.
Erland menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya ada apa?”
“Ayolah, berjanji dulu padaku. Apa pun kondisi Fenny, kau tak akan meninggalkannya,” tutur Felly. “Ku mohon, saat ini dia sangat membutuhkan dukungan darimu.” Tanpa sadar, Felly memegang tangan Erland. Ia sangat takut jika Erland tak mau memenuhi permintaannya.
Felly langsung memalingkan wajahnya agar tak disentuh oleh Erland dan ia juga melepaskan genggaman tangannya. Wanita itu merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke depan menatap bunga-bunga yang indah.
“Istrimu mengalami pendarahan dan dia keguguran. Bayinya tak bisa diselamatkan,” jelas Felly lirih. Hatinya terasa berdenyut seolah merasakan kesedihan adiknya juga.
“Apa?!” Mata Erland membelalak terkejut. Ia pun langsung berdiri dari duduknya. “Bagaimana bisa!” raungnya.
__ADS_1
Felly meraih tangan Erland agar duduk kembali. “Sabar, semua sudah jalan yang digariskan oleh Tuhan. Ini ujian untuk pernikahan kalian berdua, untuk menguji sekuat apa ikatan kalian,” tuturnya mencoba menenangkan.
Erland diam, dia menengok ke kiri untuk melihat Felly yang menghindari kontak mata dengannya. Ia menarik sebelah sudut bibirnya. “Baguslah jika dia sudah tak mengandung anakku lagi, berarti ada alasan untuk aku meninggalkannya.”
Felly yang mendengarnya terkejut, dia menatap Erland. “Kau sudah berjanji padaku tak akan meninggalkan Fenny apa pun keadaannya. Kau tak bisa mengingkarinya,” sergahnya.
Erland mengedikkan bahunya. “Aku hanya mengatakan berjanji saja, aku kan tak mengucapkan janji apa,” timpalnya. Ia merasa ini adalah kesempatan bagus untuk lepas dari istrinya yang menyebalkan itu. Tak apalah dia kehilangan bayinya, toh mau bagaimana lagi, yang sudah meninggal tak akan hidup lagi. Meskipun ada perasaan kecewa yang ia rasakan, karena itu adalah darah dagingnya.
“Erland ...,” panggil Felly dengan penuh penekanan.
“Ya, sayang?” Erland tersenyum manis pada Felly.
...........
...Yo ... kopinya-kopinya, bunganya-bunganya. Aku udah kaya pedagang asongan yang nawarin cangcimen. Wkwkwk....
__ADS_1