
Felly sedari tadi duduk saja di sofa empuk ditemani oleh suaminya. Berkali-kali ia merubah posisinya mencari yang paling nyaman. Memang paling enak tiduran di sofa dengan dipeluk oleh sang suami. Namun apa boleh buat, ada anggota keluarga suaminya yang tengah asik mengobrol. Ia jadi tak enak jika berbuat sesuka hati.
“Suami buleku, bolehkah aku keluar? Aku lelah duduk terus,” izin Felly dengan berbisik di telinga Danesh.
“Boleh. Kita sekalian cek kandunganmu juga. Memastikan anak-anak kita tetap sehat dan baik,” ajak Danesh mengelus lengan istrinya.
Danesh beralih meraih tangan Felly. Ia berdiri terlebih dahulu. “Ayo,” ajaknya agar istrinya juga ikut memisahkan pantat dari sofa.
“Mom, Dad. Aku ingin keluar sebentar, aku mau memeriksakan kandungan istriku,” izin Danesh pada orang tuanya.
Daddy Davis menjawab dengan anggukan kepala. Sedangkan Mommy Diora menjawab dengan oke.
Berbeda dengan tiga kembaran Danesh. Tiga manusia itu justru meminta kakaknya membelikan sesuatu.
“Aku titip ramen,” pinta Deavenny.
“Aku sushi saja,” ujar Dariush.
“Aku udon dan yasinoya saja,” kata Delavar.
“Aku hanya di dalam rumah sakit, kalian titip makanan yang harus ku beli keluar,” decak Danesh menolak permintaan adik-adiknya.
“Pelit!” cibir Dariush, Delavar, dan Deavenny.
__ADS_1
“Sekalian kau itu keluar, cari saja yang paling dekat dari sini,” kompor Deavenny.
“Iya.” Danesh pun menyetujui. Ia dan istrinya bersamaan menuju ruang dokter kandungan.
Felly memposisikan tubuhnya seperti biasanya saat dirinya diperiksa kandungannya. Segala rangkaian pemeriksaan pun dilakukan oleh dokter.
“Semuanya sehat, dan nutrisinya juga cukup,” ujar dokter itu memberitahukan kondisi janin Felly.
Felly mengangguk dengan senyum bahagianya. Dan Danesh mengambil hasil cetakan USG istrinya. Keduanya keluar ruangan tersebut setelah puas menjenguk anaknya. Bukan menjenguk dengan ah ... mantap. Namun menjenguk melihat wujudnya.
“Aku antarkan kau ke ruangan Mommyku lagi, ya? Aku akan membelikan pesanan adik-adikku dulu,” ajak Danesh setelah lima langkah keluar dari ruangan dokter kandungan.
Felly menggeleng. “Aku bosan di dalam sana terus. Aku ikut, ya?” pintanya.
“Tidak, nanti kau lelah. Lebih baik kau di sini saja,” tolak Danesh sangat posesif.
Danesh nampak berpikir sejenak, namun ia mengiyakan permintaan istrinya. “Jangan ke mana-mana sampai aku kembali,” peringatnya setelah menghantarkan dan memastikan istrinya duduk nyaman di taman.
“Iya.” Felly mengangguk. Dan Danesh meninggalkan istrinya dengan berlari agar cepat sampai ke jalan raya untuk naik taksi.
Udara menjelang sore hari terasa sangat sejuk. Tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Felly memijat-mijat betisnya yang pegal.
“Kita bertemu lagi,” ujar Violet yang baru saja datang bersama perawatnya.
__ADS_1
Membuat Felly menengok ke kanan di mana teman barunya itu berada. Ia mengulas senyumnya. “Hi, bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“Ya, begini saja, tak ada perubahan, aku tak akan mungkin bisa sembuh juga. Aku sudah pasrah jika sewaktu-waktu Tuhan memanggilku,” jawab Violet sendu.
“Semoga Tuhan memberimu umur panjang dan kebahagiaan yang melimpah,” doa Felly tulus. “Oiya, bagaimana dengan mantan kekasihmu itu? Apa kau sudah bertemu dengannya dan menjelaskan semua padanya?” tanyanya.
Violet menunduk dengan meneteskan air matanya. Kepalanya menggeleng lemah. “Belum. Aku tak bisa pergi kemana pun. Bahkan sedari awal aku hamil pun sudah dirawat di sini dengan selang infus yang selalu menancap di tanganku. Aku sudah berdoa kepada Tuhan untuk memberikanku kesempatan lagi memperbaiki hubunganku dengan mantan kekasihku itu, namun sepertinya Tuhan belum mengizinkan,” ceritanya panjang lebar.
Felly menggeser tubuhnya ke kanan. Ia mengelus punggung Violet untuk menguatkan teman barunya itu. “Sabar, pasti akan ada waktunya kau bertemu dengannya. Tuhan pasti menjawabmu, jangan lelah untuk meminta.”
Violet menyeka air matanya. Ia menatap Felly. “Besok jadwalku operasi. Aku sangat ingin ditemani oleh Daddy dari anakku saat melahirkan. Tapi, apakah itu mungkin?” ucapnya dengan keraguan.
“Tidak ada yang tak mungkin. Kita memiliki Tuhan. Aku akan bantu mendoakanmu. Berkat dirimu juga yang mendoakan dan menguatkan aku saat itu, kini hubunganku dengan suamiku lebih baik lagi dan kami sudah saling mengutarakan cinta.” Felly menceritakan kisah cintanya pada Violet dengan wajahnya yang tak menunjukkan kebahagiaan. Bagaimana bisa ia memasang raut wajah bahagia saat ada seseorang yang sedih.
“Selamat, aku turut senang mendengarnya.”
Keduanya pun saling mengobrol satu sama lain. Felly terus menguatkan Violet agar tetap tegar dan kuat. Meyakinkan Violet bahwa akan ada masanya kebahagiaan itu datang seperti dirinya.
Obrolan mereka terlalu asik, waktu bergulir terasa cepat. Hingga ada suara baritone yang membuat keduanya menengok secara bersamaan ke arah belakang.
“Sayangku ...,” panggil Danesh.
...........
__ADS_1
...Waduh ... waduh ... kayanya hujan terus lupa ga ngangkatin jemuran. Makanya digantungin lagi. Wkwkwk...
...Kopinya kopinya, bunganya bunganya. Biar kita bisa ngopi di taman bunga sama-sama....