Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 117


__ADS_3

Danesh menyatukan keningnya dengan Felly. “Terima kasih istriku, kau sudah menuruti kemauanku terus. Aku semakin cinta denganmu,” ujarnya, dan berakhir menyatukan bibirnya dengan milik istrinya. Morning kiss yang selalu keduanya lakukan. Namun tak berakhir ke atas ranjang.


Felly memberikan sentuhan lembut di wajah suaminya setelah selesai bertukar saliva dan berperang lidah. Ia menatap lekat pahatan yang tak ada kurangnya sedikit pun. Tampan dan menawan.


“Sudah sepantasnya aku menurutimu. Kau suami yang bertanggung jawab dan sulit ditemukan. Aku akan berusaha mungkin agar kau selalu nyaman berada di sisiku, karena untuk mendapatkan dirimu tidaklah mudah,” balas Felly dengan matanya yang terpancar kebahagiaan.


Danesh beralih merengkuh tubuh Felly dari depan. Ia berusaha tak menekan perut buncit istrinya. “Terima kasih istri cantikku. Kau benar-benar anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk memancarkan cahaya di hidupku yang gelap,” ujarnya. Ia berhenti sesaat untuk mencium puncak kepala wanita yang tak pernah ia rencanakan hadir di dalam hatinya, namun kini sudah memenuhi sebagian besar perasaannya.

__ADS_1


“Selama kita menikah, kau tak pernah meminta sesuatu padaku. Justru aku yang selalu meminta padamu. Mulai sekarang, jika kau ingin sesuatu dariku, katakan saja. Aku janji akan menuruti semua permintaanmu seperti kau yang selalu menuruti permintaanku,” imbuh Danesh.


Felly menggelengkan kepalanya, posisinya yang masih dalam rengkuhan sang suami menjadi saling bergesekan dengan dada bidang terbalut kemeja maroon. Beruntung ia tak memakai make up sama sekali, sehingga tak meninggalkan bekas di kain yang membungkus suaminya.


“Tidak, aku tak membutuhkan sesuatu darimu. Aku hanya ingin selalu berada di sampingmu, menemanimu, dan menua bersamamu hingga maut yang memisahkan kita,” balas Felly sungguh-sungguh. Untuk apa ia meminta materi ataupun barang benda lainnya, jika kebahagiaannya berasal dari suaminya yang sangat manis, lembut, perhatian, dan selalu memperlakukannya penuh cinta kasih.


Danesh mengelus kepala istrinya itu. Sudah sepuluh menit lebih mereka berpelukan. Padahal semalam saja tidur tak pernah terpisahkan. Masih kurang saja mereka. “Kau memang wanita yang tak banyak meminta, bagaimana bisa aku tak terjerat dengan ketulusanmu itu.”

__ADS_1


“Tapi ingat, jika suatu saat nanti kau berubah pikiran dan menginginkan sesuatu dariku, katakan saja,” pinta Danesh. Ia tak ingin hubungannya dengan Felly berat sebelah. Semua harus seimbang agar tak ada yang merasa terbebani.


“Iya, aku pasti katakan padamu,” balas Felly. Ia perlahan mengurai tangannya yang melingkar di tubuh suaminya. “Ayo, kita berangkat sekarang. Sedari tadi apa tak bosan berdiri di sini dan berpelukan terus?” Ia mendongak untuk mengajak Danesh.


“Tak ada kata bosan jika itu bersama denganmu,” goda Danesh. Namun semuanya ia ucapkan secara jujur.


“Selalu saja menggodaku.” Felly mencubit perut suaminya. Ia meraih tangan kekar itu dan menggandengnya. “Ayo kita berangkat ...,” ajaknya bahagia dengan mengangkat tangan kanannya yang menggenggam suaminya.

__ADS_1


Danesh terkekeh. Bibirnya yang dahulu jarang sekali mengulas senyum karena terus memikirkan mantan kekasihnya itu kini selalu berseri. “Menggemaskan.” Jemari di tangan kirinya mencubit pipi tembem istrinya yang kemungkinan mengembang karena usia kehamilan semakin bertambah ditambah porsi makan yang selalu banyak juga.


Empat kaki itu beriringan melangkah menuju basement. Felly menengok ke kanan saat permukaan tangannya terasa mendapatkan kecupan. “Suami buleku semakin romantis saja,” pujinya.


__ADS_2