Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 89


__ADS_3

Dariush dan Delavar—saudara kembar Danesh, menepuk jidatnya bersamaan saat Daddy mereka mengatakan tentang menirukan adegan di film. Mereka yang mengetahui cerita tentang kedua orang tuanya itu pun paham, karena Daddy Davis sering bercerita banyak hal kepada anak-anaknya.


“Kelakuan Daddymu Del.” Dariush menyenggol lengan kembarannya dengan wajahnya yang menahan malu.


Delavar mendengus. “Daddymu juga, kan,” balasnya dengan membalas menyenggol lengan Dariush.


Dariush bergidik geli. “Jika seperti itu, aku tak ingin mengakui dia Daddyku,” kelakarnya.


“Sama,” timpal Delavar.


Keduanya pun saling menengok satu sama lain dan menyunggingkan senyum geli mereka pada Daddynya yang tua-tua keladi, sudah tua kelakuan semakin menjadi. Dariush dan Delavar pun menatap ke arah yang sama, Deavenny.


Saudara kembar mereka yang paling terakhir keluar tengah terharu dengan kedua orang tuanya. Ia tak malu seperti kedua kakak kembarnya, sebab ia gadis yang polos dan tak paham dengan adegan film yang dimaksud. Wanita itu justru berkaca-kaca matanya.


“Daddy dia berarti jika sedang kumat,” kelakar Dariush dan Delavar bersamaan. Mereka menunjuk Deavenny dengan dagu secara bersamaan.


Dua pria yang tak kalah tampan dengan Danesh pun mendekati si bungsu. Mereka langsung merangkul Deavenny yang sedikit lebih pendek dari mereka.


“Cengeng sekali, sedikit-sedikit menangis,” cibir Delavar.


Deavenny mencubit tubuh kembarannya itu hingga mengaduh. “Mereka terlalu so sweet, padahal usia mereka sudah tak muda lagi. Sungguh pasangan idaman sekali,” pujinya dengan hati bahagia melihat keharmonisan orang tuanya.

__ADS_1


Dariush dan Delavar bersamaan mencubit gemas pipi adiknya itu.


“Mereka itu bukannya so sweet, tapi terlalu mesum. Apa lagi Daddymu,” ralat Dariush membenarkan pujian Deavenny.


Delavar mengangguk. “Setuju. Apa lagi Daddy.”


Deavenny memanyunkan bibirnya sebal. “Kalian ini, dasar jomblo. Jadi tak tahu mana so sweet mana mesum.” Ia pun menjitak kepala kedua kembarannya.


“Rasanya aku ingin membelikanmu kaca yang besar dan ku letakkan di mana pun kau berada, agar kau itu mengaca,” cicit Dariush dengan mengusap kepalanya.


“Aku akan ikut menyumbang,” timpal Delavar antusias.


“Menyumbang?” Dariush tertawa sebentar mendengar ucapan Delavar. “Kau pikir aku sedang membuka donasi,” imbuhnya.


“Yang penting kami saling menyayangi,” timpal Dariush.


Rambut rapi Deavenny pun diacak-acak oleh dua perjaka itu.


Membuat Deavenny sebal, butuh waktu yang lama untuk membuat rambutnya curly dan indah untuk dipandang. Sebab ia sangat ingin terlihat cantik di depan seseorang.


“Ini mahal, kalian malah merusaknya.” Deavenny lagi-lagi mengomel.

__ADS_1


“Kau merawat rambutmu juga uang dari kami kerja, tinggal ke salon lagi saja apa susahnya,” sahut Dariush. Ia justru semakin membuat rambut si bungsu lebih berantakan lagi.


“Dariush ...!” seru Deavenny.


“Iya, iya. Maaf. Ku rapikan lagi.” Dariush dan Delavar pun sama-sama mengembalikan rambut adiknya agar tak berantakan.


Dan kedua pria itu lagi-lagi mencubit Deavenny. “Adikku yang malang, adikku yang jomblo.”


Plak!


Deavenny memukul tangan kembarannya. “Jomblo teriak jomblo. Kau waras?”


Mereka pun terkekeh bersama dengan obrolan tak penting itu.


“Dengar, kita ini bukannya jomblo. Tapi menghindari patah hati seperti Danesh dan berakhir menggila seperti dia. Ada untungnya kita tak memiliki kekasih, jadi kita tak dihukum seperti dia,” tegas Deavenny.


Dariush menaikkan sebelah alisnya. “Tak sadar dia jika dirinya juga sudah gila karena cinta,” gumamnya saat melihat mata Deavenny tengah menatap seorang pria.


...........


...Biar ga bosen, Felly sama Danesh terus yang muncul. Aku kasih unjuk kembaran-kembaran Danesh juga....

__ADS_1


...Ringan banget kan konfliknya? Gak bikin kepalanya pusing nyut-nyutan kaya baca Gabby?...


__ADS_2