Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 158


__ADS_3

Felly dipindahkan ke ruang VVIP dengan fasilitas yang sangat lengkap seperti di apartemen.


Setelah menjenguk kedua bayinya dan memastikan kedua anaknya sehat, Danesh kembali ke ruangan istrinya.


Pria itu berhenti beberapa langkah setelah memasuki pintu. Ia melihat sudah ada dua mertuanya dan juga adik iparnya. Ia membiarkan keluarga istrinya menjenguk dan berinteraksi dengan Felly yang sudah hilang pengaruh obat biusnya.


“Anak Mama sekarang sudah jadi ibu. Selamat, Sayang.” Binar bahagia terlukis di wajah tua itu dengan sedikit keriput yang samar.


“Terima kasih, Ma. Maafkan Felly jika selama dikandungan hingga besar selalu merepotkan Mama. Felly sekarang tahu bagaimana susah dan sakitnya melahirkan. Maaf jika dulu Felly pernah nakal,” balas Felly menggenggam erat tangan Mama Kyara dengan posisinya yang tiduran.


Tangan Mama Kyara memberikan usapan di kening putrinya itu. “Felly tak pernah merepotkan, Mama senang merawat putri-putri Mama yang cantik-cantik.” Ia juga memandang dan mengelus Fenny agar tak pilih kasih.


Kedua wanita yang wajahnya mirip itu tersenyum pada Mama Kyara.


Ucapan selamat berganti keluar dari bibir titisan Sadako Yamamura. “Fel, selamat. Boleh lah berikan aku satu bayinya,” kelakarnya.

__ADS_1


“Enak saja, buatlah sendiri.” Bukan Felly yang menjawab, namun Danesh. Ia berjalan mendekati Felly dan duduk di tepi tempat tidur pasien.


Fenny mencebikkan bibirnya pada Danesh. “Siapa yang diajak bicara siapa yang jawab,” cibirnya.


Felly justru terkekeh dengan suaminya yang posesif dan adiknya yang tetap saja sedikit menyebalkan di mata suaminya. “Buatlah dengan Erland.”


“Sudah setiap hari, tapi tak juga menggelembung ini perut. Padahal dulu mudah sekali,” keluh Fenny dengan matanya yang sedikit berair mendambakan seorang anak lagi dalam perutnya.


“Sabar dan terus berusaha.” Mama Kyara menasehati putri manjanya itu.


Danesh menaikkan sebelah alisnya membalas tatapan mertuanya yang ingin sekali ia balas perbuatannya itu. Sabar, sebentar lagi waktunya. “Kau tak ingin memberikan aku selamat?” sindirnya.


Papa Rey mencebikkan bibirnya. “Dih, untuk apa? Untuk cucu-cucuku dari pria tak jelas sepertimu? Cih! Mana sudi aku. Perjelas asal usulmu, jika masuk ke dalam kriteriaku baru aku menerimamu,” balasnya dengan ketus.


“Pa!” sentak Mama Kyara memberikan teguran. Susah sekali merubah sisi arogan suaminya pada sang menantu.

__ADS_1


Danesh mengedikkan bahunya. “Tunggu saja waktunya tiba, kau juga akan tahu. Dan pastikan kau tak memiliki penyakit jantung,” balasnya memberikan senyuman sinis dan kembali mengisi korneanya dengan Felly.


Pria berdarah Finlandia itu membiarkan Mama Kyara dan Fenny mengobrol. Ia tetap menemani istrinya namun tak mengeluarkan suara. Hanya memberikan usapan di puncak kepala Felly dan tak melepaskan kuncian penglihatannya dari wajah yang semakin cantik setelah melahirkan itu.


Papa Rey memilih keluar daripada berada di dalam dan ingin ribut terus dengan Danesh.


Waktu terus bergulir, jam makan malam pun datang.


“Kau mau menitip makanan? Kami akan keluar mengisi perut,” tawar Mama Kyara pada Danesh.


“Boleh jika tak merepotkan,” balas Danesh sopan. Ia tak kurang ajar dengan Mama Kyara, sebab wanita paruh baya itu pun baik dengannya.


“Oke.”


Mama Kyara dan Fenny pun melenggang keluar kamar rawat Felly. Dan menyisakan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


Danesh mengulas senyum bahagianya kepada Felly. Mengulangi kecupan yang ia berikan saat persalinan berlangsung. “Kau hebat, Sayang. Kau berhasil melewati masa kehamilanmu dan melahirkan dua bayi kita dengan selamat,” ucapnya memberikan pujian. “Aku sangat bahagia dan bersyukur memiliki dirimu.”


__ADS_2