
Danesh lagi-lagi merasakan perutnya tak enak. Fenny sungguh keterlaluan mengerjainya. Tubuhnya sekarang terasa lemas akibat bolak-balik ke toilet terus, ditambah Tuan Besar Rey memberikannya perintah untuk mengepel seluruh rumah besarnya. Semuanya harus bersih ketika semua anggota keluarga Wilson pulang ke rumah.
Benar-benar niat memberikan neraka untuk Danesh. Rumah utama keluarga Wilson sangat besar, ada tiga lantai pula. Butuh waktu seharian mungkin untuk membersihkannya jika sendirian karena ia harus mengepel menggunakan kain, sehingga Danesh harus berjongkok untuk membersihkan lantainya.
Danesh membanting dengan asal kain yang ia pegang. “Sialan ...! Baru kali ini ada orang yang berani mengerjaiku,” kesalnya saat perutnya kembali mulas. “Jika tak ingat ada anakku yang dipertaruhkan, sudah ku remukkan tulang-tulang mereka.”
Danesh meninggalkan begitu saja pekerjaannya. Ia berlari secepat mungkin menuju toilet terdekat. Ia menggedor pintu itu karena ada yang memakainya, sepertinya pelayan lain ada yang di dalam.
“Cepat ... aku sudah tak tahan lagi, rasanya ingin keluar sekarang,” teriak Danesh agar orang yang di dalam mendengarnya. Ia tak bisa berjalan lagi ke toilet yang lain, jaraknya terlalu jauh. Takut akan berceceran di lantai jika ia nekat untuk berjalan lagi.
“Sebentar.” Orang di dalam sana ikut berteriak.
Terdengar bunyi air dari flush yang ditekan. Orang yang ada di dalam langsung keluar setelah selesai. Ternyata Parman. “Kau kenapa ke toilet terus? Sakit?” tanyanya.
“Aku diracun oleh Fenny,” jawab Danesh. Ia tak memperdulikan lagi Parman yang penasaran. Ia langsung masuk ke dalam untuk membuang hajatnya.
Ini sudah kesekian kalinya Danesh membuang kotoran dalam perutnya dalam bentuk cairan. Bahkan tak bisa dihitung menggunakan jari lagi.
__ADS_1
...........
“Nona, sudah saatnya pulang. Apakah anda ingin kembali ke rumah larut malam lagi atau tepat waktu?” tanya Stefany. Setiap hari ia harus menemani bosnya itu, meskipun Nona Felly sudah memintanya untuk pulang, tapi ia tak mau.
“Kita pulang sekarang saja.” Felly segera merapikan dokumen yang memenuhi meja kerjanya.
“Aku telfonkan supir Nona Felly untuk menyiapkan mobil di depan lobby,” tutur Stefany. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Pak Maman.
“Ayo,” ajak Felly pada sekretarisnya untuk keluar ruangannya. Ia sudah siap untuk kembali ke rumah.
Felly merasa tak perlu lagi menghindari Erland dan Fenny, sebab ia sudah memiliki suami ... sementara. Ia langsung masuk ke dalam mobil dengan perasaan bahagia akan melihat wajah suaminya.
Suasana rumahnya sepi, biasanya ada Fenny yang tengah menonton TV atau Papa dan Mamanya yang menikmati suasana sore di taman.
“Fenny dan yang lainnya ke mana?” tanya Felly pada salah satu pelayan yang berpapasan dengannya.
“Tuan, Nyonya, dan Nona Fenny sedang pergi ke mall,” jawab pelayan itu.
__ADS_1
“Oh ... kalau suamiku?”
“Tadi saya lihat ada di toilet belakang, Nona.”
Felly langsung menuju tempat yang diberitahukan. Pas sekali Danesh baru keluar dari sana dengan wajah lesu.
“Kau sakit?” Felly mendekat dengan perasaan khawatirnya. Ia berjinjit agar tangannya sampai untuk meraih kening Danesh.
“Aku tak apa, hanya diare saja gara-gara adikmu memberikanku obat sialan itu,” jelas Danesh tanpa menutupi sedikit pun. Ia tak berniat untuk mengadu, tapi ia tak ingin berbohong.
“Fenny memberimu obat pencahar?”
Danesh mengangguk.
“Keterlaluan, aku akan menegurnya nanti. Sekarang kau lebih baik istirahat saja.” Felly mengajak suaminya untuk ke kamarnya. Tak tega melihat Danesh yang lemas.
...........
__ADS_1
Sambil nunggu cerita up, yuk baca juga novel karya temen aku yang ga kalah seru ceritanya. The Perfect Match. Update setiap hari 🥰