Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 139


__ADS_3

Danesh membawa Violet ke sebuah ruangan di mana anak mereka diawetkan. Ia meminta izin kepada petugas yang ada di sana untuk melihat anaknya lagi.


Felly dan kedua orang tua Violet pun ikut. Mereka akan menguatkan Violet jika wanita lemah itu tak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.


“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Violet dengan wajah bingungnya. Ia berada di kursi roda dengan sesekali meringis menahan bekas jahitan diperutnya yang masih terasa sakit.


“Kau sudah berjanji padaku untuk tetap tegar. Maka tepatilah janjimu itu,” peringat Danesh lembut tanpa menjelaskan apa pun. Ia ingin Violet melihat langsung putra mereka.


Petugas medis itu membawa bayi mungil yang sudah terbujur kaku ke hadapan Danesh dan Violet.


“A-apa itu anak kita?” tanya Violet dengan suaranya yang bergetar dan tenggorokannya terasa tercekat.


Danesh merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Violet. Tangannya mengelus punggung mantan kekasihnya dengan lembut untuk menguatkan Violet. “Iya, itu anak kita.”

__ADS_1


Semakin tercekat tenggorokan Violet, luruh sudah air matanya. “Ma-maksudmu, a-anak kita, sudah ti-ada?”


Danesh mengangguk memberikan jawaban. Ia mengelus lembut rambut Violet agar sedikit tenang. “Terimalah takdir ini dengan lapang dada.”


Bibir bawah Violet terlihat digigit sendiri oleh sang pemilik raga. Kepalanya menggeleng tak percaya. “Be-berikan bayi itu pa-daku,” pintanya terbata-bata pada petugas medis.


Danesh memberikan isyarat anggukan kepada petugas medis tersebut.


Tubuh mungil yang kaku itu sudah berada di gendongan Violet. “Anakku, kenapa kau meninggalkan Mommy terlebih dahulu.” Ia terus menangis dan menciumi seluruh wajah putranya.


Felly dan kedua orang tua Violet melihat hal itu dari dekat pintu masuk. Mata mereka berkaca-kaca. Ketiganya tahu betul sekeras apa Violet mempertahankan kehamilan itu.


Danesh mengelus rambut halus anaknya. “Kita belum memberikan nama untuknya.”

__ADS_1


“Amadeo Benedict, kasih Tuhan yang suci,” tutur Violet memberikan nama pada putranya beserta artinya.


“Nama yang bagus. Amadeo Benedict Dominique.”


Tak ada puasnya Violet bertemu dengan putranya. Ia ingin terus memeluk tubuh mungil itu. Namun Danesh memaksa agar wanita itu mau melepaskan putra mereka.


Danesh memikirkan kondisi mantan kekasihnya yang sedang sakit juga. Ia membawa kembali Violet ke ruang rawat untuk beristirahat.


Di dalam ruangan, Violet terus melamun menatap langit-langit dengan air mata yang keluar tanpa henti. Ia masih sedih kehilangan bayi yang ia jaga dengan sangat hati-hati.


“Aku turut berduka.” Felly menepuk pundak Violet tiga kali. Ia duduk di kursi samping ranjang pasien.


Tepukan itu membawa Violet kembali ke dunia nyata. Ia menengok ke samping hingga dua bola matanya saling berpandangan dengan teman barunya. “Terima kasih. Atas doamu, aku masih diberikan kesempatan untuk bertemu mantan kekasihku dan melakukan proses persalinan ditemani olehnya,” ucapnya lirih.

__ADS_1


Felly mengulas senyum tipis nan manisnya sebagai balasan.


Sedangkan Violet, ia kembali terlihat bersedih dan terpukul. “Apa aku memang tak pantas untuk merasakan kebahagiaan sebelum batas waktuku habis? Sepertinya kesalahan di masa laluku sangat fatal,” gumamnya.


__ADS_2