
Danesh diam, dia tak ingin membantah. Memang itu adalah kesalahannya.
“Mulailah setia, Danesh, dengan satu wanita, jangan semakin gila saja hanya karena cinta,” tambah Geraldine memberikan nasihat.
“Dengarkan dulu ceritaku. Aku belum selesai menceritakan semuanya,” timpal Danesh datar.
Danesh pun menceritakan seluruh kejadian mulai dari awal pertama bertemu dengan Felly, malam pertamanya dengan Felly, hingga kehamilan Felly pada saudaranya.
“Aku tak bermain banyak wanita di sini. Aku hanya bermain dengan istriku itu, karena aku terpaksa dan membutuhkan uang. Dan kesalahanku juga karena tak memakai pengaman.” Danesh tak menceritakan jika Felly mencegahnya saat dirinya mencapai puncaknya. Ia tak ingin keluarganya membenci dan menyalahkan istrinya.
“Jadi aku harus bertanggung jawab dengan darah dagingku sendiri. Aku dan istriku sudah membuat surat perjanjian, kami hanya akan menikah sampai anak kita lahir,” tambah Danesh.
“Maksudmu, setelah anakmu lahir, kalian akan berpisah?” tanya Geraldine. Dijawab anggukan kepala oleh Danesh.
__ADS_1
Dan seketika Danesh mendapatkan toyoran dari Delavar. “Kau itu, makanya seringlah beribadah. Kau harus ingat, di kepercayaan yang kita anut, tak mengenal perceraian. Kau menikah sekali untuk seumur hidupmu. Hanya maut yang bisa memisahkan kalian,” khotbahnya.
Semuanya mengangguk setuju.
“Makanya, jika kau belum ingin serius dengan pernikahan. Lebih baik hati-hati dalam bertindak. Sekarang kau terjebak dengan pernikahanmu itu. Kau tak akan bisa meninggalkan istrimu untuk bercerai,” omel Dariush dengan wajah seriusnya.
“Sudahlah, untuk apa kalian mengomelinya? Nasi sudah menjadi bubur dan bubur tak akan bisa menjadi nasi goreng yang lezat lagi,” timpal Deavenny. Ia melingkarkan tangannya di pundak Danesh yang ada di sampingnya.
Semua mata menatap Danesh dan menunggu jawaban yang akan di lontarkan.
Danesh mengedikkan bahunya. “Aku juga tak tahu perasaanku,” jawabnya santai.
Dariush, Delavar, Deavenny, Gerald, dan Geralndine pun membuang muka mereka dengan memutar bola mata masing-masing.
__ADS_1
“Oke. Sepertinya kita harus mencerahkan pikiran Danesh tentang pernikahannya ini.” Dariush kembali mengajak semuanya berbincang serius. “Ayo kita satu persatu mengutarakan pendapat agar dia tak bodoh lagi akan cinta,” ajaknya.
“Pertama, kau sudah menikah dengan seorang wanita. Entah itu kau cinta dengan dia atau tidak, tapi kalian sudah mengucapkan janji suci di dalam Cathedral. Kau dan istrimu sudah terikat bersama, kalian tak akan bisa lagi berpisah,” ujar Dariush. Ia lalu menatap Delavar untuk melanjutkan.
“Kedua, lupakan perjanjian bodoh kalian itu. Kalian membuat perjanjian itu sama saja mengambarkan bahwa kalian berdua bukanlah orang yang beriman dengan kepercayaan kalian,” imbuh Delavar. Matanya beralih menatap Deavenny.
“Ketiga, ini bukan lagi masalah hati kalian berdua. Tapi ini adalah masalah kau, istrimu, dan Tuhan. Ingat! Kita tak mengenal perceraian, kita menikah satu kali dan untuk selamanya. Ketika kau sudah mengucap janji suci, maka kalian sudah terikat bersama untuk sekarang dan selamanya.” Deavenny menatap Gerald untuk melanjutkan.
“Keempat, lupakan Violet, mantanmu yang sudah tak jelas keberadaannya. Jangan terlalu berharap dengan mantan. Sebab, mau dipaksakan bagaimanapun kalian sudah tak akan bisa bersama lagi.” Terakhir, Gerald memberikan tanda pada kembarannya untuk memberikan nasihat pada Danesh.
“Kelima, dan ini adalah hal yang paling penting dan wajib kau lakukan. Mulailah membuka hati untuk istrimu, cintai dia sebagaimana kau mencintai keluargamu,” ujar Geraldine.
Jika sedang berbicara hal serius, wajah keluarga Dominique dan Giorgio itu mendadak menjadi tegang semua, dan tentunya menjelma menjadi orang yang bijak. Padahal, biasanya mereka akan saling bercanda dan mengejek satu sama lain saat berkumpul.
__ADS_1