
“Kau gila, ya? Kau bisa membunuhnya!” seru Danesh pada adiknya sendiri. Ia langsung berdiri dan mendekati dua tubuh tak berdaya itu.
Danesh mengecek nadi yang ada di pergelangan tangan dan juga leher mertuanya, dibantu oleh Daddy Davis mengecek Fenny. Keduanya lalu beralih menatap Delavar yang kini tengah tertawa terbahak-bahak.
“Pegangi dia!” perintah Daddy Davis pada anak buahnya. Dijawab anggukan oleh pria-pria bertubuh kekar terbalut baju berwarna hitam.
Delavar masih terwata terbahak-bahak hingga perutnya sakit. Namun tubuhnya perlahan berdiri dan berlari untuk menghindari anak buah Daddynya yang hendak menangkapnya. “Ekspresi kalian lucu sekali, aku hanya memberi mereka obat bius,” selorohnya terpingkal-pingkal.
“Bocah sialan ...! Kau mengerjai kami semua, ku kira kau akan menjadi pembunuh!” raung Dariush kesal. Ia ikut bangkit dari duduknya.
“Ayo kita kejar ...!” seru Deavenny antusias.
Dan terjadilan kejar-kejaran di atas kapal itu. Si kembar Triple D dan anak buah Davis semuanya ingin menangkap Delavar. Daddy Davis hanya menonton saja.
Hap!
“Ketangkap, Tuan.” Salah satu anak buah Davis berhasil mengunci tubuh Delavar.
Delavar yang tubuhnya lemas akibat tertawa terbahak-bahak itu mudah sekali untuk dilumpuhkan.
“Pegangi tangan dan kakinya,” titah Deavenny pada anak buah Daddynya.
Tubuh Delavar sudah terlentang menghadap langit dan tak bisa bergerak karena ada empat orang yang memegangi tangan serta kaki si bocah tengil itu.
“Rasakan ini, akibat kau mengerjai kami semua,” tutur Dariush yang sudah berjongkok di dekat Delavar bersama Danesh dan Deavenny.
“Kau sudah membuat kami hampir jantungan,” tambah Danesh.
Danesh, Dariush, dan Deavenny mulai memainkan jari-jari mereka untuk menggelitiki Delavar.
__ADS_1
Delavar tak bisa menahan rasa geli itu, ia memohon ampun untuk dilepaskan. Namun tak ada ampunan dari kembarannya.
Daddy Davis mengangkat dua sudut bibirnya dan kepalanya bergeleng melihat anak-anaknya yang sudah dewasa namun tetap ada sisi kekanakannya. Beruntungnya dia memiliki anak-anak yang bisa menempatkan diri saat di dalam keluarga atau di luar keluarga.
“Sudah cukup!” ujar Deavenny tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka menggelitiki Delavar.
“Kenapa?” tanya Danesh.
“Lihat.” Deavenny menunjuk celana jeans yang menutupi area bawah Delavar.
Danesh dan Dariush melihat ke arah yang ditunjuk Deavenny. Ketiganya langsung menjauh dari Delavar.
“Iyuh ... kau mengompol,” ujar ketiga kembar D bersamaan. Mereka menggeliatkan tubuh seolah jijik.
Delavar sudah dilepaskan oleh anak buah Daddynya. Ia berdiri dari posisinya. “Sialan ...!” serunya dengan malu.
“Sudah besar masih mengompol, memalukan,” ejek Deavenny dengan tertawa dan menyembunyikan tubuhnya di balik Daddy Davis.
Delavar menghentikan langkahnya yang hendak mengejar Danesh, Dariush, dan Deavenny. “Ya, Dad.” Ia pun memasuki kamarnya yang ada di kapal itu untuk membersihkan dirinya.
...........
Satu minggu berlalu, keluarga Triple D sudah mengantarkan Papa Rey dan Fenny ke Indonesia. Danesh tak mempertemukan mertua serta adik iparnya pada istrinya, sebab dirinya tak ingin Felly banyak mengajukan pertanyaan dan curiga dengannya.
Danesh menepati ucapannya untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak milik mertua dan adik iparnya. Namun ia juga bernegosiasi dengan Papa Rey agar diizinkan mengutus orang kepercayaannya mengurus bisnis keluarga Wilson. Mengingat mertuanya sudah tak muda lagi dan Fenny pun otaknya tak terlalu pintar.
Papa Rey yang sudah percaya dengan keluarga Dominique itu memberikan izin. Kejadian di kapal pesiar itu sudah ia lupakan dan tak membuatnya sakit hati. Dia merasa itu balasan yang cukup adil atas perbuatannya.
Pria keturunan Finlandia yang kini memiliki dua anak itu semakin lengket dengan istrinya. Ia memeluk tubuh Felly dari belakang dan memandangi kedua anaknya yang lebih banyak tidur daripada bermain dengannya.
__ADS_1
“Kenapa mereka selalu memejamkan mata? Apa mereka malas melihat wajah kita?” tanya Danesh bingung. Ia menggesek-gesekkan dagunya di pundak Felly yang sengaja ia loloskan pakaian atasnya.
“Karena mereka masih bayi. Kalau sudah besar ya mereka akan terus mengajak kita bermain,” balas Felly lembut. Tangannya terus memberikan usapan di rambut suaminya yang kepalanya menempel dengannya.
“Aku ingin mereka cepat besar, mau aku ajak mereka bermain salju,” seloroh Danesh tak lupa meninggalkan gigitan di punggung istrinya karena gemas melihat anak-anaknya yang baru saja menggeliat lucu.
“Aduh ... kau itu selalu menggigitku,” keluh Felly memberikan cubitan di tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
Danesh memberikan kecupan dibekas gigitannya. “Maaf. Ingin sekali aku cubit pipi Annora dan Agathias karena menggemaskan, tapi kau selalu tak memperbolehkan.”
“Tentu saja, itu penyiksaan terhadap anak sendiri,” omel Felly. Tubuhnya terasa diputar oleh suaminya hingga ia kini menghadap Danesh.
“Oke, sebagai gantinya, cium aku,” pinta Danesh menunjuk bibirnya.
“Biasanya juga kau langsung menyosor,” timpal Felly mencubit gemas hidung suaminya yang mancung.
“Ayo, cium aku. Cepat. Daripada aku cubit pipi anakmu itu,” ancam Danesh dengan bercanda.
“Dasar bayi besarku.” Felly menyatukan hidungnya dengan suaminya. Ia menggerakkan kepalanya hingga kedua hidung itu saling bergesekan satu sama lain. Dan setelah puas, ia baru mendarakan bibirnya dengan suaminya. Memberikan apa yang diminta oleh pria yang sangat ia cintai itu. “I love you,” ucapnya setelah menyudahi pagutannya.
“Tak perlu mengatakannya terus. Aku juga sudah tahu jika kau mencintaiku,” balas Danesh semakin mengeratkan pelukannya. Ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di puncak kepala istrinya.
Ponsel di atas nakas terdengar bergetar seperti ada panggilan masuk.
“Ponselmu, sepertinya ada telepon,” ujar Felly memberitahu suaminya.
Danesh mengurai pelukannya. Ia mengambil benda pipih di atas nakas itu dan melihat nama yang tertera di layarnya.
“Siapa?” tanya Felly ingin tahu.
__ADS_1
“Dokter yang merawat Violet,” jawab Danesh dengan memperlihatkan layar ponselnya ke istrinya.