
“Hei, jangan menangis. Aku tak apa, justru aku lega Danesh bisa mendapatkan istri sebaik dan setulus dirimu. Aku yang merasa bersalah, karena aku yang membuat kalian harus terpisah saat masa kehamilanmu itu. Seharusnya kau tak perlu menyembunyikannya dariku dan berujung menyiksa diri sendiri,” balas Violet tulus. Setelah mengetahui keadaan yang sesungguhnya, ia tak merasa sakit hati sedikit pun.
“Terima kasih atas kebesaran hatimu,” balas Felly masih dengan perasaan tak enaknya. Meskipun Violet mengatakan baik-baik saja, namun hatinya yang perasa ini tetap saja tak bisa tenang.
Kornea mata Violet kini beralih terisi mantan kekasihnya. Ia mengulas senyum dengan setetes air mata yang luruh menerobos kelopak matanya. “Danesh, aku minta maaf jika pernah melukai hatimu. Semua aku lakukan karena aku takut melihatmu bersedih. Tapi sekarang aku tenang karena ada Felly di sampingmu,” ucapnya dengan tulus.
Danesh mengangguk sekilas. “Semua sudah berlalu. Aku pun memiliki kesalahan denganmu. Kita saling memaafkan tanpa membenci satu sama lain.”
Violet mengulas senyumnya dan air matanya lagi-lagi keluar. Ada perasaan yang membuat hatinya nyaman saat ini melihat orang yang ia cintai hidup bahagia. “Fel, sini. Duduk di sampingku. Ada yang ingin aku katakan padamu,” pintanya menepuk sisi kosong di sebelahnya.
__ADS_1
Felly mengangkat kepalanya untuk menatap Violet, wanita yang sedang ia lihat itu mengulas senyum manis di wajah. Ia pun memberanikan diri untuk duduk di samping Violet bersama Agathias yang ia gendong.
“Bolehkah anakmu ditidurkan di sisiku? Aku ingin tahu rasanya tidur di samping seorang anak,” pinta Violet dengan memohon.
“Tentu.” Felly membaringkan Agathias di samping Violet. Ia tersenyum saat bayinya tak rewel berada di dekat orang lain.
Violet sedikit memiringkan tidurnya untuk mengajak bermain Agathias. “Tampan, siapa namanya?” ucapnya seolah mengajak bayi itu bicara. Ia menahan bibirnya untuk tak menangis, ia merindukan bayinya yang belum sempat menyapanya.
Tangan Felly memberikan tepukan lembut di punggung Violet yang tertidur miring. “Anggap anak-anakku layaknya anakmu juga. Kau bisa mengajak mereka bermain. Semangatlah untuk terus berjuang melawan sakitmu,” imbuhnya memberikan dukungan.
__ADS_1
Violet menatap bayi yang digendong oleh Danesh dan tersenyum lembut. “Boleh kah Annora tidur di sampingku juga?”
Felly memberikan isyarat anggukan kepala kepada suaminya agar membaringkan Annora di samping Violet. Dan kedua tubuh mungil itu sudah berada di sisi kanan dan kiri Violet.
Felly ikut senang melihat Violet yang bahagia bermain dengan anak-anaknya.
“Fel, terima kasih karena kau sudah menyembuhkan luka hati Danesh akibat keputusanku. Terima kasih sudah rela membagi kebahagiaan untukku. Aku tak pernah menyesal meninggalkan Danesh, karena sekarang aku lega mengetahui penggantiku adalah orang yang tepat untuk mendampingi Danesh selamanya,” tutur Violet setelah dua bayi mungil beralih di gendongan Felly dan Danesh lagi.
Felly menganggukkan kepalanya dan mengulas senyum. Ia bingung ingin membalas apa.
__ADS_1
“Bisakah aku meminta sesuatu pada kalian berdua? Mungkin ini menjadi permintaan terakhirku pada kalian,” pinta Violet dengan tatapan matanya yang memohon.
“Katakanlah.” Felly dan Danesh berucap bersamaan. Mereka akan mencoba mengabulkan permintaan Violet jika masih bisa dicerna oleh akal sehat.