Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 137


__ADS_3

Brankar itu mulai di dorong oleh perawat keluar ruang bersalin. Tuan dan Nyonya Dwarts serta Felly langsung berdiri dari duduk mereka.


“Bagaimana kondisi putriku dan cucuku?” tanya Nyonya Dwarts kepada Dokter yang memang ingin keluar menjelaskan kondisi Violet pada Tuan dan Nyonya Dwarts.


“Putri Nyonya baik-baik saja. Namun, saya mohon maaf karena belum bisa menyelamatkan cucu anda,” jawab Dokter itu lembut dengan nada penuh penyesalan.


Tuan Dwarts nampak menenangkan istrinya yang terlihat terpukul dan mendadak lemas tubuh tua itu. Ia mengelus lengan istrinya memberikan kekuatan. “Ingat, ini semua pasti rencana Tuhan yang terbaik.” Ia selalu mengingatkan jika semua peristiwa yang tak terduga pasti atas kehendak Tuhan agar mereka terus beriman dengan kepercayaan yang mereka anut.


“Aku ikut berbela sungkawa,” tutur Felly. Ia melihat arah pintu setelah kedua orang tua Violet pergi menyusul perawat yang mendorong brankar tadi.


Felly menunggu suaminya keluar, namun tak kunjung terlihat batang hidungnya.

__ADS_1


“Dok, maaf. Bagaimana keadaan pria yang menemani Violet melahirkan?” tanya Felly pada Dokter yang masih ada di sana.


“Masih berada di dalam, Nona.”


“Boleh aku masuk untuk melihatnya?”


Dokter itu memberikan izin. Sudah tak ada pasien yang hendak melahirkan lagi pada hari ini. Tugasnya tersisa untuk mengurus bayi dari pasien VVIP nya yang masih enggan untuk dilepaskan oleh sang Daddy.


Felly tak mengeluarkan suaranya. Ia langsung berdiri di belakang Danesh. Memeluk tubuh kekar itu dari belakang untuk menguatkan suaminya agar tegar. Kepalanya ia tempelkan di punggung Danesh. Ia pun ikut menangis seolah merasakan kehilangan juga.


“Biarkan dia pergi dengan damai. Tuhan menyayanginya lebih dari dirimu,” ujar Felly.

__ADS_1


Mendengar suara istrinya, membuat Danesh memutar tubuhnya, tangannya masih terus menggendong anaknya. “Aku Daddy yang tak berguna. Aku tak pernah ada untuknya dan dia tak pernah merasakan kasih sayangku selama ini. Sekarang, dia memilih pergi meninggalkan aku tanpa memberikan aku kesempatan merawatnya,” rutuknya pada diri sendiri.


Felly mengulurkan kedua tangannya untuk mengusap air mata suaminya dan berakhir terus mengelus lembut wajah Danesh. “Kau tak bersalah, sedari awal kau tak tahu tentang kehamilan Violet. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku tahu kau orang yang bertanggung jawab. Jika kau mengetahui hal itu, pasti kau akan merawat mereka sama seperti kau merawat aku dan anak-anakku,” balasnya agar Danesh berhenti menyalahkan diri sendiri.


“Bisakah kau memelukku?” pinta Danesh. Ia sangat ingin memeluk istrinya, namun ia masih menggendong putranya yang masih konsisten tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


“Tentu.” Felly memeluk tubuh Danesh dari samping agar tak mengapit bayi itu. Ia mendaratkan kepalanya di lengan suaminya. “Rencana Tuhan lebih indah daripada rencana kita,” nasihatnya agar Danesh mau melepaskan bayi itu dengan damai.


Ada Felly di sisinya untuk menguatkan, membuat Danesh perlahan bisa melepaskan putra pertamanya. Ia mengecup kening mungil itu dan meninggalkan setetes bulir bening dari matanya. “Pergilah dengan damai, anakku. Daddy menyayangimu. Sampai bertemu di surga nanti jika saatnya Daddy tiba untuk menyusulmu. Ingatlah wajah Daddymu yang tampan seperti dirimu, sambutlah aku saat waktuku juga tiba.”


Felly tak kuasa menahan tangisnya, melihat sisi rapuh suaminya ternyata sesakit itu. Tangan kanannya terulur mengelus pipi mungil itu, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap tubuh bagian belakang suaminya. “Selamat jalan wahai raga yang tak berjiwa. Mommy Felly juga menyayangimu.”

__ADS_1


__ADS_2