
Danesh menarik tangan Felly dan membawa tubuh itu ke dalam dekapannya. Setetes air mata keluar dari sudut matanya, rasanya sakit sekali hatinya saat ini. “Jangan pergi, tetaplah di sisiku. Kita bisa mencari jalan lain bersama,” pintanya.
Felly membalas suaminya, melingkarkan kedua tangannya dengan wajahnya yang basah dengan air mata. “Aku tidak pergi, aku hanya kembali ke negara asalku. Aku selalu ada di sisimu, hanya jarak saja yang memisahkan kita.”
“Itu sama saja kau pergi, Sayang. Aku tak kuat jika sehari saja tak melihatmu, tak memelukmu, tak menciummu, tak melakukan kebiasaan yang setiap hari kita lakukan. Kita tinggal di Finlandia, ya? Aku tetep akan memenuhi janjiku untuk berada disisi Violet dan membuatnya bahagia disisa umurnya. Tapi aku juga ingin selalu berada disisi wanita yang aku cintai yaitu kau, istriku,” pinta Danesh mengiba. Ia enggan untuk melepaskan pelukannya.
“Danesh, suamiku. Aku tetap harus ke Indonesia, aku harus mengajarkan pada Fenny untuk menggantikan aku bekerja sebelum akhirnya aku ikut tinggal bersamamu ke negaramu. Anggap saja kita sedang melakukan hubungan jarak jauh. Walaupun jarak memisahkan kita, tapi hati kita tetap sama,” tutur Felly mencoba menjelaskan maksudnya pergi.
“Aku juga tak tega jika hidup dalam satu negara yang sama dengan Violet, aku takut jika suatu saat nanti dia akan terluka saat mengetahui kenyataan ini. Ku mohon, mengertilah tujuanku,” imbuh Felly.
__ADS_1
Danesh merenggangkan tangannya. Wajahnya sedikit ia jauhkan hingga dirinya dapat melihat istrinya. “Bagaimana jika aku rindu denganmu? Aku tak kuasa menahan itu,” rengeknya.
Felly mengusap lembut rahang tegas Danesh. “Sayang, kita bisa video call, kita hanya berpisah jarak saja. Aku tetap akan berkomunikasi denganmu.”
Danesh menyatukan keningnya dengan Felly, pandangan keduanya sangat dekat. Hembusan hangat dapat mereka rasakan satu sama lain.
“Bagaimana jika aku ingin memelukmu? Ingin menciummu? Ingin bermanja denganmu? Ingin menjenguk anak-anakku?” tanya Danesh lagi.
Kedua tangan Felly menyentuh pipi Danesh. Ia memegangi wajah suaminya terus dan mengarahkan kepadanya. “Dengar, Sayang. Kau bisa menemuiku setiap weekend jika kau mau. Aku tak akan menutup aksesmu untuk bertemu denganku. Tapi, kau tetap harus menjaga perasaan Violet,” jelasnya mengelus lembut kulit suaminya yang tak memiliki bulu kasar di sekitar wajah.
__ADS_1
“Sungguh? Kau berjanji?”
Felly tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Hm ....”
Danesh kembali memeluk Felly. “Kenapa kau baik sekali? Kenapa kau selalu memikirkan perasaan orang lain? Kenapa kau selalu memilih berkorban demi kebahagiaan orang lain? Tapi, justru itu aku semakin mencintaimu, aku semakin tak ingin kehilangan dirimu. Kau benar-benar membuat aku melabuhkan hatiku padamu untuk yang terakhir.”
Keduanya kini saling berpandangan dengan tatapan yang intens. “Karena seperti inilah Tuhan memberikan aku perasaan,” balas Felly.
Tangan Danesh yang melingkar di tubuh Felly perlahan semakin ke atas. Ia memegang kepala istrinya dan mulai menyatukan bibirnya. Perang lidah yang tak peduli jika disaksikan oleh orang lain di dalam bandara itu. Keduanya hanya ingin saling melepaskan kepergian tanpa menyakiti hati satu sama lain.
__ADS_1
"Boleh aku mengantarmu? Kita ke Indonesia sama-sama. Kita gunakan pesawat keluargaku saja," izin Danesh setelah ciumannya selesai.
Felly menggeleng. "Tak perlu mengantarku. Kau di sini saja, menjaga Violet. Disaat seperti ini, Violet sangat membutuhkanmu," tolaknya halus. Hingga Danesh pun hanya bisa menuruti kemauan istrinya.