Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 41


__ADS_3

Felly membuka matanya, ia meraba sisi ranjang di sebelahnya. Tak merasakan ada seseorang di sana, kosong.


Setelah makan malam, Felly kembali ke kamarnya dan menunggu suaminya. Namun ia ketiduran, saat pagi harinya ternyata suaminya tak di sampingnya. Ia juga tak merasakan semalam ada yang masuk di dalam kamarnya. Mungkin ia terlalu mengantuk.


“Ke mana Danesh? Apa Papa menyiksanya di pagi hari seperti ini?” gumam Felly. Ia melihat jam, belum saatnya sarapan. Ia hendak turun ke bawah mencari suaminya, namun ponselnya berbunyi.


Felly memutuskan untuk mengangkatnya terlebih dahulu. Sepertinya penting.


“Halo? Ada apa Stef?” tanyanya pada Stefany—sekretarisnya.


“Nona, Tuan William memajukan jadwal meeting menjadi pukul tujuh. Beliau harus segera berangkat ke Inggris untuk pertemuan kerajaan. Beliau dalam perjalanan ke Excelent Group,” jelas Stefany memberitahukan jadwal penting bosnya.


“Tujuh? Kenapa baru mengatakannya pagi ini? Tunggu sebentar, aku akan bersiap.” Felly langsung mematikan sambungan telepon itu. Sisa waktunya hanya satu jam dari sekarang. Ia tak menunggu sekretarisnya menjawab pertanyaannya.


Felly memilih untuk membersihkan dirinya dan bersiap. Ia tak jadi mencari suaminya dahulu.


Biasanya Felly mandi lama, berendam dan merawat tubuhnya. Namun karena tak ada waktu, ia mandi kilat selama lima belas menit.


Felly sudah rapi menggunakan kemeja maroon yang dimasukkan ke dalam rok span selututnya. Tak lupa jaz kerjanya yang berwarna senada dengan roknya pun akan menemani aktivitasnya hari ini.


Langkah kakinya terlihat buru-buru menuruni tangga. Sisa waktu untuk perjalanannya hanya tiga puluh menit. Ia melihat Papanya yang tengah menyeruput kopi di meja makan dengan membaca koran. Ia pun menghampiri pria paruh baya itu untuk berpamitan.


“Pa, aku berangkat dulu,” izinnya membuat Papa Rey meletakkan korannya.


Papa Rey melihat jam yang melingkar di tangannya. “Pagi sekali, alasan apa lagi?”


“Tuan William memajukan meetingnya menjadi pukul tujuh, Pa,” jelas Felly.


“William? Oke ... oke, cepat kau berangkat, jangan sampai dia memutuskan investasinya dengan kita,” usirnya dengan antusias. Perusahaannya tak boleh mengecewakan sumber kelangsungan hidupnya itu.


Felly meraih tangan Papanya dan menempelkan punggung tangan itu di keningnya. Ia melangkahkan kembali menuju luar rumah.

__ADS_1


Saat ia melewati pintu utama, Felly melihat suaminya dengan kaos putih polos, celana training, dan sepatu boots tengah membersihkan taman depan. Ia pun menghampiri Danesh.


“Danesh,” panggilnya.


Pria yang dipanggil pun mendongakkan kepalanya. Ia berhenti mencabuti rumput. Wajahnya tetap saja minim ekspresi, sialnya masih sangat tampan dengan penampilan yang seperti tukang kebun itu. “Mau berangkat kerja?” tanyanya.


Felly mengangguk. “Iya.”


“Pagi sekali, sudah sarapan?” Danesh kembali mencabuti rumput di sana. Padahal ada mesin pemotong, tapi Papa Rey sungguh ingin menyiksanya dengan memberikan perintah tak boleh menggunakan alat apa pun.


“Belum, aku ada urusan penting. Nanti saja makan di kantor,” jelas Felly.


“Oh ... yasudah.” Danesh tak menatap istrinya lagi. Ia fokus dengan yang ia kerjakan.


Felly tetap berdiri di tempatnya. “Danesh,” panggilnya lagi.


“Hm?” Danesh kembali menatap istrinya. “Apa?”


Danesh menurutinya. Ia menaikkan alisnya heran saat istrinya menengadahkan tangannya di depannya.


“Tanganmu.”


Danesh menunjukkan tangannya. “Kotor.” Telapaknya Terlihat penuh dengan tanah.


Felly meraihnya. Ia mencium punggung tangan suaminya dengan menempelkan di tangan.


“Jangan lakukan itu.” Danesh yang terkejut langsung menarik kembali tangannya. Ia mengira jika Felly sungguh mencintainya, dan sebisa mungkin harus menghindari hal tersebut.


“Kenapa?” tanya Felly.


“Hal itu hanya dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai,” jawab Danesh.

__ADS_1


“Di sini, mencium tangan bukan hanya untuk pasangan saja. Tapi untuk orang yang lebih tua juga bisa, sebagai tanda menghormati,” jelas Felly memberitahukan tradisinya.


“Tetap saja jangan lakukan itu denganku. Tradisi negaraku berbeda,” elak Danesh.


“Tapi sekarang kau ada di negaraku, jadi ikuti saja tradisi di sini.” Felly tersenyum manis.


“Terserah kau saja, lah.” Danesh kembali berjongkok membersihkan rumput.


“Aku berangkat dulu,” izinnya.


“Hm ....”


Felly pun mengayunkan kakinya menuju mobilnya yang menunggu di samping taman. Ia masuk ke dalam mobil BMWnya, pintunya sudah dibukakan oleh Pak Maman.


Felly melihat suaminya dari kaca. “Apa kita tak boleh saling mencintai?” gumamnya.


...........


Aku minta tolong banget sama kalian, like sama komen juga ya. Itu sama sistem keitung masuk ke poin hadiah juga. Kalau punya poin lebih, boleh lah bunga sama kopinya.


Jangan lupa:


1. Like


2. Komen


3. Hadiah


4. Follow akunku


5. Follow instagram aku: heynukha

__ADS_1


__ADS_2