Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 46


__ADS_3

Fenny balik mendorong kakaknya. Ia merasa Felly mengajaknya bertengkar sekarang. Tentu saja ia akan meladeninya. Enak saja tubuhnya didorong-dorong. Memangnya dirinya gerobak? Didorong.


Mau jambak-jambakan, cakar-cakaran, pukul-pukulan juga Fenny akan meladeninya. Ia tak mau kalah dalam hal apa pun, kecuali bisnis. Malas sekali dirinya berpikir dan harus pusing menghasilkan uang. Untuk apa memiliki kakak yang pandai dan bisa diandalkan jika tak dimanfaatkan.


Lebih baik Fenny tinggal menghabiskan uangnya saja, lebih mudah dan tak perlu menggunakan otaknya. Toh Papanya juga memaklumi dirinya yang tak bisa bekerja, karena Papanya tak ingin mengambil resiko jika perusahaan keluarga yang sudah turun temurun itu akan hancur ditangan Fenny yang tak berkompeten.


“Heh! Kau tak ikhlas bekerja di perusahaan keluarga kita? Mengungkit jika kau yang menghasilkan uang, mau pamer jika kau lebih pintar mengelola bisnis keluarga Wilson daripada aku?” Tangannya masih terus menyentuh dada Felly berkali-kali dengan kasar.


Felly menepis tangan adiknya. “Sopan seperti itu dengan kakakmu? Kau itu salah bukannya minta maaf dan memperbaiki diri agar lebih baik, malah semakin menjadi saja kelakuanmu itu. Aku diam bukan berarti mengalah, tapi menunggu dirimu agar sadar dengan sendirinya. Tapi nyata kau tetap saja dengan sifat burukmu itu,” marahnya. Ia tak bisa membiarkan adiknya terus menerus berperilaku seenaknya.


“Siapa kau mengatur diriku?” Fenny melipat kedua tangannya angkuh dan sedikit mendongakkan kepalanya agar terlihat layaknya jagoan.


“Aku? Kakakmu, orang yang kau rebut kekasihnya dengan cara licik.” Felly tak kalah emosi.

__ADS_1


Fenny meludah namun tak mengeluarkan cairan dari mulutnya. “Salahkan saja dirimu yang tak bisa memuaskannya saat dirinya butuh bantuan,” elaknya tak mau disalahkan.


Felly sungguh gemas dengan adiknya. Kesabarannya yang seluas samudra sepertinya kali ini sedang sesempit lubang semut. Ia maju satu langkah untuk lebih dekat dengan adiknya.


Mata Felly seolah menyala memancarkan amarahnya. Tak ada senyum yang biasanya terukir di sana, wajah ramahnya menghilang begitu saja. “Orang sabar juga bisa marah jika menghadapi kelakuanmu itu.”


Ini bukan seperti Felly. Wanita itu seolah sedang dirasuki setan. Tangannya meraih rahang adiknya dengan kasar. Ia mencengkeram erat kedua pipi Fenny. Beruntung kukunya tak panjang, sehingga tak terlalu melukai adiknya itu. “Dengarkan aku baik-baik. Aku tak masalah Erland kau rebut, tapi jika kau melukai, merendahkan, dan menyiksa suamiku sekali lagi, tak akan ku biarkan kau tenang. Sama saja kau melukaiku.”


Felly melepas dengan kasar cengkramannya hingga wajah Fenny menoleh ke samping. “Selama kau masih hidup dengan uang hasil keringatku, jangan pernah sekali-kali melakukan hal yang bisa membuatku marah besar. Atau aku akan memberhentikan asupan dana di rekeningmu dan memblokir semua kartumu,” ancamnya tak main-main.


Setelah Felly masuk ke dalam rumah, Fenny menghentakkan kakinya sebal. “Sialan kau, Felly. Jika Erland tak perhitungan denganku dan tak membatasiku untuk menggunakan uangnya, aku tak akan sudi meminta uang darimu.” Ia pun masuk ke dalam rumah dengan suasana hati yang buruk.


Sedangkan Felly, ia tertegun melihat suaminya. “Kenapa kau tidur di sofa? Pindahlah ke atas ranjang yang lebih empuk.” Ia menutup kembali pintu kamarnya.

__ADS_1


Danesh menggeleng lemah. “Aku tak ingin khilaf jika tidur berdua denganmu. Aku harus membatasi hal-hal yang bisa menimbulkan perasaan kita berdua,” tolaknya.


Felly menghela napasnya perlahan. Tapi sepertinya di dalam hatiku telah timbul rasa cinta untukmu. Gumamnya dalam hati.


...........


Jangan lupa:


1. Like


2. Komen


3. Hadiah

__ADS_1


4. Follow akunku


5. Follow instagram aku: heynukha


__ADS_2