Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 102


__ADS_3

Danesh mengangguk setelah mengamini doa istrinya. “Aku berangkat sekarang,” pamitnya hendak menghidupkan kembali mesin motornya.


“Tunggu.” Felly memegang lengan suaminya.


Membuat Danesh menoleh ke arah Felly.


Cup!


Felly langsung memberikan kecupan di bibir Danesh. Ia pun langsung berbalik dan berjalan cepat memasuki gedung yang menjulang tinggi itu. Wajahnya memerah malu karena tindakannya barusan.


Danesh tak langsung melajukan motornya. Ia memandang punggung istrinya yang semakin menjauh. Tangannya memegang bibirnya yang baru saja mendapatkan kecupan dadakan. Bibir itu mengulas senyumnya dengan kepala yang menggeleng pelan. “Sungguh menggemaskan,” cicitnya.


Pria bule itu pun mulai menarik tuas gas agar kedua ban motornya berputar menyusuri jalanan ibu kota yang terpantau ramai meskipun sudah siang.


Sementara itu, Felly yang sudah berada di dalam ruangannya juga tersenyum bahagia. Ia bahkan menyapa seluruh karyawannya dahulu sebelum memasuki ruang kerjanya.

__ADS_1


“Ada berita baik, Nona? Anda terlihat sangat senang,” tanya Stefany yang baru saja meletakkan dokumen penting ke atas meja atasannya dan duduk di kursi yang ada di hadapan Nona Felly setelah dipersilahkan.


“Memangnya kelihatan, ya?” Felly balas bertanya dengan tangannya yang mulai meraih tumpukan kertas penting di hadapannya.


“Aku tutup mata pun tahu,” balas Stefany.


Felly terkekeh. “Jika kau menutup mata, mana bisa kau melihat,” timpalnya.


“Tentu saja bisa, karena aku menutup matanya seperti ini.” Stefany memperagakan bagaimana ia kelopak matanya terpejam. Masih ada sedikit celah karena tak rapat.


“Stef, kau punya saran tidak, agar hubungan suami istri bisa berjalan langgeng?”


Stefanny memutar bola matanya berpikir. “Sering berkomunikasi, berkata jujur, tidak menyembunyikan rahasia, terbuka satu sama lain.” Ia menghentikan ucapannya dan menatap atasannya itu dengan bibir yang tersenyum. “Dan pastinya jangan lupa mantap-mantap setiap hari.” Ia pun memperlihatkan rentetan gigi putih dan rapinya.


“Mantap-mantap?” Felly mengerutkan keningnya, belum paham dengan yang dimaksud sekretarisnya.

__ADS_1


Stefany mengangguk antusias. “Ini loh.” Ia menempelkan kedua telapak tangannya dan ia gesek-gesekkan, memberikan kode pada Nona Felly agar paham.


“Oh ... maksudmu hubungan intim?”


Stefany mengangguk. “Pria akan ketagihan jika sudah melakukannya, dan pastinya akan semakin lengket pada Nona.”


Felly pun tersenyum. “Semoga saja hubunganku dengan dia semakin membaik setelah semalam melakukannya, dan aku akan mengajaknya seperti itu setiap harinya,” lirihnya.


Sedangkan di Triple D Coffee, Danesh saat ini memantau pekerjaan lima karyawannya. Selama istrinya di Jepang, ia mulai merekrut pekerja untuk membantunya mengelola usaha kecil-kecilannya. Ia merasa ada yang kurang saat satu hari pun tak di samping Felly, sehingga ia menambah sumber daya agar sewaktu-waktu jika ditinggal tetap bisa beroperasi dan menghasilkan uang.


Lonceng di pintu masuk pun berbunyi, menandakan ada pengunjung yang keluar atau masuk. Mata Danesh melihat ke arah sumber suara dan ia melongo saat melihat dua orang yang ia kenal betul berada di coffee shopnya.


Danesh melambaikan tangan menyapa. “Oi ... Gerald,” panggilnya pada sepupunya.


Yang dipanggil pun menatap ke arah Danesh. “Akhirnya ... ada juga saudaraku yang memanggilku dengan benar,” kelakar Gerald langsung merangkulkan tangannya pada Danesh yang duduk di dekat pintu masuk.

__ADS_1


__ADS_2