Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 70


__ADS_3

Felly langsung buru-buru menuju UGD setelah Stefany memberitahukan di mana posisi dirinya saat ini. Tentu saja diikuti oleh Danesh yang selalu khawatir dengan istrinya. Ralat, lebih tepatnya anak-anaknya yang paling utama, baru Felly.


“Jangan lari,” peringat Danesh. Ia mengejar istrinya dan langsung meraih tangan mungil itu agar berjalan santai saja.


“Maaf, perasaanku tak enak,” sesal Felly.


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Danesh yang lagi-lagi menggenggam Felly. Membuat hati wanita itu berdesir.


Dari posisinya saat ini yang tak terlalu jauh dari UGD, Felly melihat Stefany sedang berbicara dengan dokter. Felly langsung menarik suaminya agar berjalan lebih cepat.


“Bagaimana kondisi adikku?” Felly langsung mengajukan pertanyaan pada Dokter Selly yang menangani Fenny.


Dokter Selly dan Stefany mengalihkan pandangan bersamaan untuk menatap Felly yang terlihat menunggu jawaban.


“Katakan saja, Dok. Mungkin Nona Felly bisa membantu,” bujuk Stefany pada Dokter Selly.

__ADS_1


Membuat Felly mengernyit tak paham. “Memangnya ada apa? Tolong jelaskan padaku bagaimana kondisi kembaranku?” tanyanya mendesak dan tak sabar.


Danesh mengelus punggung istrinya dengan lembut. “Jangan seperti itu, kau harus sabar dan ingat kandunganmu.”


Diingatkan tentang kandungannya, Felly menghela napasnya untuk menormalkan rasa khawatirnya agar tak berlebihan. “Katakan, Dok,” pintanya.


“Nona Fenny mengalami pendarahan di rahimnya dan janinnya tak bisa ditolong lagi. Namun sebelum kami membiusnya, Nona Fenny sudah terbangun dari pingsannya dan bersikeras untuk janinnya dikeluarkan dari rahimnya. Hal itu bisa membahayakan kesehatan dan keselamatan Nona Fenny,” jelas Dokter Selly. “Saya sudah mencoba menjelaskan pada Nona Fenny kemungkinan yang terjadi jika janin tak segera dikeluarkan,” imbuhnya.


“Astaga ....” Felly mengusap wajahnya dengan kasar. “Boleh aku masuk? Aku akan mencoba membujuknya.”


“Silahkan.” Dokter Selly membukakan pintu ruangan kepada Nona Felly.


Namun Danesh tetap mengangguk memperbolehkan.


Felly perlahan mengayunkan kakinya memasuki ruangan. Terdengar suara isakan di sana. “Fen ...,” panggilnya.

__ADS_1


Fenny mengalihkan pandangannya menatap Felly. Ia semakin kencang menangis, seolah merasa ini adalah balasan dari perbuatannya pada Felly yang merebut Erland dengan licik.


“Fel ... bayiku ...,” lirih Fenny memegang perut. Air mata itu terus saja menerobos keluar dari balik kelopak mata.


Felly ikut duduk di brankar, ia langsung memeluk Fenny dan mengelus pundak kembarannya.


“Bayiku ... Fel, aku keguguran.” Fenny terisak dalam dekapan Felly.


Benteng pertahanan Felly roboh. Ia tak kuat melihat adik kembarnya terpukul seperti ini. “Sabar, semua sudah jalan Tuhan. Mungkin bayi itu belum rejekimu dan Erland,” ujarnya ingin menenangkan. “Janinnya dikeluarkan dulu, ya? Bahaya jika membusuk di dalam, bakterinya akan menyebar di tubuhmu dan siapa tahu akan membuatmu semakin sakit daripada ini,” bujuknya.


Fenny mengendurkan pelukannya hingga keduanya saling bertatapan. Ia menggeleng lemah. “Aku tak mau,” tolaknya.


“Kenapa?”


“Bayi ini satu-satunya yang membuat Erland tetap berada di sisiku. Aku takut dia akan meninggalku jika tahu aku tak lagi mengandung anaknya,” jelas Fenny dengan menunduk takut. “Kau belum memberitahukan pada Erland, kan?”

__ADS_1


Felly memegang dagu Fenny dan mendongakkan wajah kembarannya. “Dengar, Erland memang saat ini belum tahu, tapi cepat atau lambat dia pasti akan tahu.”


Fenny semakin terisak. “Aku tak ingin kehilangan dia, Fel. Aku mencintainya.”


__ADS_2