
Ya, saat ini Danesh mengajak Felly ke pulau seribu untuk baby moon. Ia sengaja memilih destinasi yang paling dekat dengan Ibu Kota Indonesia. Sebab, waktu yang bisa ia habiskan bersama sang pujaan hati tak banyak. Lagi pula, pemandangannya juga lumayan bagus. Yang pasti, ia bisa membuang rasa lelahnya dengan tak melepaskan istrinya sedetik pun. Bahkan ke dalam toilet pun pria itu tetap saja ikut.
“Kau tunggulah di luar,” perintah Felly saat dirinya berada di dalam toilet umum terdekat yang bisa ia jangkau.
“Tak mau, aku mau ikut masuk,” paksa Danesh tetap melangkahkan kakinya mengikuti istrinya.
“Astaga ... aku ini mau membuang air kecil, untuk apa kau ikut denganku?” protes Felly. Keduanya malah berdebat di dalam toilet.
“Ya sudah lakukan saja apa yang kau inginkan. Aku tetap akan di sini.” Danesh tetap kukuh dengan pendiriannya yang tak ingin jauh dari Felly. Sedikit lebay, namun masa bodo baginya. Yang penting dia memanfaatkan waktu selama dua hari ini bersama istrinya.
“Danesh ... malu ih.”
“Apa? Untuk apa kau malu? Aku hafal semua bagian tubuhmu. Letak tanda lahir berwarna merah di dekat daerah sensitif bawahmu pun aku masih ingat bentuknya,” ucap Danesh yang tengah menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Felly yang tak kunjung membuang air kecil.
__ADS_1
“Hish ...,” desis Felly kesal, suaminya benar-benar memperhatikan seluruh bagian tubuhnya.
“Cepat kau buang air kecil, kandung kemihmu nanti sakit jika kau menahannya,” perintah Danesh. Ia mengayunkan kakinya perlahan mendekati Felly. “Atau, kau lupa caranya menurunkan pakaian bawahmu karena terlalu sering aku yang menurunkannya?” godanya menaikkan sebelah alisnya. Tangan kekar itu langsung saja menurunkan pembungkus bagian bawah istrinya dan mengarahkan Felly untuk membuang urine.
Felly hanya bergeleng kepala dengan tingkah suaminya yang berlebihan itu.
...........
Awan di luar sudah berganti gelap. Semua yang tadinya terlihat biru cerah, kini tergantikan dengan warna hitam.
Sofa empuk itu sengaja Danesh pindah posisi untuk menghadap ke luar, sehingga ia bisa menikmati indahnya cahaya rembulan dari dalam kamar yang ia sewa.
Felly tiduran dengan kepalanya yang berbantal paha Danesh. Tangan Danesh keduanya aktif, satu mengelus kepala dan satunya mengelus perut istrinya.
__ADS_1
“Kau tahu tidak, kenapa diberi nama baby moon?” tanya Danesh membuka pembicaraan.
Felly menggelengkan kepalanya hingga membuat gesekan dengan paha berbalut boxer itu. “Tidak, memangnya kenapa?”
“Karena di sini ada baby nya.” Danesh menunjuk perut buncit Felly. “Dan kau adalah moon nya.” Tangannya beralih menoel hidung istrinya.
Wanita berbadan tiga itu tertawa. “Bisa saja kau menggodaku.”
Mata Danesh kembali menatap bulan. “Kau itu seperti bulan. Tetap bersinar meskipun di sekitarmu gelap. Kau memberikan cahaya untuk meneranginya.”
“Jangan membual, nanti aku ini bisa terbang ke atas jika kau terus menggodaku seperti itu. Kau bisa sendirian di sini kalau sayapku mendadak muncul,” kelakarnya menunjuk atap-atap kamar itu.
Danesh mencubit gemas hidung Felly. “Jika kau memiliki sayap untuk terbang, maka akan ku patahkan terlebih dahulu agar tak bisa membawamu pergi dariku.”
__ADS_1
Obrolan terus mengalir pada kedunya. Danesh terus mengeluarkan godaan pada istrinya yang menggemaskan dan sudah ia terkam beberapa saat lalu sebelum menikmati cahaya di malam hari bersama.