Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 170


__ADS_3

Keluarga Triple D sudah puas menyiksa dan menghina Rey serta Fenny. Toh sudah satu bulan, sedangkan Danesh tak selama itu berada di dalam lingkaran setan keluarga Wilson.


“Jalankan rencana selanjutnya,” ucap Danesh. Pria itu izin pada istrinya untuk mengurus sesuatu hal yang penting, sebab hari ini adalah weekend dan seharusnya ia menghabiskan waktu bersama si kecil. Namun pembalasan harus dituntaskan terlebih dahulu.


Kelima anggota Triple D itu kini berada di ruang kerja Daddy Davis. Mereka mengangguk bersamaan, lalu keluar untuk menemui dua manusia laknat.


“He, kalian berdua,” panggil Deavenny angkuh. “Sini, berhenti bekerja dan ikut denganku. Kami akan jalan-jalan menghirup udara segar. Kalian pasti lelah selama satu bulan bekerja tanpa henti.”


Rey yang tengah mengelap setiap sudut ruangan dan Fenny yang sedang berjongkok mengepel itu menghentikan aktivitas masing-masing. Keduanya menatap Deavenny dan keempat anggota Triple D lainnya yang berdiri tegap di belakang wanita cantik itu.


“Kalian merencanakan sesuatu?” tuduh Papa Rey waspada.


“Ck! Apa yang kau pikirkan bisa menggambarkan sifatmu,” sinis Dariush menimpali.


“Sudahlah jangan banyak tanya, mau ikut ayo, tidak ya silahkan bersihkan mansion ini hingga mengkilap,” ucap Delavar.

__ADS_1


Danesh mengangkat sudut bibirnya ke atas. Ia sangat puas melihat raut mertua dan adik iparnya yang kelelahan. “Sudahlah, tinggalkan saja mereka. Jiwa-jiwa pelayan sudah melekat di raganya. Mana mau dia ikut kita jalan-jalan,” sindirnya dengan sinis.


Kelima anggota Triple D itu mengayunkan kakinya bersamaan menuju pintu keluar.


Papa Rey dan Fenny saling berpandangan. “Daripada lelah bersih-bersih, lebih baik refreshing, bukan?” celetuk Fenny.


“Tunggu!” seru Papa Rey menghentikan langkah kaki keluarga Triple D. “Kami ikut.”


...........


“Bagaimana, kaya bukan keluargaku?” tanya Daddy Davis pada besannya.


Mereka kini duduk bersama menikmati terpaan angin laut yang kencang. Memberikan kenyamanan pada dua manusia yang sudah lelah menjadi pelayan itu, sebelum akhirnya memberikan adrenalin olahraga jantung pada keduanya.


“Hm. Aku baru tahu jika menantuku sekaya ini. Jika aku tahu dari awal, pasti akan ku perlakukan dengan baik dirinya di rumahku,” balas Papa Rey setelah menyesap minuman kaleng yang disediakan di sana.

__ADS_1


“Jika kau tahu sedari awal, maka sifat aslimu tak akan muncul. Kau hanya memberikan topeng demi ambisimu yang menginginkan semuanya sempurna,” timpal Daddy Davis sinis.


Kapal itu sampai juga di tengah laut yang amat dalam. Daddy Davis memberikan isyarat pada anak buahnya untuk melakukan tugas mereka.


Dengan sigap, dua pria berbadan kekar berpakaian serba hitam itu langsung mengikat Papa Rey dan Fenny.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan kami!” Papa Rey dan Fenny meronta-ronta ingin melepakan simpul yang melilit di tubuh mereka. Ada perasaan buruk yang menghimpit di dada keduanya. Ini di tengah laut, mereka takut jika dibunuh dan diceburkan ke sana lalu menjadi santapan piranha atau hiu.


“Apa yang kami lakukan?” balas Daddy Davis dengan pertanyaan balik. Ia menatap keempat anaknya satu persatu. “Katakan padanya, apa yang kita lakukan,” perintahnya pada si kembar.


Dengan angkuhnya si kembar empat yang duduk berjejeran itu menyilangkan kaki mereka dengan posisi yang sama dan tangan melipat di dada. “Membalaskan semua perlakuan buruk kalian pada dia!” seru mereka bersamaan dan beralih menunjuk Danesh.


Saliva itu rasanya tak bisa membasahi kerongkongan yang terasa kering. Perasaan buruk benar-benar menghantui Papa Rey dan Fenny. “Jadikan kami pelayan saja, kami akan menuruti permintaan kalian tanpa membantah. Tapi jangan buang kami ke lautan,” iba keduanya. “Kami masih memiliki keluarga yang menanti di Indonesia.”


Keduanya menatap Danesh. “Bukankah kau juga anggota keluarga kami? Kau adalah menantuku,” seru Papa Rey berharap ia bisa dilepaskan jika mengingat dirinya adalah mertua Danesh.

__ADS_1


__ADS_2