
“Pa! Berhenti menghina menantumu! Sudah ku katakan berapa kali? Jangan menghinanya. Dia bagian dari keluarga kita,” tegur Mama Kyara.
“Pa, dia bukan orang rendahan. Dia pria terhormat yang bertanggung jawab dengan istrinya,” balas Felly memuji suaminya.
Papa Rey mencebikkan bibirnya lagi. “Sudah merasa terhormat dia? Dengan usaha coffee shopnya yang baru memiliki beberapa cabang itu?” cibirnya.
“Pa! Cukup. Aku datang ke sini untuk melihat kondisi Papa dan Mama, bukan untuk menerima hinaan,” ucap Felly.
Mama Kyara menggandeng lengan anaknya itu. “Kita tinggalkan saja Papamu itu. Biar dia tahu rasa tinggal sendirian. Sudah tua bukannya sadar, malah semakin menjadi saja sisi arogannya,” ajaknya pada Felly.
Mama Kyara dan Felly pun melenggang meninggalkan Papa Rey seorang diri. Mama Kyara benar-benar lelah menasehati suaminya agar tak terlalu arogan dengan menantunya. Ia tak tega melihat Danesh yang terlihat baik dan bertanggung jawab selalu dihina.
...........
Dua bulan berlalu, hubungan jarak jauh antara Felly dan Danesh masih berlangsung. Danesh membelikan sebuah mansion yang tak terlalu besar untuk tempat tinggal Violet beserta orang tua mantan kekasihnya itu di Finlandia.
Danesh menuruti semua keinginan Felly untuk membuat Violet bahagia disisa umur wanita itu. Ia merawat mantan kekasihnya dengan lembut dan penuh perhatian. Dokter pribadi selalu ia tempatkan di mansion itu untuk memantau perkembangan kesehatan Violet.
__ADS_1
Danesh hanya tinggal satu atap saja. Ia tak tinggal satu kamar. Ia tak ingin melukai hati istrinya jika dirinya juga tinggal satu kamar. Meskipun Felly sangat baik dengan Violet, namun Danesh tahu jika istrinya juga bisa sakit hati, hanya saja tak pernah diungkapkan.
Seperti biasanya, Danesh melakukan video call dengan sang istri di malam hari. “Halo, Manisku,” sapanya saat panggilannya diterima oleh Felly. Terlihat wajah istrinya yang baru saja bangun tidur.
Jarak yang membentang keduanya sungguh tak menghalangi komunikasi. Perbedaan waktu empat jam tak menjadi halangan bagi Danesh dan Felly untuk terus berkabar. Danesh selalu menelpon istrinya pada tengah malam waktu Finlandia sehingga istrinya bisa istirahat terlebih dahulu, sebab di Indonesia empat jam lebih cepat.
Felly mengucek matanya. “Hi, Suami Buleku,” balasnya dengan sedikit menguap.
“Istriku masih mengantuk, ya? Maafkan Suamimu ini yang selalu mengganggu tidur nyenyakmu, ya?” ucap Danesh sangat lembut. Ia tengah duduk bersandar di headboard kamar miliknya.
Layar ponsel milik Felly terisi wajah Danesh yang tersenyum. “Besok waktu kita bertemu. Kau mau baby moon? Kita belum pernah melakukannya,” tawarnya.
Felly terkekeh dengan penawaran suaminya. “Perutku ini sudah semakin besar, bukankah sangat terlambat jika kita melakukan baby moon sekarang?”
Danesh menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri di layar ponselnya. “Tentu saja tidak, asalkan hanya ada aku, kau, dan anak-anak kita.”
“Terus saja menggodaku.” Felly mengerucutkan bibirnya seolah sebal, namun itu tak sungguhan. Sebab Danesh sangat senang melihat wajah Felly yang menggemaskan itu.
__ADS_1
“Uh ... lucu sekali istriku yang manis. Jika kau ada di sini, pasti sudah aku cium,” tutur Danesh dengan wajah gemasnya.
Felly mengarahkan bibirnya ke kamera, sehingga layar ponsel milik Danesh berisi bibir Felly semua. “Kiss me, please,” godanya dengan suara manjanya.
Cup!
Danesh mengecup layar ponselnya sendiri seolah tengah mencium istrinya sungguhan. Sialan, hubungan jarak jauh ini membuatnya tak leluasa melakukan apa pun pada istrinya.
“Aku benar-benar akan menciummu besok. Tak sabar ingin segera berangkat ke Indonesia.”
Felly terlihat terkekeh. “Sampai bertemu besok, Suami Buleku. Muah ....” Ia mengecup telapak tangannya sendiri lalu mengarahkannya pada Danesh.
“I love you, Istriku, Sayangku, Cintaku, Manisku, Cantikku,” ucap Danesh.
“Love you too, Sayang.”
Meskipun jarak membentang, namun kemesraan tak pernah padam. Itulah yang selalu keduanya lakukan dalam waktu dua bulan ini. Mereka terus memupuk cinta dan kasih sayang dengan cara keduanya, tanpa melukai hati Violet tentunya.
__ADS_1