Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 130


__ADS_3

Danesh berganti menemui kedua orang tua Violet. Ia langsung bersimpuh di hadapan keduanya. “Maafkan aku yang sudah menodai putri kalian. Jika aku tahu sedari awal tentang penyakitnya, aku tak akan melakukan hal keji padanya dengan memaksanya,” sesalnya pada keluarga Dwarts.


Tuan Dwarts meletakkan kedua tangannya di lengan Danesh. Ia mencoba membantu mantan kekasih anaknya untuk bangkit. “Berdirilah, kau tak salah. Aku tahu alasan kenapa kau melakukan hal itu. Kau hanya ingin mempertahankan hubunganmu dengan Violet saat itu,” tuturnya.


Danesh tetap pada posisinya, ia tetap merasa bersalah. “Tidak, jika aku bisa mengontrol emosiku. Pasti tak akan terjadi hal seperti ini,” kukuhnya.


Tuan dan Nyonya Dwarts ikut bersimpuh di bawah agar sejajar dengan Danesh. Tangan keriput itu menepuk pundak Danesh.


“Kami juga salah karena menyembunyikan penyakit Violet demi menuruti keinginan terakhirnya itu,” timpal Tuan Dwarts.


“Semua sudah jalan yang diberikan oleh Tuhan, kau tak perlu merasa bersalah, karena kami tak pernah menyalahkanmu,” tambah Nyonya Dwarts.


Danesh hanya bisa menunduk, bukannya ia tak berani menatap kedua orang tua Violet. Namun ia sadar diri telah melakukan kesalahan. “Sekali lagi aku minta maaf.”

__ADS_1


Tuan dan Nyonya Dwarts memeluk tubuh Danesh. “Kami memaafkanmu. Dan berhentilah mengucapkan kata itu lagi.”


Violet bahagia melihat interaksi ketiganya. Ia benar-benar menyesali keputusannya di masa lalu untuk meninggalkan Danesh dan menorehkan luka pada mantan kekasihnya yang masih ia cintai itu.


...........


Danesh terburu-buru kembali ke ruangan Mommynya. Ia ingin memastikan istrinya baik-baik saja dan ingin menjelaskan semuanya pada Felly agar tak ada kesalah pahaman yang berakibat pada hubungannya.


“Di mana istriku?” tanya Danesh. Ia tak mendapati Felly di ruang rawat Mommynya.


Danesh langsung keluar lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia ingin segera menemui Felly.


Perlahan pintu itu Danesh buka. Ia dapat melihat istrinya yang tengah tidur dengan posisi memunggunginya.

__ADS_1


“Felly, istriku,” panggil Danesh memastikan istrinya masih terjaga atau tidak.


Tak ada sahutan dari Felly. Danesh menutup pintu lagi dengan hati-hati. Ia duduk di samping istrinya yang membelakangi dirinya.


Danesh mengelus punggung yang tertutup pakaian itu. “Apa kau sudah tidur? Aku tahu, pasti belum.” Ia bertanya dan menjawab sendiri. Danesh bisa merasakan tubuh istrinya yang sedikit bergetar.


“Aku bingung harus mengatakan apa padamu. Sejujurnya aku ingin marah karena kau tak mengakuiku sebagai suamimu. Tapi entah mengapa aku tak bisa marah padamu. Aku tak tahu apa alasanmu melakukan hal itu.”


Danesh terus melanjutkan ucapannya meskipun tak ada respon dari Felly. Kedua tangannya aktif bergerak. Satu mengelus kepala, satunya lagi mengelus punggung.


“Jadi, teman barumu yang kau ceritakan padaku saat itu adalah Violet? Mantan kekasihku? Pantas saja ceritamu itu sangat mirip dengan kisahku.”


Danesh mengecup pipi Felly. Ia terus berusaha membuat istrinya mau membuka mata dan tak berpura-pura tidur.

__ADS_1


“Sekarang kau tahu jika aku bukanlah pria yang baik. Aku banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Mungkin ini saatnya aku memberitahumu tentang diriku.”


Masih sama, istrinya tak merespon, Danesh harus bersabar. Ia tahu, pasti istrinya saat ini sedang terluka mengetahui sebuah fakta tentang dirinya.


__ADS_2