Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 87


__ADS_3

Keduanya terus berbincang saling bertukar pengalaman selama hamil. Hingga Felly teringat jika dia belum mengetahui nama wanita yang menemaninya selama menunggu antrian. Namun ia sudah merasa sangat dekat, bahkan obrolan mereka juga nyambung.


“Kita sudah seperti berteman lama saja,” kelakar Felly. “Bahkan kita lupa jika belum berkenalan,” imbuhnya.


Wanita itu terkekeh. “Iya juga, ya. Aku terlalu senang bisa berbicara dengan orang yang humble sepertimu.”


“Ayo kita berkenalan. Mungkin kita bisa berteman dekat kedepannya.” Felly mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita asing itu. Wanita yang terlihat dari kulit dan wajahnya seperti orang Eropa. “Aku Felly.”


Wanita itu membalas jabatan tangan Felly. “Violet.” Senyuman manis ia berikan untuk teman barunya. Sungguh cantik, hanya saja badannya lebih terlihat berisi. Mungkin efek cairan-cairan yang masuk ke dalam tubuh selama di rawat di rumah sakit.


Deg!


Mendengar nama itu Felly mendadak terdiam. Ia seolah mengingat kembali saat suaminya tak sengaja melontarkan sebuah nama yang sama. Mungkin hanya mirip. Yang memiliki nama Violet kan banyak, bukan satu saja. Gumamnya dalam hati. Ia menyingkirkan pikiran tak masuk akalnya.


“Boleh aku minta nomormu?” tanya Violet.


“Tentu saja. Mari kita bertukar nomor ponsel, agar sewaktu-waktu kita bisa saling berkabar dan bercerita lagi,” balas Felly.


Keduanya pun saling bergantian mendiktekan nomor ponsel mereka masing-masing.


“Sudah ku simpan nomormu,” tutur Violet senang.


“Aku juga,” balas Felly.


Ponsel Felly berdering saat ia mau memasukkan ke dalam tas lagi. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna memancarkan kebahagiaan. Suaminya menghubunginya dengan video call.


“Aku angkat panggilan ini sebentar,” izin Felly pada Violet.

__ADS_1


“Silahkan.”


Felly tak beranjak pergi dari sana. Ia tetap duduk di hadapan Violet. Jika dia terlihat berdiri pasti Danesh akan mengomelinya.


“Hi, suami buleku,” sapa Felly dengan wajah gembiranya.


Terlihat Danesh terkekeh dengan panggilan istrinya itu, namun ia tak mempermasalahkan hal itu. Ia suka saja dipanggil seperti tadi. “Kau sudah cek ke dokter?” tanyanya.


“Belum, masih menunggu antrian. Stefany sedang mengantri untukku,” jawab Felly.


“Terus, kau sendirian? Jangan macam-macam. Harus ada yang mengawasimu, aku tak ingin terjadi hal buruk denganmu,” omel Danesh dengan wajah khawatir.


“Aku tak sendiri, aku bersama teman baruku. Kami baru saja berkenalan,” balas Felly berharap suaminya tenang jika mendengar dirinya tak sendirian.


Namun ternyata, Danesh bukannya senang. Ia justru memperlihatkan wajah tak sukanya. “Jangan sembarangan berteman dengan orang baru. Tak semua orang itu sebaik dirimu,” omelnya lagi. Ia takut istrinya salah memilih teman, mengingat Felly terlalu mudah percaya dengan orang lain.


Danesh terlihat mengangguk dari layar ponsel Felly. “Belum. Aku sedang istirahat.”


“Jangan lupa makan,” peringat Felly.


“Iya, Sayang. Kau juga jangan sampai terlambat memberi asupan nutrisi pada anak-anakku,” balas Danesh.


Felly lagi-lagi berdesir hatinya mendengar panggilan itu untuk kedua kalinya. “Jangan memanggilku seperti itu. Kau bisa membuatku baper, kau terlalu meresahkan untuk kesehatan jantung dan hatiku,” cicitnya pelan.


Dan Danesh masih mendengarnya, ia menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu, Sayang?”


Felly mengangguk.

__ADS_1


Sedangkan Danesh lagi-lagi terkekeh. “Itu panggilan untuk anak-anakku, agar mereka tahu jika Daddynya menyayangi mereka. Tapi karena mereka ada di dalam perutmu, maka aku gunakan saja padamu,” balasnya.


Felly tersenyum getir, ternyata ia terlalu percaya diri.


“Sudah dulu, ya. Baterai ponselku habis. Nanti kita sambung lagi,” pungkas Felly. Ia hanya beralasan saja karena saat ini dirinya malu sekali pada Danesh. Ia sempat mengatakan masalah hati dan jantungnya kepada suaminya itu. Entah Danesh paham atau tidak dengan maksudnya, tapi saat ini ia sedang merona.


Berbeda dengan Felly yang tengah bahagia karena dihubungi suaminya. Violet justru terdiam dengan pandangan mata yang terlihat kosong.


“Apakah aku terlalu merindukannya? Sehingga suara suami Felly pun terdengar seperti dirinya?” gumam Violet lirih. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri.


“Kau berbicara denganku?” tanya Felly setelah ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan ia mendengar Violet berbicara tak jelas.


Violet kembali fokus pada Felly. Ia menggeleng pelan. “Tidak, aku tak berbicara denganmu.”


Felly berohria. “Ku kira. Jangan berbicara sendiri jika tak ada lawan bicara, takutnya nanti kau dikira ODGJ,” kelakarnya bercanda. Ia tertawa kecil.


Namun Violet hanya diam saja. “Boleh aku bertanya sesuatu?”


“Boleh.”


“Boleh aku tahu siapa nama suamimu?” tanya Violet. Ia ingin memastikan apakah yang ia dengar hanyalah ilusi atau memang nyata itu suara orang yang ia rindukan.


Felly tersenyum terlebih dahulu sebelum menjawab. “Tentu saja boleh. Suamiku bernama Da—” Ucapannya terhenti saat Stefany datang mengampirinya.


“Nona, sudah giliran anda sekarang,” ujar Stefany memberitahu.


Felly yang hendak memberitahukan nama suaminya pada Violet pun tak jadi. Ia justru berdiri untuk mengecek kandungannya. “Maaf, aku harus pergi. Jika kau ke Indonesia, hubungi aku. Aku akan memperkenalkanmu langsung dengan suamiku,” tuturnya.

__ADS_1


Felly pun pergi setelah Violet menganggukkan kepala padanya. Dan bertepatan dengan wanita paruh baya yang tadi pergi ke toilet sudah kembali. Ternyata Mommy Violet baru saja membuang hajatnya, pantas saja sangat lama meninggalkan Violet.


__ADS_2