Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 155


__ADS_3

“Tidak, aku hanya terlalu banyak pikiran saja. Pekerjaanku semakin lama bukannya berkurang malah menumpuk,” keluh Felly. Dirinya juga tak tahu mengapa bisa merasakan pusing berkepanjangan. Biasanya ia tak seperti itu.


Fenny sudah duduk di kursi yang ada di hadapan Felly. Ia meraih salah satu dokumen dan membacanya. “Cutilah, kau sudah hamil besar sekali. Sebentar lagi juga akan melahirkan. Aku bisa membantu menghandle pekerjaanmu,” tawarnya.


Felly menggelengkan kepalanya. “Jika aku cuti, aku tak bisa mengalihkan pikiranku dari suamiku. Ini adalah salah satu cara agar aku tak merindukannya setiap hari. Aku malas sendirian di apartemen terlalu lama,” tolaknya.


Fenny berdecak sebal, ia mengetahui jika Felly dan Danesh berhubungan jarak jauh setelah ia bertanya tentang hubungan rumah tangga kembarannya itu. Namun, ia tak mengetahui alasan pastinya. Kembarannya hanya menceritakan jika ada urusan penting yang harus dikerjakan oleh Danesh dan tak bisa diganggu oleh Felly.


“Jika kau rindu, susul saja dia. Kau itu senang sekali menyiksa dirimu. Cinta butuh perjuangan. Seperti aku memperjuangkan Erland. Bahkan aku harus egois untuk merebutnya darimu. Pantas saja dulu sangat mudah aku mengambil Erland, ternyata kau itu tak bisa memperjuangkan cinta. Kau terlalu naif,” omel Fenny dengan kesal.


Felly menghembuskan napasnya kasar dan mendaratkan punggungnya pada sandaran kursi. “Aku bukan wanita egois seperti dirimu yang selalu menginginkan semuanya harus terpenuhi,” elaknya.


Fenny menggemelatukkan giginya dan meremas tangannya di depan wajah Felly. Ia sangat gemas dengan kembarannya itu. “Egois itu perlu sesekali kau lakukan. Dan jangan terlalu baik. Hidup ini keras, tak bisa melawan, maka kau tak bertahan. Kebahagiaan diri sendiri itu penting. Kau selalu saja mengedepankan kebahagiaan orang lain, makanya aku selalu memanfaatkan dirimu karena sifatmu itu. Mungkin orang lain juga akan melakukan demikian. Jangan bodoh! Aku sangat kesal dengan dirimu yang seperti itu.”

__ADS_1


“Kau tahu sendiri. Meskipun kita kembar, namun sifat kita sangat bertolak belakang.”


“Ya, ya, ya, ya. Terserah kau sajalah. Malas aku menceramahimu.” Fenny memutar bola matanya malas.


...........


Sedangkan di sudut belahan bumi lainnya. Danesh juga tengah berkutat dengan dokumen-dokumen yang menggunung. Ia harus mengecek satu persatu tumpukan kertas itu.


“Apakah ini efek dari rasa cintaku yang amat besar? Sehingga aku tak pernah bisa menghilangkan istriku dari benakku?” gumam Danesh. Ia memandangi bingkai foto yang berisikan dirinya dengan Felly. Bibirnya tersenyum seraya mengusap bibir yang terlihat mungil itu.


Danesh meraih ponselnya. Ia ingin melakukan video call dengan sang istri. Rindu itu benar-benar menyesakkan dada. “Mari kita bertemu melalui ponsel, Sayang,” ujarnya seperti orang gila. Ia berbicara sendiri dengan wallpaper ponselnya yang berisi penuh wajah Felly.


Saat Danesh hendak memencet tombol hijau, pintunya terbuka. Sekretarisnya yang menyembul dari balik pintu.

__ADS_1


“Tuan, rapat akan segera di mulai. Seluruh karyawan sudah berkumpul di ruang meeting,” ujar Glen, sekretaris Danesh yang berjenis kelamin laki-laki.


“Oke, tunggu sebentar. Aku ingin menelpon seseorang dulu. Keluarlah, nanti aku ke sana,” usir Danesh mengibaskan tangannya.


Selepas kepergian Glen, Danesh pun menyempatkan untuk menelpon Felly.


“Halo,” sapa Danesh saat panggilan teleponnya diangkat.


“Heh! Dasar pria tak bertanggung jawab. Bisa-bisanya kau tak berada di samping istrimu saat dia hamil besar seperti ini!” Itu suara Fenny. Kembaran Felly lah yang mengangkat panggilan telepon itu. Ia langsung mengomeli kakak iparnya.


Danesh berdecak, ia sedang merindukan istrinya malah disambut oleh titisan Sadako Yamamura. “Di mana istriku?” tanyanya ketus.


“Sedang tidur! Apa kau tak tahu jika belakangan ini dia selalu merasa pusing? Bahkan dia sangat pucat hari ini,” adu Fenny memberitahukan kondisi Felly. Namun nada bicaranya memang sedikit kurang enak di dengar. Itu karena dirinya yang kesal dengan Danesh. Kakak iparnya tak ada di samping kembarannya saat sedang seperti ini. Hal itu membuatnya muak.

__ADS_1


__ADS_2