Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 97


__ADS_3

Setelah Danesh mengantri dengan posisi berdiri selama kurang lebih tiga puluh menit, karena antriannya memang sangat panjang. Ia langsung mendekati istrinya dengan memperlihatkan kantung plastik yang ia bawa serta wajahnya yang datar namun terlihat berseri.


“Akhirnya dapat juga,” celetuk Danesh saat ia berdiri di hadapan Felly. Sudah lama ia ingin mencoba makanan khas Jepang di sana. Sebab, hampir setiap hari ia melewati dan selalu ramai. Sehingga Danesh sangat penasaran dengan rasanya.


Felly tersenyum manis dengan kepala yang mendongak agar melihat wajah suaminya. Karena posisinya saat ini yang duduk dan Danesh berdiri, membuat matanya langsung tertuju pada sesuatu yang tersembunyi dibalik celana jeans suaminya. Membuat otak mesumnya membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.


“Selamat, panjang anunya,” celetuk Felly seraya tangannya memukul kepalanya lumayan kencang hingga menimbulkan bunyi. Karena memikirkan cacing besar alaska milik suaminya yang seperti di kartun spongebob squarepants membuat omongannya ngelantur.


Sialan memang, gara-gara posisi mereka saat ini yang tak mengenakkan. Otak suci Felly jadi tak suci lagi.


Danesh merendahkan tubuhnya dengan sedikit berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan istrinya, ia mengelus kepala Felly dengan lembut. “Hei ... jangan memukul kepalamu seperti itu. Dilarang menyakiti tubuhmu sendiri. Oke?”


Felly tersenyum canggung dengan tangannya yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Maaf, ada nyamuk,” alasannya.

__ADS_1


Danesh menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Mana ada nyamuk di ruangan ber-ac,” timpalnya.


Semakin malu saja Felly karena alasannya tak masuk akal. Ia hanya membalasnya dengan menyengir kuda.


“Jangan ulangi, sayangilah dirimu seperti aku menyayangimu,” celetuk Danesh. Ia mencium bagian kepala Felly yang tadi sempat dipukul oleh istrinya sendiri.


Kejadian itu tak lepas dari mata para pengunjung di sana yang silih berganti membeli makanan juga. Beberapa pengunjung menatap iri, namun banyak yang tak suka melihat hal itu.


“Woy! Tempat umum, main nyosor aja kaya angsa,” tegur salah satu pengunjung.


“Itu mah derita lo. Iri? Bilang bos ...,” timpal orang yang tadi menimpuk temannya membalas ucapan temannya sendiri.


“Mentang-mentang bule si abangnya, kebiasaan nyosor. Ajarin itu, Neng, adab di sini,” tutur pengunjung yang lainnya.

__ADS_1


Dan masih banyak lagi omelan dari beberapa orang lainnya yang tak suka dengan perlakuan Danesh pada Felly tadi.


Felly tersenyum canggung pada mereka semua seraya bibirnya berucap, “maaf.” Dengan kepalanya yang menunduk pelan.


Felly benar-benar malu saat ini. Suaminya sungguh tak mengenal tempat. Iya sih bule, tapi ini kan Indonesia bukan di luar negeri yang main sosor sana sani tak akan ada orang yang mengomentari.


Ditambah kalimat yang mengatakan jika suaminya menyayangi Felly sungguh meresahkan kehidupannya. Kalau sayang untuknya sih dia senang-senang saja, tapi jika sayang karena bayi di perutnya membuatnya sedikit miris menerima kenyataannya. Tapi ia tak ingin menanyakan dan mempermasalahkan hal itu, daripada dijawab seperti terakhir kali.


Lain hal dengan Felly, Danesh justru menaikkan sebelah alisnya bingung dengan ocehan orang-orang itu. “Memangnya kenapa? Salah aku mencium istriku sendiri?” balasnya dengan wajah datarnya.


“Eh ... lo udah salah, malah belagu. Pamer kalau punya istri?” sahut pengunjung yang tak terima dengan Danesh.


Felly berdiri dari duduknya, ia tak ingin hal itu menjadi panjang urusannya. “Ayo kita pulang saja.”

__ADS_1


Buru-buru Felly menggandeng tangan suaminya untuk keluar dari restoran Jepang itu.


__ADS_2