
“Kau juga mau mengambil alih perusahaan adik iparmu?” tanya Deavenny dengan wajahnya yang melongo.
“Ya,” balas Danesh singkat, tak mencoba menjelaskan pada adik bungsunya yang tak paham dengan rencana mereka.
Saat ini Danesh, Dariush, Delavar, Deavenny, dan Daddy Davis tengah menyusun rencana untuk memberikan pelajaran pada Papa Rey dan Fenny yang sudah berani-beraninya menghina, mencelakai, serta mencoba membunuh Danesh. Mereka duduk melingkar di dalam ruang kerja Danesh yang ada di dalam mansion pria beranak dua itu.
“Kenapa? Bukankah dia tak berbuat jahat padamu? Kasian dia jika terkena imbasnya juga. Kita salah sasaran jika menumbangkannya,” protes Deavenny yang tak setuju dengan salah satu rencana kakaknya.
“Ck! Kau itu lebih baik diam, menurut, dan tinggal eksekusi saja. Otakmu itu tak bisa sampai untuk memikirkan hal ini,” timpal Dariush. Ia gemas sekali dengan Deavenny yang tak paham dengan arah pikiran mereka.
Deavenny mencebikkan bibirnya ke arah Dariush yang duduk di kursi seberang. “Ingin sekali aku mengajak kalian masuk lagi ke perut Mommy, terus mau ku ulang lagi untuk Mommy melahirkan kita. Akan aku tendang-tendang kalian semua saat Mommy mengejan, agar aku yang lahir pertama. Jadi otakku masih utuh tak harus berbagi dengan kalian bertiga,” selorohnya dengan bangga akan pemikirannya.
__ADS_1
Daddy Davis menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri satu-satunya itu. “Mommymu melahirkan kalian dengan operasi, jadi dia tak mengejan. Dokter yang membantu mengeluarkan kalian,” timpalnya meluruskan.
Danesh, Dariush, dan Delavar menertawakan adik bungsunya itu sekencang-kencangnya. “Memang takdirmu harus mengalah dengan kami,” kelakar mereka.
Deavenny mendengus. Ia mengacungkan jari tengahnya pada ketiga kembarannya. “Untung uang kalian lancar untukku.”
“Oke, stop bercandanya. Kita kembali lagi ke pembicaraan semula,” tegur Danesh. Ia kembali lagi ke mode serius.
Danesh meletakkan tangannya di atas meja. Matanya menatap Delavar yang duduk di samping Deavenny. “Kau tahu maksud rencanaku untuk mengakuisisi perusahaan Erland?” tanyanya ingin memastikan adiknya yang terlihat terdiam sedari tadi itu paham dengan tujuannya.
“Oke, coba kau jelaskan pada Deavenny,” tantang Danesh.
__ADS_1
“What?!” pekik Delavar. “Kenapa aku? Yang punya rencana kan kau.”
Danesh mengedikkan bahunya serta menaikkan alisnya. “Hanya memastikan kepintaranmu.”
Delavar melingkarkan tangannya di pundak Deavenny. “Begini, adikku yang cantik. Erland itu kan menantu pak tua mertuanya Danesh. Jika Danesh akan mengambil alih seluruh kekayaan pak tua itu menggunakan surat perjanjian kosong yang sudah ditanda tangani oleh mertua Danesh yang kalah licik oleh kakak tertuamu itu, maka bisa jadi Erland akan membantu mengurus kehidupan mertuanya kalau masih memiliki harta.”
“Rencana kita bisa gagal untuk membuat mertua dan adik iparnya merasakan kemiskinan. Sehingga kita harus menumbalkan perusahaan adik iparnya juga. Kau paham?” imbuh Delavar menjelaskan maksudnya.
Deavenny berohria dengan kepalanya yang mengangguk. “Kasian juga yang tak salah mendapatkan imbasnya,” gumamnya.
“Aku tak sekejam itu. Aku akan mengembalikan kepada mereka setelah mertua dan adik iparku itu berlutut memohon padaku. Untuk Mama Kyara dan Erland, aku tetap akan memberikan kehidupan yang layak setelah mertua dan adik ipar laknatku itu menginjakkan kaki di Finlandia,” pungkas Danesh menambahkan. “Aku akan memberikan usaha coffee shop ku kepada Mama Kyara untuk sementara waktu sebagai penghasilannya. Setelah semuanya selesai, akan ku berikan pada karyawanku untuk mereka kelola bersama.”
__ADS_1
“Oke. Kapan kita memulai rencananya?” tanya Dariush, Delavar, Deavenny, dan Daddy Davis bersamaan.
“Sudah ku mulai, aku sudah membeli saham di perusahaan Erland dan surat perjanjianku itu biar anak buah Daddy yang datang untuk mengusir mertua laknatku itu. Satu minggu berikutnya kalian bertiga datang ke Indonesia untuk menawarkan batuan. Tentunya menjemput dua target kita dan memberikan kejutan kepada mereka,” jawab Danesh menjelaskan. “Aku akan menjadi jackpot terakhirnya.”