
Sangat mudah bagi si kembar D membawa Fenny ikut bersama mereka. Diberikan iming-iming akan membantu mengembalikan harta kekayaan Erland pun sudah percaya saja wanita itu.
Mereka bertiga sudah berhasil membawa dua target untuk terbang ke Finlandia. Tentu saja dengan menggunakan pesawat pribadi yang tercetak jelas di badan burung besi itu bertuliskan Triple D.
Kelima orang itu mendaratkan kaki mereka di mansion keluarga Dominique. Mereka tak melancarkan rencana di mansion milik Danesh, sebab di sana ada Felly.
Paspor dan visa milik Papa Rey dan Fenny pun berada di tangan si kembar. Mereka berdua tak akan pernah bisa pergi dari negara Finlandia kecuali dengan izin Triple D family.
“Oh ... kalian membawa pelayan baru rupanya,” ucap Daddy Davis dengan angkuh. Ia menyambut kedatangan dua manusia yang sangat ingin ia takut-takuti dengan hiu itu. Geram sekali rasanya jika mengingat perlakuan keduanya pada putra tertuanya.
“Tentu saja. Pelayan impor dari Indonesia,” kelakar Deavenny seraya kakinya mengayun untuk berdiri di samping Daddy Davis. Diikuti oleh Dariush dan Delavar juga.
“Welcome to the hell,” ucap ketiga kembar D itu dengan membuka kacamata mereka bersamaan. Senyum sinis mereka lukis di wajah masing-masing.
Papa Rey dan Fenny melongo menatap ketiganya.
__ADS_1
“Tidak mungkin,” gumam Papa Rey yang merasakan aura tak enak saat menatap jelas wajah itu. “Hanya mirip saja karena mereka sama-sama bule,” lirihnya.
“What? Kalian mirip sekali dengan suami kembaranku,” pekik Fenny yang menyeletuk lantang.
“Memang mereka saudara kembarku.” Baritone itu menggema di mansion berukuran sangat besar. Kaki kekar itu perlahan menuruni anak tangga yang melingkar dengan hentakan mantap dan angkuhnya.
Semakin melotot saja mata Papa Rey dan Fenny menatap pria yang mereka kira tak jelas asal usulnya. “Kau!” tunjuk mereka pada Danesh yang ikut berdiri di samping Daddy Davis. Untung keduanya tak memiliki penyakit jantung.
Kelima anggota keluarga Triple D itu melipat tangan mereka bersamaan di dada. “Kenapa? Kaget melihat kami?”
Kelima orang itu tertawa sinis dengan ekspresi dua target mereka. Sangat lucu melihat wajah kebingungan itu.
“Selamat datang di mansion keluarga Dominique. Keluarga dengan bisnis terbesar di Eropa. Yang aku bangun dengan jerih payah sendiri tanpa warisan,” ucap Daddy Davis sombong. “Ini adalah anak-anakku. Pewarisku,” imbuhnya memperkenalkan kembar empat.
Si kembar empat tak mengeluarkan suara. Mereka tetap dengan mode angkuh masing-masing.
__ADS_1
Deavenny menguap seolah bosan. “Daddy, katakan pada mereka apa tugas keduanya. Kami sudah mengatakan akan mengembalikan hartanya jika ikut bersama ke Finlandia. Tapi, sepertinya tak seru jika kita memberikan semuanya secara cuma-cuma,” ucapnya. Kesombongan Fenny belum ada apa-apanya dibandingkan Deavenny.
Papa Rey dan Fenny mengepalkan tangan mereka. Rahang keduanya mengeras. Mereka yakin ini adalah permainan Danesh untuk membalas. Masih ingat jelas ucapan Danesh jika akan membalikkan keadaan suatu saat nanti.
“Oh ... aku kira kalian membawa pelayan baru, ternyata kalian membawa pengemis ke dalam mansionku ini,” sinis Daddy Davis lebih tajam daripada ucapan Papa Rey dahulu.
Papa Rey dan Fenny membulatkan matanya seperti hendak keluar. “Kami bukan pengemis!” Mereka tak terima diberikan julukan itu.
Kelima anggota keluarga Triple D itu tertawa terbahak-bahak seolah mendapatkan mainan baru.
“Baiklah, sebelum aku jadikan pengemis. Akan aku jadikan kau pelayan. Bagaimana? Pekerjaanmu sangat mudah. Hanya menuruti semua kemauan anggota keluargaku, maka aku akan membantu mengembalikan kekayaanmu,” tutur Daddy Davis menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya sama-sama menunjukkan keangkuhan dengan Papa Rey.
“Jika aku tak mau?” tantang Papa Rey. Enak saja dirinya direndahkan seperti ini. Cih! Tak sudi. Harga dirinya tetap dijunjung tinggi.
“Silahkan saja kau menjadi gelandangan di Finlandia tanpa paspor dan visamu,” balas Daddy Davis.
__ADS_1
Dengan sangat amat terpaksa, Papa Rey dan Fenny menuruti perintah keluarga Triple D. Mereka menggemelatukkan gigi merutuki diri mereka sendiri karena masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Danesh. Bisa-bisanya tak menyadari jika tiga orang yang menjemput mereka sangat mirip dengan Danesh. Benar-benar kacamata hitam itu mengecoh.