
Danesh dan Felly beserta dua anak mereka sudah menginjakkan kaki di mansion Violet. Danesh menganggukkan kepalanya memberikan kekuatan pada istrinya saat keduanya berada di depan pintu kamar Violet.
Dengan tangannya yang kekar dan berotot, Danesh menggendong Annora dengan tangan kirinya saja. Tangan kanannya ia gunakan untuk membuka pintu.
“Masuklah dulu,” titah Danesh lembut pada sang istri. Tak lupa ia memberikan elusan di pundak Felly dan tersenyum pada istrinya itu. Ia kembali menggendong Annora menggunakan dua tangannya.
Kaki Felly rasanya gemetar, entah mengapa ia takut sekali mengucapkan keadaan yang sesungguhnya pada Violet. Takut melukai hati sesama wanita. Ia melangkah perlahan memasuki kamar yang luas itu. Diikuti oleh Danesh di belakangnya.
“Hi, Violet. Bagaimana kabarmu?” Felly langsung menyapa temannya itu. Ia bisa melihat wajah Violet yang pucat seolah tak ada darah yang mengaliri, tubuh lemah yang tak berdaya itu sedang menatap ke arahnya dengan ulasan senyum.
“Hi, Felly. Seperti yang kau lihat, aku masih tetap sakit,” balas Violet dengan suara lirihnya. Matanya menatap Felly dan Danesh bergantian. “Anak?” Ia bertanya tentang dua bayi yang tengah digendong itu.
“Anakku dan Felly.” Danesh yang menjawabnya. Bibirnya sangat gemas menunggu istrinya yang mengatakan.
__ADS_1
Felly menatap suaminya yang ada di sebelah kirinya dengan matanya yang membulat. “Danesh,” panggilnya dengan lirih namun penuh penekanan.
Danesh kembali menggendong Annora menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya ia lingkarkan di pundak Felly dan tak lupa memberikan elusan lembut. “Katakan, atau aku yang mengatakannya dengan caraku? Aku akan menciummu di depannya sekarang juga. Lebih sakit mana?” bisiknya di telinga sang istri.
Mata Felly melirik suaminya dan kembali lagi menatap Violet. Ia membasahi tenggorokannya dahulu yang terasa kering. “Vio, sebenarnya, a-aku dan Danesh—” Ucapannya terhenti, karena Violet sudah memotongnya.
“Aku sudah tahu, kau dan Danesh sudah menikah, kan? Orang tuaku sudah mengatakannya padaku saat aku sadar,” ucap Violet lembut. Bibirnya mengulas senyum manisnya.
“Sini.” Tangan lemas Violet mencoba bergerak memberikan isyarat kepada Felly untuk mendekat ke ranjangnya.
Felly menatap suaminya sejenak untuk meminta izin dan dijawab anggukan oleh Danesh. Keduanya kembali mengayunkan kaki ke arah Violet dan berdiri tepat di samping Violet yang terbujur lemah.
“Vio, maaf aku tak bermaksud membohongimu dan menutupi tentang pernikahanku dengan Danesh. Aku hanya takut melukai hatimu disaat kau kehilangan anakmu,” tutur Felly dengan wajah penuh penyesalannya.
__ADS_1
Violet masih menghiasi wajah pucatnya dengan ulasan senyum tipis. Ia tak menanggapi ucapan Felly, karena dirinya tengah menahan rasa sakit yang sudah lama ia tahan.
Sedangkan Danesh, pria itu berinisiatif menarik sebuah kursi untuk istrinya. Untung di dalam sana ada kursi kayu di meja rias. “Duduklah,” titahnya dengan memposisikan kursi di belakang Felly.
Felly pun menurut menyatukan pantatnya dibenda kayu itu. Tak lupa ia tersenyum dan mengatakan terima kasih pada suaminya.
Violet lagi-lagi tersenyum melihat perhatian Danesh pada Felly. “Kau tak pernah berubah, ya? Selalu perhatian dengan orang yang kau cintai.”
“Ya, seperti itulah aku,” balas Danesh datar.
Violet sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Aku beruntung sudah pernah mendapatkan cintamu,” balasnya.
Lagi-lagi Felly merasa bersalah. Ia merasa sudah merebut kebahagiaan Violet. “Vio, sekali lagi aku minta maaf. Saat itu aku tak ada pilihan lain selain menutupi pernikahanku ini. Aku ingin membagi kebahagiaan denganmu juga. Aku ingin kau merasakan bahagia sebelum Tuhan menjemputmu untuk selamanya. Bayi yang saat itu aku kandung adalah kedua anakku ini. Anak-anakku dengan Danesh. Kami sudah menikah hampir satu tahun. Ketika kita bertemu di Jepang untuk pertama kalinya, aku tak tahu jika kau adalah Violet mantan kekasih suamiku.” Kepalanya menunduk, tak lupa air mata pun menetes dari balik kelopak matanya.
__ADS_1