Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 31


__ADS_3

“Maaf menunggu lama.” Felly meletakkan baskom berisi air es dan kotak obat di meja dekat kursi.


“Tak apa,” balas Danesh.


Felly duduk di samping Danesh, ia mulai mengambil handuk kecil dan membasahi dengan air di dalam baskom. Ia memerasnya terlebih dahulu sebelum digunakan untuk membersihkan wajah Danesh.


“Maaf, bisa kau menghadap ke aku?” izin Felly. Tangan halusnya memegang rahang kokoh Danesh dan mengarahkannya perlahan ke arahnya.


Danesh diam saja, ia menurut semua yang dilakukan oleh Felly.


Dengan hati-hati, Felly mulai menyentuhkan handuk yang ia pegang ke wajah Danesh.


“Maafkan Papaku, dan maafkan aku juga karena menarikmu ke dalam masalah hingga kau babak belur seperti ini.” Felly membuka kainnya, lalu ia memasukkan bongkahan es ke dalam kain itu. Ia kembali menyentuh wajah Danesh untuk mengompresnya.


“Tak apa, lebih baik aku yang dihajar daripada kau yang diamuk oleh Papamu.” Danesh tersenyum tipis, namun Felly tak melihatnya. Tangannya terulur untuk mengelus rambut halus wanita di hadapannya itu.


Mata Danesh berhenti di pipi Felly. Kulit itu terlihat memerah. “Pasti sakit mendapatkan tamparan dari Papamu?” Ia mengelus lembut pipi Felly.

__ADS_1


Felly menghentikan tangannya. Ia mematung dengan jantungnya yang berdebar. Danesh benar-benar bisa membuatnya gila. Padahal pria itu sedang sakit, rela dihabisi oleh Papa Rey demi melindunginya. Bahkan Danesh tak marah sedikit pun pada Felly, malah menunjukkan perhatian padanya.


Tangan Danesh satunya memegang tangan Felly yang berhenti mengompres wajahnya. Ia menurunkan tangan itu dan mengambil alih kainnya.


“Pipimu juga butuh diobati.” Danesh berganti merawat Felly.


Felly masih mematung dan menikmati dadanya yang sudah tak bersahabat. Lama-lama ia bisa jatuh cinta sungguhan dengan Danesh.


“Apa Papamu sering bermain tangan dengan anaknya?” tanya Danesh setelah selesai mengompres Felly.


Felly mengangguk. “Iya, jika kami membuat kesalahan,” tuturnya dengan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah meneteskan air mata.


Semakin terisak Felly mendengarnya. Bukan karena sakit fisik atau hati, tapi karena Danesh yang begitu perhatian dengannya. Sungguh menyentuh relung hatinya.


Melihat Felly yang tak berhenti menangis, Danesh menariknya. Merengkuhnya untuk membiarkan wanita itu menangis membasahi bajunya. “Pasti kau sakit hati karena kekasaran Papamu, ya? Tenanglah, selama ada aku, kau tak akan mendapatkan tamparan seperti tadi lagi.” Tangannya menepuk punggung Felly untuk menenangkan.


Ingin sekali Felly berkata tidak, ia sudah biasa mendapatkan tamparan Papanya saat ia tak bisa menjadi seperti yang Papanya inginkan. Terutama dalam menjalankan bisnis keluarga.

__ADS_1


Berada di dalam dekapan Danesh bukannya membuat Felly tenang, justru ia semakin gelisah dengan dadanya yang bergemuruh.


Felly mendorong dada Danesh agar melepaskan rengkuhan itu. Ia mengusap air matanya dengan lembut. “Lebammu harus diobati.” Ia mengambil kotak obat dan memangkunya. Mencari salep untuk mengobati luka lebam.


“Sekali lagi aku minta maaf.” Felly mulai mengolesi wajah Danesh dengan lembut.


“Tak masalah, ini juga resiko yang harus aku dapatkan karena berurusan dengan wanita yang sedang patah hati. Setidaknya hati dan sifatmu baik tak seperti adikmu.” Danesh mengacak-acak rambut Felly agar wanita itu berhenti merasa bersalah.


...........


Jangan lupa:


1. Like


2. Komen


3. Hadiah

__ADS_1


4. Follow akunku


5. Follow instagram aku: heynukha


__ADS_2