Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 76


__ADS_3

Besoknya, Tuan Besar Rey langsung berangkat ke Jepang untuk menghadiri penandatangan kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di negara itu. Dan tentunya bisa mengangkat derajat perusahaannya lebih tinggi lagi.


“Sorry, Mr. Rey. Mr. Nakamoto tak mau bertemu dengan anda. Sesuai kesepakatan dari awal, yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan Mr. Nakamoto adalah Miss Felly. Jadi beliau hanya ingin bertemu dengan Miss Felly. Mr. Nakamoto yang masih berumur muda, tak suka bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh orang yang lebih tua darinya,” jelas Hiro—sekretaris Mr. Nakamoto.


“Tapi putriku sedang berhalangan hadir, sehingga aku yang menggantikannya.” Rey tak gentar. Ia terus meyakinkan. Dirinya tak ingin perjalanan ke Jepang sia-sia dan pulang tanpa membawa hasil apa pun.


“Maaf, tetap tidak bisa. Mr. Nakamoto memberikan waktu dua hari untuk Miss Felly datang ke mari. Jika tidak, maka kerja sama akan dibatalkan,” tutur Hiro. “Permisi, pekerjaan kami masih banyak.” Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Rey di ruang tunggu perusahaan itu.


Rey mengacak-acak rambutnya. “Sial! Aku tak bisa kehilangan kerja sama dengan Mr. Nakamoto. Perusahaan bahkan sedang membutuhkan asupan dana untuk menutupi kerugian selama dua minggu ini,” gerutunya.


Rey pun memilih beranjak pergi meninggalkan perusahaan itu dengan perasaan kesalnya. Sudah tiga tahun dia tak memegang perusahaan, ternyata rekan bisnis perusahaannya sudah berganti ke penerus selanjutnya semua.

__ADS_1


...........


Dengan berat hati, Rey harus menemui Felly. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan perusahaannya adalah putrinya itu. Ia langsung kembali ke Indonesia setelah tak jadi melakukan kontrak kerja sama dengan Mr. Nakamoto.


Dan karena waktu yang diberikan oleh Mr. Nakamoto hanya dua hari, Rey langsung berniat menemui Felly.


Saat ini pria paruh baya itu sudah menghentikan mobilnya di parkiran Triple D Coffee, ia mengetahui dari sekretarisnya yang ditugaskan untuk mengulik Danesh dan Felly setelah keluar dari rumah besar Wilson.


Dengan berat hati, Rey keluar dari mobil. Ia melangkahkan kakinya dengan angkuh. Ia tak ingin terlihat kalah dari Felly.


Pertama kali Rey menginjakkan kakinya di coffee shop Danesh. Ia melihat pengunjung sangat ramai dan tak ada kursi kosong. Felly tengah duduk istirahat ditemani dengan Danesh yang duduk di bawah Felly. Menantu yang tak ia harapkan itu tengah memijat kaki putrinya.

__ADS_1


“Sial! Bagaimana bisa Felly hidup sederhana seperti ini, bahkan dia terlihat bahagia. Tak ada sama sekali menyesal keluar dari rumah,” decak Rey tak suka. Ia yang ingin memberikan pelajaran pada putrinya dengan membiarkan hidup kesusahan justru dibuat kesal karena tak berhasil.


“Ehem ....” Rey berdehem saat dirinya berdiri di depan kasir.


Danesh menghentikan ativitas memijat istrinya. Ia dan Felly bersamaan berdiri, mereka pikir ada pelanggan yang datang. Ternyata bukan.


“Selamat datang di Triple D Coffee, mau pesan apa?” Danesh berusaha profesional. Meskipun ia sangat marah dengan tua bangka di hadapannya itu, namun saat ini ia sedang bekerja. Tak boleh mengedepankan ego dan amarahnya.


“Aku ingin berbicara dengan Felly.” Bukannya memesan makanan atau minuman, ia justru meminta istri dari pemilik coffee shop itu.


Sudah tak memesan, nada bicaranya tak enak di dengar pula. Sungguh membuat Danesh kesal namun harus ditahan lagi.

__ADS_1


__ADS_2