
“Tidak, bahkan aku tak peduli jika Papamu itu bangkrut, toh selama ini juga aku bisa memenuhi kebutuhanmu. Biarkan saja dia tak memiliki apa pun, supaya dia bisa belajar dan merasakan hidup kesusahan seperti apa. Agar dia tahu jika kesombongannya tak akan bisa menghidupinya,” tolaknya.
Felly mengatupkan kedua tangannya memohon dengan sungguh-sungguh pada Danesh. “Please, semarah dan sebenci apa pun aku dengan Papaku, dia tetaplah orang tuaku. Mana tega aku membiarkan mereka hidup susah. Lagi pula, Papaku sudah berkata menyesali perbuatannya. Sudah cukup aku memberikan pelajaran pada Papaku.”
Wajah Danesh berubah menjadi serius dan tegas. “Apa saat kau keluar dari rumahmu, Papamu memikirkan kehidupanmu yang akan kesusahan?”
Felly menggeleng.
“Dan apakah kau sungguh percaya jika Papamu itu menyesali perbuatannya?” tanya Danesh lagi.
Felly menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Danesh menegakkan tubuhnya. Mereka tak lagi saling menatap. “Dengar, jangan terlalu percaya dengan ucapan orang. Kau bisa dengan mudahnya dibodohi oleh mereka. Baik boleh, tapi jangan bodoh hingga tak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang bulus. Orang bisa saja mengatakan hal-hal baik saat dirinya terdesak membutuhkan pertolongan, namun di dalam hatinya belum tentu seperti itu,” omelnya panjang lebar dan tanpa jeda, suaranya pun sedikit meninggi. Untung saja coffee shop itu diiringi musik dari speakers yang sangat keras, sehingga yang ia ucapkan tak akan terdengar oleh pengunjungnya.
Felly hanya menunduk tak berani menatap suaminya. Ia takut jika Danesh marah dengannya. “Maaf, aku hanya tak bisa melihat keluargaku kesulitan. Papaku sudah bekerja banting tulang dari aku kecil untuk memberikan kehidupan yang enak padaku. Aku merasa menjadi anak durhaka jika membiarkannya kesusahan dan tak membantu meringankan bebannya diusianya yang sudah tua,” lirihnya menjelaskan.
Danesh menghembuskan napasnya kasar, ia maju satu langkah dan langsung memeluk Felly. Ia memejamkan mata sebentar. Dengan posisi seperti itu, emosinya perlahan menurun.
“Aku akan mengizinkanmu, tapi setelah aku berbicara dengan Papamu.” Danesh mengelus kepala Felly. Wajah istrinya itu ia benamkan di dada bidangnya. Posisi yang sangat nyaman ia rasakan saat ini.
Felly melingkarkan tangannya pada badan Danesh. Tangannya sedikit meremas pakaian suaminya itu. “Jika kau tak mengizinkan, maka aku tak akan kembali bekerja,” balasnya.
“Kau gantikan aku sebentar untuk melayani pelanggan. Aku akan menemui Papamu,” pinta Danesh. Dan dijawab anggukan kepala oleh Felly.
__ADS_1
Danesh pun meninggalkan istrinya sendiri dan menemui mertua laknatnya lagi. Ia langsung duduk di hadapan Papa Rey.
“Kau menginginkan putrimu kembali lagi bekerja di perusahaanmu itu?” tanya Danesh datar, namun matanya dengan berani menajam menatap Papa Rey.
Papa Rey terlihat malas berbicara dengan menantunya itu sebab di matanya, Danesh terlihat sangat angkuh. Jika saja saat ini mereka ada di rumah besar Wilson, pasti Danesh sudah ia siksa. Namun saat ini ia berada di luar daerah kekuasaannya.
“Ya!” balas Papa Rey ketus.
“Aku akan mengizinkannya bekerja di sana kagi, namun dengan syarat,” ucap Danesh.
Papa Rey membulatkan matanya diikuti dengan kedua alisnya yang naik. “Berani-beraninya kau mengajukan persyaratan padaku.”
__ADS_1
Masih dengan gayanya yang tegap, tenang, dan datar, Danesh membalas. “Terserah kau, keputusan ada di tanganmu. Kau mau istriku membantu perusahaanmu kembali normal lagi, atau kau mau perusahaanmu itu bangkrut.”
Papa Rey menggerutu, ia merasa menantunya itu sungguh kurang ajar. “Apa syaratnya?” tanyanya.