Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 71


__ADS_3

“Tidak mungkin, dia suamimu. Kalian sudah terikat janji dengan Tuhan.” Felly mencoba meyakinkan Fenny, walaupun dirinya sendiri tak terlalu yakin.


Fenny melepaskan tangannya yang masih menyentuh tubuh kembarannya. Ia memalingkan wajah untuk melihat jendela. “Pasti, Fel. Dia sudah mengatakannya padaku jika Erland bertahan denganku hanya demi anaknya. Maka dari itu aku tak ingin mengeluarkan anak ini.” Ia pun menceritakan semua yang diucapkan oleh suaminya ketika keluar dari coffee shop milik Danesh saat itu.


“Dengar, rubahlah sifatmu, maka dia akan bertahan denganmu. Erland menyukai wanita yang lembut dan tulus,” tutur Felly memberitahu.


“Sebab itu yang dia cintai adalah Felly bukan Fenny,” timpal Fenny dengan sedih.


Felly menghela napasnya. Ia harus sabar membujuk wanita yang masih kekanakan itu. “Maka dari itu rubahlah sifatmu itu agar Erland tak meninggalkanmu.”


“Percuma, dia mana percaya denganku lagi karena aku sudah pernah melakukan hal licik padanya,” timpal Fenny.


Felly kembali mengarahkan kepala kembarannya agar menatapnya. “Berjanjilah padaku, kau akan benar-benar berubah. Maka aku akan membantumu membujuk Erland agar tak meninggalkanmu.”


Mata Fenny terlihat berbinar mendengarnya. “Serius?”

__ADS_1


Felly mengangguk yakin. “Sejak kapan aku berbohong?”


“Tak pernah.” Fenny langsung memeluk kembarannya. Ia lagi-lagi terisak dan merasa bersalah dengan Felly. “Kau masih saja baik denganku meskipun aku selalu melakukan hal buruk padamu dan suamimu,” pujinya. “Pantas saja Erland sangat mencintaimu,” imbuhnya dengan nada sedih. “Tapi sayang, kau harus berakhir dengan pria miskin itu,” gumamnya pelan.


Namun Felly bisa mendengarnya. Ia menjauhkan tubuhnya dengan Fenny. “Fen ... jangan menghina suamiku,” tegurnya penuh penekanan.


“Maaf, mulutku belum terbiasa berkata sopan.” Fenny memukul bibirnya sendiri dengan keras.


Felly berdecak. “Jangan ulangi lagi,” peringatnya. “Jadi, kau mau kan janinnya dikelurakan? Demi kesehatanmu kedepannya juga,” tanyanya kembali ke topik semula.


“Iya, apa kau tak percaya padaku?”


Fenny menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya takut kau tak bisa membujuk Erland.”


Felly mengusap kedua lengan Fenny dengan lembut. “Aku akan mengusahakan hingga Erland mau, asal kau berjanji akan berubah lebih dewasa dan meninggalkan sifat burukmu itu.” Ia mengangkat kelingking kanannya ke depan wajah Fenny.

__ADS_1


Fenny juga mengangkat jari yang sama dan mengaitkan ke kelingking Felly. “Janji.”


“Oke, aku panggil dokter dulu.” Setelah berpamitan, Felly langsung keluar dan mengatakan pada Dokter Selly jika kembarannya sudah mau melakukan sesuai prosedur yang seharusnya dilakukan.


Dokter Selly pun langsung masuk ke dalam ruangan untuk melakukan tindakan selanjutnya pada pasiennya.


Sedangkan Felly, ia duduk di samping suaminya yang minim ekspresi itu. Ia langsung menghembuskan napasnya lega.


“Kenapa? Capek? Kita pulang saja agar kau bisa istirahat,” ucap Danesh. Jika saja dirinya ini sedang berstatus menjadi sultan, ia akan memesankan satu kamar VVIP untuk istrinya beristirahat, namun sayangnya saat ini ia hanya orang biasa.


Felly menggeleng. “Aku ingin menelpon Erland untuk memberitahukan hal ini. Bagaimanapun juga dia adalah suami Fenny. Boleh?” izinnya.


Danesh mengangguk. “Tentu saja boleh.”


Felly tersenyum, ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menelpon Erland agar segera datang ke rumah sakit. Ia belum menceritakan perihal keguguran Fenny. Felly hanya mengatakan jika Fenny mengalami insiden terpeleset.

__ADS_1


__ADS_2