
Kapal pesiar itu sedang menuju kembali ke pelabuhan. Daddy Davis mengajak besannya dan anak-anaknya mengobrol bersama seraya menunggu transportasi mewah itu sampai ke tujuan.
“Kalian bisa kompak sekali, apa rahasianya?” tanya Papa Rey yang senang memiliki besan seperti keluarga Triple D.
“Tidak ada rahasia, aku hanya sering mengajarkan kepada mereka bahwa sebuah keluarga itu layaknya tim. Semua saling membantu satu sama lain saat ada yang kesulitan, menasehati saat ada yang salah, dan tentunya harus menumbuhkan rasa kasih sayang satu sama lain. Aku mengajarkan kepada mereka untuk menjadikan keluarga adalah sahabat, sehingga mereka akan dekat dengan sendirinya,” jawab Daddy Davis.
Papa Rey mengangguk paham. “Sepertinya aku salah dalam mendidik anakku.”
Daddy Davis memberikan tepukan di bahu besannya. “Tak masalah, kau bisa memperbaikinya.”
“Terima kasih, aku belajar banyak hal dari keluargamu,” timpal Papa Rey dengan senyum tulusnya. Matanya beralih ke Fenny, putrinya yang duduk dan mengobrol dengan Deavenny. “Fen, jika kau punya anak nanti, ajarkan mereka seperti keluarga Dominique agar anak-anakmu kompak seperti mereka,” nasihatnya.
__ADS_1
“Ya, Pa,” balas Fenny sopan.
“Sepertinya lebih enak jika kita minum es disaat cuaca terik seperti ini. Aku akan mengambilkan kalian semua minuman,” ucap Delavar. Tanpa persetujuan yang lain, ia langsung berdiri dan menuju ke dapur.
Sepuluh menit kemudian, Delavar membawa nampan dengan tujuh gelas berisi minuman dingin. Ia meletakkan satu persatu gelas di hadapan masing-masing orang di sana.
“Silahkan di minum,” tutur Delavar. Ia kembali mendaratkan pantatnya di kursinya dan menikmati minuman yang ia buat sendiri.
Gelagat Delavar dilihat oleh anggota Triple D lainnya. Mereka bisa tahu kelakuan anak satu itu. “Apa yang kau berikan di minuman mereka?” tanya kelima Triple D pada Delavar. Mereka meletakkan gelas ke atas meja dan menatap tajam Delavar.
Papa Rey dan Fenny menyemburkan kembali air yang ada di dalam mulut mereka ke dalam gelas.
__ADS_1
Delavar menyengir seolah tak merasa bersalah. “Aku hanya mencampurnya dengan sianida. Bukankah mereka pernah memberikan Danesh kopi sianida? Sekarang aku memberikan mereka mocktail sianida,” selorohnya dengan senyum tak berdosanya.
“What?!” pekik mereka semua bersamaan.
Keluarga Triple D mengalihkan pandangan mereka ke Papa Rey dan Fenny yang sedang membulatkan mata mereka dengan tangan memegangi tenggorokan. Keduanya menyesali sudah meminum air yang segar itu.
“Jika ini adalah akhir hidupku, tolong jaga istriku,” ucap Papa Rey seolah itu adalah permintaan terakhirnya. Setetes air mata luruh melewati pipinya. Saat ini ia benar-benar menyesal pernah berperilaku jahat dan bermain-main dengan salah satu anggota keluarga Triple D. Jika saja dirinya tahu sedari awal asal usul Danesh, pasti dia tak akan berperilaku buruk pada menantunya. Namun sayangnya, sebesar apa pun usahanya mencari data diri Danesh, tak akan bisa ia dapatkan informasi dari pria yang berasal dari negara maju itu.
“Tolong sampaikan pada suamiku, aku mencintainya. Maafkan aku jika caraku mendapatkannya salah dimasa lalu, katakan juga jika aku menyesal pernah mengalami keguguran sehingga belum bisa memberikannya keturunan.” Fenny pun meneteskan cairan bening dari matanya.
Kedua tubuh tua dan muda itu mendadak lemas, Papa Rey dan Fenny memejamkan mata mereka bersamaan.
__ADS_1