Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Extra Part 4


__ADS_3

Daripada anak-anaknya saling iri dan tak mau kalah satu sama lain, Danesh memilih untuk merebahkan Annora dan Agathias di ranjang seraya menunggu Felly yang kembali melanjutkan memompa ASI.


“Hanya dapat dua botol, sepertinya kurang jika kita meninggalkan mereka. Anak-anak kita minumnya banyak,” ucap Felly dengan memperlihatkan dua botol bening berisi cairan berwarna putih yang tak terlalu penuh. “Lebih baik kita tunda saja jalan-jalannya sampai Annora dan Agathias besar,” imbuhnya yang merasa takut jika meninggalkan dua bocah mungil itu.


Danesh memasang wajahnya sedih dan mengiba pada istrinya. “Aku janji tak akan lama, sungguh. Aku rindu duduk di atas motor dan dipeluk olehmu,” bujuknya tak gentar.


Felly terkekeh gemas dengan tingkah suaminya. “Kalau hanya rindu di peluk, aku akan lakukan selama seharian penuh di sini.” Ia beralih duduk di belakang Danesh dan merengkuh pria itu dari belakang. Mendaratkan dagunya di pundak yang kokoh milik suaminya. “Seperti ini, kan?” bisiknya.


Danesh mengelus punggung tangan Felly begitu lembut. “Iya, tapi di atas motor. Aku ingin merasakan kencan denganmu, satu jam saja.”


Felly merasa kasian dengan suaminya yang terlihat sangat ingin pergi berdua bersamanya pun sepakat. “Oke, satu jam, ya? Aku siapkan pakaian untuk kita dulu.”


Dan senyum merekah menghiasi wajah tampan Danesh. Ia mengganti pakaian casual yang dipilihkan oleh istrinya.

__ADS_1


...........


Danesh menunggu istrinya di depan pintu utama mansion. Ia duduk di atas motornya yang berwarna hitam dengan celana jeans dan jaket denim melekat pada tubuh tegapnya. Menanti wanita cantik yang baru saja menidurkan Annora dan Agathias sebelum dititipkan pada keluarganya.



“Tampan sekali suamiku,” puji Felly saat pandangan pertamanya menangkap Danesh.


“Cantik sekali istriku.” Danesh pun balas memuji. Ia menarik tangan Felly untuk mendekat. “Pakai helm dulu untuk keamanan.”


“Siap?” tanya Danesh setelah Felly membonceng di belakangnya.


“Yes,” sahut Felly seraya memeluk erat suaminya dan menyandarkan dagu di bahu kokoh Danesh.

__ADS_1


Tuas gas Danesh tarik perlahan dan kendaraan roda dua itu melaju lambat keluar mansion.


“Aku berasa muda lagi jika seperti ini. Naik motor berdua bersama orang yang ku cintai, menyusuri jalanan Kota Helsinki tanpa memikirkan beban hidup.” Danesh mengajak istrinya berbicara, padahal suaranya juga tak terlalu jelas karena saling bersahutan dengan bunyi kendaraan lain.


“Ah? Iya, sama.” Felly membalas hanya sekenanya, sebab dia sendiri tak terlalu jelas mendengar. Tapi tak enak juga jika dilihat orang lain berbicara berteriak walaupun di jalan raya. Seolah mereka tak memiliki adab berkendara saja.


Setelah lima belas menit dihabiskan di atas motor, Danesh memarkirkan kendaraan roda duanya di sebuah taman hiburan. Dan melepas helmnya.


“Kita makan es krim di sini dulu, oke? Saat aku kecil suka sekali membeli itu di tempat ini,” ajak Danesh.


“Boleh.”


Sepasang suami istri itu berjalan dengan bergandengan tangan, mengantri untuk membeli makanan dingin yang manis kesukaan Danesh ketika kecil. Setelah dapat apa yang mereka inginkan, bapak beranak dua itu mengajak Felly duduk di kursi yang tersedia di taman hiburan tersebut. Menikmati lezatnya es krim yang belum meleleh.

__ADS_1


Mata Danesh terus fokus pada istrinya yang menjilati es krim di atas cone tersebut. Ia reflek membersihkan noda yang tertinggal di sudut bibir Felly dengan mulutnya secara langsung.


__ADS_2