Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 118


__ADS_3

Motor gede harleydavidson berwarna orange itu melaju sangat lambat, sudah seperti kura-kura saja. Bahkan orang berlari pun lebih cepat daripada kecepatan motor yang dikendarai oleh Danesh.


“Kenapa kau lambat sekali mengendarainya? Ini kan motor untuk melaju cepat,” protes Felly saat berhenti di lampu merah. Sudah empat puluh lima menit mereka di jalan dan belum juga sampai di tempat tujuan. Biasanya hanya butuh waktu dua puluh menit sudah sampai.


Danesh meletakkan sikunya di paha istrinya, tangannya mengelus lutut Felly dengan lembut. Ia sedikit menengok ke belakang untuk melihat sang pengisi hatinya. “Karena aku menjaga keselamatan kita berempat, aku tak ingin kalian terguncang atau saat aku berkendara kencang dan mendadak aku mengerem pun tak ingin perutmu tergencet nantinya,” jelasnya. “Tapi yang paling utama, aku ingin berlama-lama dipeluk olehmu,” selorohnya.


Lagi-lagi Felly mencubit perut suaminya, namun hanya terkena jaket saja. “Apa tak sekalian saja kau borgol tangan kita berdua agar tak pernah jauh?” timpalnya.


“Ide bagus, nanti aku akan membeli borgol agar kau tak lepas dariku,” kelakar Danesh menyetujui.


Felly menepuk perut suaminya pelan. “Aku hanya bercanda, jangan kau tanggapi serius,” cegahnya. Ia takut jika Danesh sungguh melakukan hal gila yang tak sengaja ia lontarkan tadi.


“Iya, Sayang. Aku tahu,” balas Danesh. “Ayo peluk lagi, sebentar lagi hijau,” ujarnya, kemudian mengarahkan tangan istrinya untuk kembali melingkar di tubuhnya.

__ADS_1


“Normal saja, jangan terlalu lambat. Kita bukan pengangguran yang bisa membuang-buang waktu di jalan,” omel Felly memberitahu sebelum Danesh menarik tuas gas.


“Siap, laksanakan, Sayangku.” Tangan kanan Danesh perlahan menarik tuas gas, ia sungguh menuruti istrinya.


...........


Danesh mengernyitkan dahinya saat ia sampai di depan coffee shopnya yang sekaligus ada kantornya untuk bekerja di lantai paling atas. Di depan tempat usahanya itu sudah ada tiga saudara kembarnya yang duduk tepat menatap ke arahnya.


Dariush, Delavar, dan Deavenny pun berdiri bersamaan. Menghampiri Danesh dan Felly yang baru saja turun dari motor.


“Kalian kenapa ke sini lagi?” tanya Danesh penasaran.


Dariush menghembuskan napasnya. “Kami diperintahkan oleh Daddy untuk menjemputmu. Kita harus ke Jepang sekarang juga,” jawabnya.

__ADS_1


Deavenny menyenggol lengan Dariush. “Jangan setengah-setengah jika memberikan informasi, dia mana paham dengan situasi kita saat ini,” omelnya.


“Iya, maaf.” Dariush pun menambahkan lagi. “Mommy sakit, tak perlu mengajukan pertanyaan. Intinya, kita harus segera ke sana dan memberikan dukungan agar cepat pulih.”


Danesh membulatkan matanya. “Bagaimana bisa? Mommy sepertinya tak memiliki sakit apa pun yang parah.” Nada bicaranya seolah tak terima jika Mommynya sakit.


Felly mencoba menenangkan dengan memberikan usapan di lengan Danesh.


Sedangkan Dariush, Delavar, dan Deavenny justru melayangkan sentilan ke kening kembaran tertua mereka. “Sudah dikatakan jangan banyak bertanya, masih saja bertanya,” omel mereka bersamaan.


“Maaf, aku hanya terkejut. Dan pertanyaanku tak banyak, hanya satu,” elak Danesh.


Dariush, Delavar, dan Deavenny beralih menatap kakak ipar Mereka. “Kau juga ikut kami. Daddy juga memintamu ke Jepang.”

__ADS_1


Perasaan Felly justru tak enak. Entah, ia takut dan rasanya minder setelah mengetahui latar belakang suaminya secara diam-diam yang jauh berada di atasnya. “I-iya,” jawabnya dengan sedikit ragu.


__ADS_2