
Felly sungguh tak mengira jika Papa dan adiknya berniat jahat pada suaminya. Ini tak bisa didiamkan lagi. Semakin menjadi saja mereka berlaku seenaknya pada suaminya.
“Kalian kerlaluan kali ini. Aku sudah diam selama ini dengan perlakuan Papa dan Fenny pada suamiku. Kalian memberinya perintah sebagai seorang pelayan aku diam saja, tapi kali ini kesabaranku sungguh menghilang. Kalian sangat jahat!” Mata Felly berkaca-kaca sangat sedih dan malu pada suaminya karena anggota keluarganya yang berperilaku buruk.
“Ka-kami tak meracuninya. Pelayan itu pasti yang berniat jahat pada Danesh,” elak Fenny. “Pasti dia memiliki dendam dengan suamimu,” imbuhnya.
“Memang benar pelayan itu yang melakukannya, tapi kalian pasti yang menyuruhnya, kan?” tuduh Felly dengan yakin.
Papa Rey menggebrak meja di hadapannya. Benar kata Fenny, Danesh sungguh memberikan pengaruh buruk pada putrinya hingga tak memiliki kepercayaan pada anggota keluarganya sendiri yang bersama dengan Felly sedari kecil.
“Keterlaluan! Kau menuduh kami berbuat jahat, begitu?” marah Papa Rey pada Danesh.
“Bukan menuduh, tapi kenyataannya seperti itu,” balas Danesh dengan santai.
Plak!
Papa Rey menampar pipi menantunya itu. “Jaga mulutmu, kau bisa aku tuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik,” ancamnya.
__ADS_1
Danesh masih terlihat tenang. Entahlah, pria itu benar-benar tak terbaca. “Silahkan, dan aku akan menuntut balik dengan tuduhan kejahatan berencana,” timpalnya membalikkan keadaan.
Papa Rey sungguh geram. Ia membalikkan meja dengan sekuat tenaga.
Brak!
“Aw ....” Itu bukan suara Danesh yang tertimpa meja, ataupun suara Felly dan Fenny. Tapi itu suara Papa Rey yang pinggangnya mendadak sakit akibat encok, tubuhnya yang sudah semakin berumur membuatnya tak bisa leluasa bergerak seperti saat dirinya muda.
“Cukup!” seru Felly. “Jika kalian tak menyukai suamiku, bilang saja. Kami tak akan hidup bersama dengan kalian. Untuk apa tinggal satu atap bersama orang-orang yang tak bisa menghargai orang lain,” imbuhnya.
Felly meraih tangan suaminya agar berdiri, ia tetap menggendong kucingnya untuk ia kubur nantinya. “Ayo kita berkemas, lebih baik kita tinggal berdua saja,” ajaknya.
“Tunggu ...!” seru Papa Rey menghentikan putrinya dan menantunya.
“Apa lagi? Mau mengelak? Mau memberikan alasan? Cukup, Pa! Aku sudah muak tinggal di rumah ini,” ujar Felly dengan yakin. Ia memutar tubuhnya untuk menyorot Papanya.
Papa Rey menatap Felly dan Danesh bergantian. “Jika kalian berani keluar dari rumah ini, maka jangan harap bisa menginjakkan kaki ke sini lagi,” ancamnya. Lebih tepatnya ia memberikan ancaman pada Felly.
__ADS_1
“Tak masalah, karena tugas utamaku sekarang adalah berbakti pada suamiku,” timpal Felly tak takut sama sekali.
Papa Rey membelalakkan matanya tak percaya. Putrinya yang penurut mendadak menghilang. “Silahkan kalian keluar, tapi jangan membawa satu pun barang dan harta apa pun dari rumah ini, jangan berani-beraninya kalian tinggal di hotel yang dinaungi perusahaan milik keluarga Wilson, dan tak ku izinkan kau Felly untuk bekerja lagi di Excelent Group,” ancamnya lagi.
“Oke, tak masalah. Kami akan keluar dengan kondisi seperti ini. Dan mulai besok aku tak akan bekerja lagi,” balas Felly. Ia tak memikirkan bagaimana kehidupannya selanjutnya, yang ia pikirkan hanya keselematan suaminya. Ia tak bisa yakin jika Danesh akan baik-baik saja selama tinggal di rumah besar keluarga Wilson.
Danesh masih diam. Tatapannya penuh kebencian, namun saat ini ia belum bisa melakukan apa pun untuk membalas perbuatan mertuanya dan adik iparnya itu. Tangannya terkepal erat di bawah sana.
“Ayo.” Felly kembali mengajak suaminya untuk keluar dari neraka itu.
“Kau akan menyesal telah berpihak pada pria yang asal usulnya tak jelas itu! Kau akan hidup miskin dengannya. Camkan itu!” teriak Papa Rey.
Felly berhenti sejenak untuk berbalik. “Kita lihat saja siapa yang akan menyesal,” balasnya penuh keyakinan. “Silahkan Papa urus sendiri perusahaan itu dengan usia Papa yang tak muda lagi. Atau silahkan suruh Fenny untuk menggantikanku, aku yakin tak lama lagi perusahaan itu akan bangkrut dibuatnya,” tantangnya.
Felly tahu Papanya tak akan mungkin meminta Erland untuk mengelola perusahaan. Sebab ia tahu persis Papanya tak percaya begitu saja dengan orang lain. Papanya itu berpikiran jika yang berhak atas perusahaannya hanya anggota keluarganya asli. Ia tak ingin mengambil resiko jika Erland memiliki niat jahat untuk mengakuisisi perusahaan Excelent Group.
...........
__ADS_1
Maaf ya kakak-kakak, alur ceritaku lambat. Aku kalau nulis dengan alur yang buru-buru rasanya kurang dapet feelnya. Mohon maaf sekali lagi jika tak sesuai ekspektasi kalian.
Banyak kata-kata yang kurang pantas ditiru. Kurasa banyak dari kakak-kakak sudah dewasa jadi tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mohon jangan ditiru yang buruknya, ambil yang baiknya saja.