
“Siapa yang memanggilmu, aku memanggil Geraldine. Percaya diri sekali, kau,” timpal Danesh, ia menyingkirkan tangan sepupunya itu dari pundaknya.
“Ck! Kalian itu satu keluarga, semuanya selalu mengerjaiku,” keluh Gerald langsung menarik kursi dan duduk di dekat Danesh.
Geraldine menjulurkan lidahnya pada kembarannya. “Tak ada yang mau memanggilmu, kau itu saudara yang terbuang,” ejeknya. Ia pun memberikan kecupan di pipi Danesh dan duduk di dekat kembarannya.
“Salah sendiri, Mommy dan Daddymu tak kreatif, memberikan nama yang sama pada anaknya,” kelakar Danesh. Dia dan ketiga kembarannya selalu memanggil kedua sepupu kembarnya itu dengan nama yang sama, dan berakhir mengerjai sepupu laki-lakinya.
“Tak mengaca, Mommy dan Daddymu juga tak kreatif, anak-anaknya semuanya menggunakan nama berawalan D. Padahal masih ada dua puluh lima huruf yang lainnya, kenapa harus memilih salah satu saja,” balas Gerald tak mau kalah. Ia mendengus sebal karena selalu dikerjai oleh sepupunya.
Danesh terkekeh, namun ia teringat sesuatu. “Kalian bisa berada di sini? Perjalanan bisnis?” tanyanya.
Gerald menyenggol tangan Geraldine. “Kabari tiga manusia D itu jika kita sudah menemukan kakaknya,” perintahnya.
“Kalian bersama kembaranku?”
Gerald dan Geraldine pun menganggukkan kepala mereka bersama.
__ADS_1
“Adikmu yang manja itu begitu berisik jika tak dituruti permintaannya. Tapi ada untungnya juga kami ikut, bisa sekaligus liburan dan naik pesawat pribadi keluarga kalian,” seloroh Gerald yang pelit dan perhitungan.
“Marvel juga ikut?”
“Mana mau dia, kau tahu sendiri kakakku itu tak suka hal-hal yang tak terlalu penting seperti bepergian yang tak ada untungnya untuk dia,” jawab Geraldine.
...........
“Danesh ...,” teriak Deavenny heboh. Wanita dengan celana jeans dan kaus maroon yang dibalut dengan jaket denim itu langsung berlari memeluk kakaknya. Ia menciumi seluruh wajah Danesh yang sangat ia rindukan.
“Kau membuat semua mata menatap ke arah kita, Dea,” tegur Danesh seraya mencoba mengurai pelukan adiknya.
Dariush dan Delavar berdiri, sebab kursinya hanya ada empat.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Dariush dengan tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
“Baik, bahkan coffee shop ini milikku,” ucap Danesh sombong karena ia mampu bertahan hidup selama masa hukumannya.
__ADS_1
Kelima anggota keluarga Danesh itu melongo. “Kok bisa?! Darimana kau memiliki uang?” tanya mereka bersamaan dan suara yang lantang. Hingga seluruh pengunjung menatap tak suka karena terganggu.
Danesh merasa tak enak dengan pengunjungnya, ia meminta maaf dengan mereka semua karena sudah mengganggu.
“Ayo kita di luar saja,” ajak Danesh. Ia bangkit dari duduknya dan mengayunkan kaki ke luar di mana banyak meja kosong di sana, sebab mayoritas pengunjungnya pasti memilih di dalam yang ber-ac.
Kelima saudara Danesh pun mengekor di belakang. Dan mendaratkan pantat mereka di kursi yang melingkari meja lonjong.
“Katakan pada kami, dari mana modalmu membuat usaha ini?” tanya Dariush dengan wajah seriusnya.
Danesh memberikan isyarat tangannya agar semua maju mendekat. Keenamnya pun saling mendekatkan kepala untuk mendengar penjelasan Danesh.
“Kalian ingin tahu aku memiliki modal dari mana?” Danesh mengedarkan matanya menatap satu persatu anggota keluarganya itu.
Kelimanya mengangguk penasaran.
Danesh menyunggingkan senyum jahilnya. “Aku jual diri,” ungkapnya, lalu menjauhkan tubuhnya untuk duduk normal lagi.
__ADS_1
“Apa?!” seru Dariush, Delavar, Deavenny, Gerald, dan Geraldine bersamaan dengan wajah terkejut mereka.